BeritaSeni & Budaya

Segelas Kopi untuk Masa Depan Seni dan Ekosistem Kebudayaan di Taman Ismail Marzuki

29
×

Segelas Kopi untuk Masa Depan Seni dan Ekosistem Kebudayaan di Taman Ismail Marzuki

Sebarkan artikel ini
Forum “Ngopi Ngerumpi MPSI: Segelas Kopi untuk Ruang Seni yang Mati Suri” di pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) mempertemukan seniman, sastrawan, pekerja budaya, dan komunitas untuk membahas kondisi ekosistem seni pasca revitalisasi TIM.

Jakarta, Veritika.id – Suasana pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) pada Sabtu malam tampak berbeda. Puluhan seniman, sastrawan, pekerja budaya, dan pegiat komunitas duduk melingkar di atas karpet merah mengikuti forum bertajuk “Ngopi Ngerumpi MPSI: Segelas Kopi untuk Ruang Seni yang Mati Suri”.

Masyarakat Penggiat Seni Indonesia (MPSI) mengundang para pelaku seni untuk membicarakan berbagai persoalan yang selama beberapa tahun terakhir memuliki potensi menghancurkan ekosistem berkesenian Taman Ismail Marzuki. Perbincangan hanya ditemani secangkir teh hangat dan kopi, sementara satu kegelisahan menjadi tema utama diskusi: masa depan ruang seni dan ekosistem kebudayaan di Taman Ismail Marzuki.

Ketua Umum MPSI, Mujib Hermani, bersama Sekretaris Jenderal David Karo Karo, menginformasikan bahwa pertemuan tsb, menjadi ruang terbuka bagi siapa pun yang ingin menyampaikan pandangan, kritik, maupun harapan terhadap kondisi TIM pasca revitalisasi.

Remmy Novaris DM, salah satu seniman senior yang hadir menilai revitalisasi Taman Ismail Marzuki belum sepenuhnya diikuti dengan penguatan ekosistem kesenian. Ia mengatakan, kemegahan infrastruktur tidak sebanding dengan ruang berekspresi yang kini dirasakan semakin sempit oleh komunitas seni independen.

Taman Ismail Marzuki bukan sekadar kompleks bangunan kebudayaan. TIM adalah ruang sejarah, tempat lahirnya berbagai gagasan, karya, dan gerakan seni Indonesia. Karena itu, hilangnya aktivitas komunitas kesenian dipandang sebagai hilangnya sebagian ruh yang selama ini menjadikan TIM berbeda dari gedung-gedung pertunjukan lainnya di Jakarta.

Persoalan TIM tidak dapat diselesaikan hanya melalui pembangunan infrastruktur. Yang lebih penting adalah membangun kembali ekosistem yang memberi ruang hidup bagi seniman, komunitas, dan publik untuk berinteraksi secara bebas, kreatif, dan berkelanjutan.

Point-point penting yang menjadi keresahan seniman TIM antara lain :

  • Sulitnya akses komunitas seni independen untuk menggunakan ruang-ruang pertunjukan.
  • Biaya penggunaan fasilitas yang dinilai memberatkan sebagian komunitas seni.
  • Menurunnya frekuensi kegiatan seni yang tumbuh dari inisiatif komunitas.
  • Berkurangnya ruang diskusi, latihan, dan proses kreatif yang selama ini menjadi denyut kehidupan TIM.
  • Perlunya tata kelola yang lebih melibatkan komunitas seni dalam proses pengambilan kebijakan.
  • Aspirasi agar fungsi Wisma Seniman benar-benar menjadi rumah bagi aktivitas dan kepentingan para seniman. Keberadaan wisma tersebut saat ini belum sepenuhnya merepresentasikan kebutuhan maupun kepentingan komunitas seni sebagaimana yang mereka harapkan 
  • Pentingnya menghadirkan kembali TIM sebagai ruang publik kebudayaan yang terbuka, inklusif, dan mudah diakses seluruh lapisan masyarakat.
  • Penolakan terhadap keterlibatan Jakpro dalam pengelolaan TIM dan mengusulkan agar pengelolaan lebih berorientasi pada ekosistem kebudayaan serta melibatkan komunitas seni secara lebih luas. 

Berbagai usulan muncul, mulai dari pentingnya membangun kembali jaringan antar komunitas seni, memperkuat dialog dengan para pemangku kepentingan, hingga menyusun langkah-langkah kolektif untuk menghidupkan kembali aktivitas kesenian di kawasan TIM.

Pentingnya regenerasi gerakan. Para seniman senior mendorong agar estafet perjuangan diteruskan oleh generasi muda. Mereka diharapkan menjadi motor penggerak yang mampu merawat semangat berkesenian sekaligus memperjuangkan ruang-ruang kreatif yang lebih terbuka bagi komunitas. Regenerasi dipandang bukan sekadar pergantian usia, melainkan kesinambungan gagasan dan komitmen untuk menjaga TIM sebagai ruang kebudayaan publik.

Kemudian muncul gagasan bersama untuk melakukan gerakan menyelamatkan Taman Ismail Marzuki, menyelenggarakan unjuk karya bukan hanya unjuk rasa yang anarkis sebagai ruang penyampaian aspirasi menyuarakan kegelisahan kolektif.

Bentuknya diusulkan berupa rembuk/diskusi kebudayaan, mimbar bebas, orasi komunitas, ragam performans komunitas, panggung seni komunitas seperti pembacaan puisi, teater, musik, seni rupa, monolog, tari, dsb, sampai dengan petisi kebudayaan, hingga pertunjukan lintas disiplin yang merefleksikan kondisi dan harapan terhadap masa depan TIM. Para seniman sepakat seni dipandang sebagai medium yang paling tepat untuk menyampaikan kritik sekaligus menawarkan jalan keluar secara bermartabat.

Forum juga mengusulkan pembentukan sebuah wadah bersama yang mampu menghimpun seluruh komunitas seni lintas disiplin. Maka disepakati nama Front Penggerak Seni TIM. Forum ini diharapkan memiliki grup komunikasi daring yang terbuka bagi seniman, budayawan, pekerja kreatif, akademisi, dan komunitas untuk memudahkan diskusi dan komunikasi antar seniman bisa lebih cepat dan transparan. 

Pertemuan malam itu melahirkan satu kesepahaman bahwa dialog harus terus dilakukan. Aspirasi para pelaku seni perlu dirumuskan menjadi rekomendasi yang dapat disampaikan kepada para pemangku kebijakan agar pengelolaan TIM lebih berpihak pada kepentingan kebudayaan, ujar Mujib menyimpulkan. 

Forum diskusi ini di pandu oleh Dyah Kencono Puspito Dewi dari komunitas Satarupa, yang sekaligus menutup obrolan dan rembuk kali ini dengan pembacaan puisinya yang berisikan protes dan keprihatinan terhadap hilangnya ekosistem berkesenian yang luas.

Di tengah secangkir kopi dan lingkaran diskusi sederhana, seolah kita diingatkan kembali bahwa kemegahan sebuah pusat kesenian tidak diukur dari arsitekturnya semata, melainkan dari hidup atau matinya ruang dialog, kreativitas, dan kebebasan berkesenian di dalamnya.

Sebab gedung dapat dibangun kembali, tetapi ekosistem seni hanya dapat tumbuh apabila para senimannya benar-benar diberi ruang untuk hidup, berkarya, dan ikut menentukan arah masa depan rumah besar kebudayaan yang selama puluhan tahun mereka rawat bersama.

Kontributor Artikel : (Nuyang Jaimee).

NUYANG JAIMEE :

Mengawali karir berkesenian melalui proses teater sekitar tahun 2000an. Lalu menulis cerpen dan puisi, cerpen-cerpennya masuk di beberapa media massa besar di Jakarta, daerah dan majalah sastra, antologi cerpen bersama dalam dan luar negeri.

Begitu juga puisi-puisinya yang tersebar di berbagai antologi bersama lokal dan luar negeri. Bergabung di komunitas sastra Wanita Penulis Indonesia (WPI) dan Masyarakat Kesenian Jakarta (MKJ). Pendiri dan Direktur lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI), pendiri komunitas Keluarga Besar Penyar Seksih (KBPS) dan Kampung Seni Jakarta (KSJ).

Sampai saat ini aktif di berbagai pertemuan dan event kesenian, sebagai entertainer, pemain teater, monolog, sutradara, pemerhati dan aktifis teater dan sastra. Sebagai penulis esai, cerpen, puisi, naskah drama, skenario dan sebagai guru (pengajar/pelatih) seni di sekolah, performer dan pembaca puisi, narasumber, moderator sekaligus Master of Ceremony. Juara satu lomba baca puisi se-Asia Tenggara di Malaysia dalam acara ZKMUA. Juara dua lomba cipta puisi elaborasi karya senirupa (lukisan) oleh Satarupa. Buku Puisi tunggalnya “Pendoa Yang Lupa Nama Tuhannya” terbit tahun 2023.

(*)

Respon (2)

  1. Kirim ke email mana jika kami ingin kirim berita atau artikel kegiatan teater kami yakni teater keliling?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *