Bekasi, Veritika.id – Sebanyak 32 siswi kelas VII E MTs Nurul Azhar, Lubangbuaya, Setu, Kabupaten Bekasi, meluncurkan buku berjudul Jejak Pena Generasi Pembelajar: Antologi Pantun dan Puisi Siswi Kelas VII E pada Rabu (30/9/2026).
Buku yang diterbitkan MA Publishing tersebut memuat pantun dan puisi karya para siswi sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia dan program literasi di madrasah.
Peluncuran buku berlangsung di lingkungan MTs Nurul Azhar dan diisi dengan bincang buku bersama sejumlah pendidik serta pegiat sastra. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya madrasah memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan menulis melalui karya yang mereka buat sendiri.
Menulis dari Hal-Hal yang Dekat
Pantun dan puisi yang dimuat dalam buku mengangkat pendidikan sebagai tema utama. Para siswi menulis tentang kegiatan belajar, cita-cita, guru, orang tua, serta harapan untuk masa depan.
Tema tersebut dipilih dari hal-hal yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Melalui proses menulis, para siswi belajar menyusun pengalaman, perasaan, dan gagasan menjadi karya yang dapat dibaca oleh orang lain.
Kegiatan tersebut terintegrasi dengan pembelajaran Bahasa Indonesia. Siswa tidak hanya mempelajari karya sastra, tetapi juga mendapat kesempatan untuk membuat pantun dan puisi sendiri.
Proses itu memberi pengalaman bagi para siswi untuk mengenal tahapan menulis, mulai dari menentukan tema, mengembangkan ide, memilih kata, hingga menyusun karya.
Rissa Churria Apresiasi Karya Para Siswi
Dalam sesi bincang buku, Rissa Churria, pendidik, penyair, esais, prosais, pelukis, dan pengamat kebudayaan, menyampaikan pandangannya terhadap karya para siswi.
Rissa menyoroti pesan, emosi, dan imajinasi yang muncul melalui pantun dan puisi yang ditulis siswa. Menurutnya, anak-anak perlu memiliki ruang untuk menyampaikan pikiran dan perasaan melalui bahasa.
Ia juga mengajak para siswi untuk tidak berhenti menulis setelah menerbitkan buku pertama. Menurut Rissa, pengalaman tersebut dapat menjadi awal bagi mereka untuk terus membaca, menulis, mengamati lingkungan, dan mengembangkan kemampuan berkarya.
Bagi para penulis muda, proses tersebut juga menjadi kesempatan untuk mengenal kemampuan diri melalui kegiatan yang sederhana dan dilakukan secara bertahap.
Guru Mendampingi Proses Menulis
Guru bidang studi, Alif Yuliatul Laela, menjelaskan proses kreatif yang dilakukan bersama para siswi. Kegiatan menulis pantun dan puisi menjadi bagian dari pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan ide dan imajinasi.
“Di balik karya yang sederhana ini, ada harapan besar agar para siswa semakin kreatif, produktif, dan mencintai literasi,” ujarnya.
Menurut Alif, kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan sebuah buku. Para siswa juga diajak membiasakan diri membaca, berpikir, mengolah pengalaman, dan menuangkannya melalui tulisan.
Pendampingan guru menjadi bagian penting selama proses penulisan. Para siswi mendapat arahan untuk mengembangkan tema dan memperbaiki tulisan sebelum karya mereka dihimpun menjadi sebuah antologi.
Dukungan Madrasah terhadap Kegiatan Literasi
Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum MTs Nurul Azhar, Asep Syaepudin, mengapresiasi penerbitan antologi karya siswa. Menurutnya, kegiatan tersebut memberi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitas melalui tulisan.
“Di tengah era digital, literasi adalah pilar utama Profil Pelajar Pancasila dan Rahmatan lil ‘Alamin,” tegasnya.
Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan Ketua YPI Nurul Azhar, Nyinih Yuningsih. Kehadiran pengelola yayasan menunjukkan dukungan terhadap kegiatan literasi yang dilakukan oleh siswa dan guru di lingkungan madrasah.
Sesi bincang buku dipandu Putri A.M. sebagai moderator. Diskusi berlangsung secara interaktif dengan pembahasan mengenai proses penulisan, karya siswa, serta pengalaman para guru dalam mendampingi kegiatan tersebut.
Sebuah Buku dari Masa Sekolah
Bagi 32 siswi kelas VII E, penerbitan antologi ini menjadi pengalaman pertama untuk melihat karya mereka hadir sebagai sebuah buku. Setiap tulisan membawa nama penulisnya masing-masing dan menjadi bagian dari dokumentasi kegiatan belajar di madrasah.
Beberapa tahun mendatang, para siswi mungkin akan menempuh pendidikan dan memilih bidang yang berbeda. Buku tersebut dapat menjadi salah satu catatan yang mengingatkan mereka pada masa ketika mulai belajar menulis.
Jejak Pena Generasi Pembelajar akhirnya tidak hanya berisi pantun dan puisi. Buku itu juga mencatat proses belajar para siswi, pendampingan guru, serta dukungan madrasah terhadap kegiatan literasi.
Melalui karya tersebut, para siswa mendapat pengalaman bahwa menulis dapat dimulai dari hal-hal yang mereka kenal dan temui sehari-hari. Dari ruang kelas, tulisan itu kemudian hadir sebagai sebuah buku yang dapat dibaca oleh orang lain.












