BeritaSeni & Budaya

Ekonomi Kolonial dan Budaya Lokal dalam Dua Puisi pada Buku Molase

3
×

Ekonomi Kolonial dan Budaya Lokal dalam Dua Puisi pada Buku Molase

Sebarkan artikel ini
Dua puisi dalam buku Molase karya Rini Intama, yaitu “Gula dan Batik” dan “Sedekah Bumi”. Puisi pertama menyoroti jejak ekonomi kolonial melalui aktivitas perdagangan dan relasi kuasa di wilayah pesisir. Puisi kedua menampilkan praktik budaya sebagai cara masyarakat menjaga hubungan dengan alam. Keduanya menunjukkan keterkaitan antara sistem ekonomi dan tradisi lokal dalam membentuk kondisi sosial.

Jakarta, Veritika.id – Kumpulan puisi Molase karya Rini Intama (ISBN 978-634-7496-08-9, Penerbit Taresia, cetakan pertama Februari 2026) menampilkan tema sosial melalui susunan yang berlapis. Dua puisi, “Gula dan Batik” dan “Sedekah Bumi”, memperlihatkan dua ranah, yaitu ekonomi-politik dan praktik budaya.

GULA DAN BATIK

kota tua yang penuh rahasia dari jalur laut

tembok yang terbuat dari darah para imigran

yang memilih menjadi pengusaha daripada buruh

tambak

perdagangan jadi puisi yang dingin

kota yang lelah setelah bertahun-tahun

menjadi persinggahan antara timur dan barat.

menyajikan realitas gelap

di masa kolonial mereka menukar garam

dengan gula dan batik

Tangerang, Juli 2025

Hal. 40 | Kumpulan Puisi Molase Rini Intama

Puisi “Gula dan Batik” menempatkan kota sebagai ruang produksi yang terbentuk melalui relasi kuasa. Larik awal menegaskan posisi pesisir sebagai jalur distribusi komoditas. Kota hadir sebagai hasil proses historis yang melibatkan eksploitasi tenaga kerja. Frasa “tembok yang terbuat dari darah para imigran” mengarah pada kekerasan struktural di balik pembangunan. Pilihan kata tersebut menunjukkan kritik terhadap fondasi ekonomi yang bertumpu pada ketimpangan.

Pernyataan “yang memilih menjadi pengusaha daripada buruh tambak” menunjukkan mobilitas sosial yang tidak setara. Pergeseran posisi kelas tetap berada pada kerangka sistem yang sama. Aktivitas perdagangan kemudian disebut sebagai “puisi yang dingin”, yang mengarah pada praktik ekonomi tanpa pertimbangan etis.

Larik “menukar garam dengan gula dan batik” merujuk pada pertukaran komoditas dalam jaringan perdagangan kolonial. Garam, gula, dan batik menjadi penanda sistem produksi yang saling terkait. Pertukaran tersebut tidak berada pada posisi setara, melainkan berada pada struktur yang dikendalikan oleh kepentingan tertentu. Puisi ini menunjukkan keterkaitan antara ekonomi, relasi kuasa, dan sejarah.

SEDEKAH BUMI

 

di Rembang, ada sedekah bumi

yang menjaga perbatasan antara sawah dan laut

tumpeng yang menjulang

dan doa melesat menuju langit

agar mengirimkan hujan

juga ombak yang tidak kejam

 

tradisi adalah tanda

sedang wajah-wajah terasa dingin.

menyimpan pesan tetua

yang mungkin telah dilupakan

bahwa semua itu pernah ada

 

seperti penari-penari dengan selendang

mengulang pesan dan gerak yang diwarisi leluhur

 

Tangerang, September 2025

Hal. 47 | Kumpulan Puisi Molase Rini Intama

Puisi “Sedekah Bumi” bergerak pada ranah berbeda. Teks ini tidak menampilkan konflik secara langsung, tetapi menunjukkan mekanisme budaya yang mengatur hubungan antara manusia dan alam. Ritual sedekah bumi dipahami sebagai bentuk pengetahuan lokal. Permohonan terhadap hujan dan laut yang tidak merusak menunjukkan ketergantungan pada kondisi ekologis.

Puisi ini juga menunjukkan pergeseran makna tradisi. Larik “wajah-wajah terasa dingin” mengarah pada perubahan sikap terhadap praktik yang dijalankan. Tradisi tetap berlangsung, tetapi tidak selalu disertai pemahaman terhadap nilai yang terkandung. Hal ini diperkuat oleh pernyataan tentang pesan tetua yang mulai dilupakan. Ritual berpotensi bergeser menjadi bentuk seremonial.

