Jakarta, Veritika.id – Ada kalanya puisi tidak lagi sekadar dibacakan sebagai karya sastra. Ia berubah menjadi suara hati, ruang kritik, sekaligus penanda bahwa kebudayaan masih memiliki keberanian untuk berbicara. Itulah yang terasa pada hari kedua rangkaian “Unjuk Rasa, Unjuk Karya” yang diselenggarakan Front Penggerak Seni Taman Ismail Marzuki (FPSTIM), bertepatan dengan Hari Puisi Indonesia, Minggu (26/7), di Selasar Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Jika hari pertama diwarnai berbagai aksi simbolik mengenai pentingnya mempertahankan ruang berkesenian, maka hari kedua menghadirkan wajah yang lebih kontemplatif. Puisi, musik, tari, mural, instalasi seni, hingga manifesto kebudayaan menjadi medium untuk menyampaikan kegelisahan sekaligus harapan agar Taman Ismail Marzuki tetap menjadi ruang yang berpihak kepada kebebasan berekspresi, pendidikan seni, dan kehidupan kebudayaan Indonesia.
Sejak siang, kawasan Selasar Teater Kecil dipenuhi Lapak Perlawanan, pameran mural, arsip, dan instalasi seni yang mengajak masyarakat membaca kembali sejarah panjang Taman Ismail Marzuki. Berbagai karya visual tersebut bukan sekadar dipamerkan sebagai objek artistik, melainkan sebagai pengingat bahwa ruang kebudayaan selalu dibangun dari ingatan masyarakat, pengalaman, dan kerja kolektif para seniman.

Menjelang sore, kegiatan dilanjutkan dengan Apel Budaya yang dipimpin Dyah Kencono Puspito. Doa dipimpin Dinaldo, sementara amanat kebudayaan disampaikan oleh Mujib Hermani, Inisiator FPSTIM. Dalam amanatnya, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melihat Taman Ismail Marzuki bukan sekadar kumpulan bangunan pertunjukan, tetapi sebagai rumah bersama tempat lahirnya gagasan, kritik, kreativitas, dan regenerasi seniman.
Menurutnya, pembangunan fisik akan kehilangan makna apabila tidak disertai keberpihakan kepada kehidupan seni yang menghidupkan ruang tersebut.
Suasana kemudian memasuki peringatan Hari Puisi Indonesia melalui penampilan musik akustik Den Cupank dari Rumah Hebat Nusantara. Lagu-lagu yang dibawakannya menjadi pembuka yang hangat sebelum panggung diisi oleh para penyair dan pegiat literasi dari berbagai komunitas.

Pembacaan puisi oleh Megawati dari Komunitas Seni dan Sastra Bekasi menghadirkan refleksi tentang kemanusiaan dan kehidupan sosial. Penampilan itu dilanjutkan oleh Hanna Sania dan Nurhayati dari Rumah Baca Ceria.
Nuansa puitik semakin kuat ketika Dyah Kenconob menampilkan Tari Puisi, sebuah pertunjukan yang memadukan gerak tubuh dengan pembacaan kata-kata sebagai ekspresi batin. Panggung kemudian berlanjut melalui penampilan RJ Akustik Ridho, sebelum memasuki agenda utama bertajuk “Unjuk Rasa, Unjuk Karya”. Dalam sesi ini, sejumlah penyair dan musisi lintas generasi bergantian tampil menyampaikan karya yang berangkat dari pengalaman sosial dan kegelisahan kebudayaan.

Ina Sukma Kamariba menghadirkan pembacaan puisi yang sarat empati terhadap manusia dan ruang hidupnya. Dompax Redflag membawa energi kritik sosial melalui gaya panggung yang ekspresif. Ireng Halimun menghadirkan puisi dengan karakter reflektif yang mengajak audiens merenungkan hubungan manusia dengan sejarah dan lingkungan budayanya.
Sementara Chavchay Saefullah, memberikan orasi perjuangan sebelum menbaca puisi. Dan pembacaan puisi dari Marshal Nasution melalui puisi “Taman yang Pernah Memeluk Seniman” memberi kesempatan kita untuk merenung sejenak untuk siapa sesungguhnya sebuah ruang kebudayaan dibangun, dan siapa yang berhak menentukan masa depannya? Pertanyaan tersebut menjadi benang merah seluruh rangkaian kegiatan.
Bagi FPSTIM, persoalan yang dihadapi ruang-ruang kebudayaan saat ini bukan hanya menyangkut pengelolaan fisik, melainkan juga cara memandang kebudayaan itu sendiri. Seni tidak cukup dinilai dari nilai ekonominya. Ruang kebudayaan tidak semata diukur dari ramainya pengunjung atau megahnya bangunan. Lebih dari itu, ia harus menjadi tempat tumbuhnya kreativitas, kebebasan berpikir, dialog, pendidikan, dan regenerasi.
Menjelang malam, seluruh peserta berkumpul dalam pembacaan Manifesto dan Deklarasi Front Penggerak Seni Taman Ismail Marzuki yang dibacakan oleh Mujib Hermani, Ridho, Mila dan Dyah Kencono. Manifesto tersebut menegaskan komitmen bersama untuk menjaga Taman Ismail Marzuki sebagai ruang kebudayaan yang inklusif, demokratis, berpihak kepada masyarakat, serta terbuka bagi seluruh ekspresi seni.
Momentum itu dilanjutkan dengan penandatanganan petisi oleh keluarga besar FPSTIM bersama para seniman, komunitas, dan masyarakat yang hadir. Diiringi lagu Tanah Airku, penandatanganan tersebut menjadi simbol bahwa perjuangan menjaga ruang kebudayaan bukan hanya tanggung jawab seniman, melainkan tanggung jawab bersama sebagai bagian dari kehidupan bangsa.
Rangkaian acara kemudian ditutup melalui penampilan musik akustik Didi Hasyim dari Komunitas Condet, musikalisasi puisi oleh Heri Matahari, serta penampilan Lingkaran Band yang membawa suasana kebersamaan hingga akhir kegiatan.
Di balik seluruh pertunjukan tersebut, terdapat kerja kolektif panitia yang dipimpin Budi Renil sebagai Stage Manager bersama Mila selaku Koordinator Acara, didukung oleh para penanggung jawab bidang pameran, panggung seni, apel budaya, media, logistik, dokumentasi, dan petisi. Kolaborasi lintas komunitas itu menunjukkan bahwa gerakan kebudayaan hanya dapat tumbuh melalui gotong royong, bukan oleh kerja individu semata.
Peringatan Hari Puisi Indonesia di Taman Ismail Marzuki akhirnya menjadi lebih dari sekadar perayaan sastra. Ia menjadi ruang perjumpaan antara karya dan sikap, antara estetika dan kepedulian sosial. Melalui puisi, musik, tari, mural, dan manifesto, para seniman menyampaikan pesan bahwa kebudayaan tidak boleh tercerabut dari masyarakat yang melahirkannya.
Bagi FPSTIM, “Unjuk Rasa, Unjuk Karya” bukan sekadar aksi dua hari, melainkan ajakan untuk kembali memaknai Taman Ismail Marzuki sebagai rumah bersama tempat seni, kritik, dan kebebasan berpikir dapat tumbuh berdampingan. Sebab ketika ruang kebudayaan tetap hidup, yang terjaga bukan hanya karya-karya seni, tetapi juga ingatan kolektif, identitas, dan harapan sebuah bangsa terhadap masa depannya.
Kontributor Artikel : (Nuyang Jaimee).
NUYANG JAIMEE :
Mengawali karir berkesenian melalui proses teater sekitar tahun 2000an. Lalu menulis cerpen dan puisi, cerpen-cerpennya masuk di beberapa media massa besar di Jakarta, daerah dan majalah sastra, antologi cerpen bersama dalam dan luar negeri.
Begitu juga puisi-puisinya yang tersebar di berbagai antologi bersama lokal dan luar negeri. Bergabung di komunitas sastra Wanita Penulis Indonesia (WPI) dan Masyarakat Kesenian Jakarta (MKJ). Pendiri dan Direktur lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI), pendiri komunitas Keluarga Besar Penyar Seksih (KBPS) dan Kampung Seni Jakarta (KSJ).
Sampai saat ini aktif di berbagai pertemuan dan event kesenian, sebagai entertainer, pemain teater, monolog, sutradara, pemerhati dan aktifis teater dan sastra. Sebagai penulis esai, cerpen, puisi, naskah drama, skenario dan sebagai guru (pengajar/pelatih) seni di sekolah, performer dan pembaca puisi, narasumber, moderator sekaligus Master of Ceremony. Juara satu lomba baca puisi se-Asia Tenggara di Malaysia dalam acara ZKMUA. Juara dua lomba cipta puisi elaborasi karya senirupa (lukisan) oleh Satarupa. Buku Puisi tunggalnya “Pendoa Yang Lupa Nama Tuhannya” terbit tahun 2023.
(*)