Kehadiran penari dengan selendang dapat dipahami sebagai pengulangan simbolik. Gerak yang diwariskan menunjukkan kesinambungan, sekaligus menandakan repetisi tanpa pembaruan makna. Teks ini tidak menolak tradisi, tetapi menunjukkan jarak antara praktik dan pemahaman.

Jika kedua puisi ditempatkan secara bersamaan, terlihat hubungan antara dua sistem, yaitu ekonomi dan budaya. “Gula dan Batik” menunjukkan dominasi logika produksi dan distribusi yang membentuk struktur sosial. “Sedekah Bumi” menghadirkan praktik budaya sebagai upaya menjaga keteraturan hidup. Perubahan pada sistem ekonomi turut memengaruhi cara tradisi dijalankan.

Melalui dua puisi ini, Rini Intama menunjukkan perubahan sosial yang berlangsung bertahap. Kota dan desa, perdagangan dan ritual, produksi dan pewarisan nilai, hadir dalam hubungan yang saling terkait. Puisi berfungsi sebagai medium untuk menampilkan keterkaitan tersebut tanpa disusun secara linear.

Dengan demikian, “Gula dan Batik” dan “Sedekah Bumi” menunjukkan bahwa Molase memuat kritik terhadap struktur sosial sekaligus mencatat perubahan pada praktik budaya. Kedua teks ini memperlihatkan keterkaitan antara sejarah ekonomi dan tradisi lokal dalam membentuk kondisi masyarakat saat ini.

Rini Intama adalah sastrawati dan pendidik Indonesia yang lahir di Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada 21 Februari. Minat pada sastra muncul sejak masa Sekolah Menengah Pertama dan berkembang menjadi aktivitas menulis sejak 1993. Ia menghasilkan karya berupa puisi, cerita pendek, dan novel yang dipublikasikan di surat kabar, terhimpun dalam antologi, serta diterbitkan sebagai buku tunggal oleh berbagai penerbit. Meskipun menempuh pendidikan di bidang Teknik Informatika, ia tetap menekuni dunia sastra secara konsisten.

Di luar kegiatan menulis, Rini mengelola Kiddy English & Mathematics Centre, lembaga pendidikan bagi anak usia sekolah dasar hingga tingkat lanjutan. Ia juga menulis modul pembelajaran matematika dan bahasa Inggris. Keterlibatannya di bidang sastra terlihat melalui keanggotaannya di Komunitas Penulis Nyi Mas Melati Tangerang, Komunitas Penulis Muda Indonesia, dan Komunitas Pecinta Puisi. Selain itu, ia menjabat sebagai Ketua Obor Sastra Jabodetabek serta menjadi pengurus Penyair Perempuan Indonesia.

Rini mengikuti berbagai perhelatan sastra tingkat nasional dan internasional, antara lain Pertemuan Penyair Indonesia Dari Negeri Poci, Pertemuan Penyair Nusantara, Borobudur Writers and Cultural Festival, Festival Sastra Tanjungbintan, serta International Poetry Festival Tegal Mas Island. Karya tunggalnya meliputi Gemulai Tarian Naz (2011), Tanah Ilalang di Kaki Langit (2014), A Yin (2014), Panggil Aku Layung (2015), Kidung Cisadane (2016), Hikayat Tanah Jawara (2018), Kanaya (2019), CIO TAO (2023), dan Cerita-Cerita yang Tak Pernah Kita Rayakan (2025). Ia juga berkontribusi dalam sejumlah antologi seperti Ruang Jingga (2010), Phantasy Poetica Imazonation (2010), Merapi Gugat (2011), Kado Sang Terdakwa (2011), dan Hari Raya Puisi (2018).

Atas kiprahnya, Rini Intama menerima berbagai penghargaan, antara lain Anugerah Acarya Sastra bagi Pendidik dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud (2017), penghargaan buku puisi dari Yayasan Hari Puisi Indonesia (2016, 2018, 2019), Penghargaan Cerita Terbaik Festival Drama Fakultas Pendidikan Universitas Muhammadiyah Tangerang (2018), serta nominasi Krakatau Award (2019). Karyanya juga mendapat pengakuan sebagai karya sastra unggulan dari Badan Standar Nasional Pendidikan (2019). Namanya tercatat dalam buku referensi Apa & Siapa Penyair Indonesia (2018).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *