BeritaSeni & Budaya

Perubahan Sosial dan Lingkungan dalam Kumpulan Puisi Molase Rini Intama

17
×

Perubahan Sosial dan Lingkungan dalam Kumpulan Puisi Molase Rini Intama

Sebarkan artikel ini
Kumpulan puisi Molase karya Rini Intama menggambarkan perubahan sosial dan lingkungan di pesisir utara, terutama akibat abrasi. Melalui pengalaman yang ditulis dalam rentang waktu panjang, puisi-puisi ini merekam kehidupan masyarakat, jejak sejarah industri gula, serta hubungan manusia dengan lingkungan. Buku ini juga memuat kritik terhadap kondisi sosial yang sering diabaikan.

Jakarta, Veritika.id – Buku kumpulan puisi karya Rini Intama berjudul Molase (ISBN 978-634-7496-08-9) diterbitkan oleh Taresia, Jakarta Timur, cetakan pertama Februari 2026. Buku ini merupakan karya sastra yang lahir melalui proses panjang. Penulisan berlangsung selama bertahun-tahun dan menunjukkan kesinambungan pengalaman yang diolah menjadi bentuk puisi.

Buku ini tidak disusun sebagai kajian ilmiah, melainkan sebagai refleksi pengalaman melalui bahasa sastra dengan pendekatan personal. Tema utama berkaitan dengan perubahan lanskap pesisir utara yang mengalami tekanan akibat berbagai persoalan, salah satunya abrasi. Kondisi tersebut berdampak pada lingkungan fisik serta kehidupan sosial masyarakat setempat. Kampung yang tenggelam, perubahan garis pantai, serta hilangnya ruang hidup menjadi latar yang membangun isi puisi.

Rini menggunakan konsep “perjalanan puitik” untuk menjelaskan proses kreatif yang dijalani. Istilah ini merujuk pada akumulasi pengalaman yang tidak selalu tersusun secara sistematis, tetapi tetap memiliki keterkaitan tematis. Rasa kehilangan menjadi titik awal yang kemudian berkembang menjadi berbagai bentuk pengamatan terhadap realitas sekitar. Pengalaman tersebut tidak hanya bersifat individual, tetapi juga mencerminkan kondisi masyarakat pesisir.

Molase, yang dikenal sebagai hasil sampingan industri gula, diangkat sebagai simbol utama. Pemilihan istilah ini menunjukkan upaya memberi makna pada sesuatu yang sering dianggap tidak bernilai. Dalam konteks ini, molase dipahami sebagai representasi pengalaman sosial yang kerap terabaikan, terutama yang berkaitan dengan perubahan lingkungan dan sejarah industri.

Keberadaan pabrik gula dalam puisi menunjukkan hubungan antara masa lalu dan masa kini. Industri gula memiliki peran penting dalam sejarah ekonomi, khususnya di wilayah pesisir utara. Namun, jejak tersebut tidak selalu dibicarakan secara terbuka dalam kehidupan sosial saat ini. Melalui puisi, penulis menghadirkan kembali ingatan tersebut.

Krisis yang disebutkan mencakup berbagai aspek, mulai dari lingkungan, sosial, hingga ekonomi. Abrasi pantai menjadi persoalan utama yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Perubahan ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga memunculkan ketidakpastian dalam kehidupan sehari-hari. Puisi berfungsi sebagai sarana untuk merekam perubahan tersebut sekaligus menyampaikan respons emosional.

Rini juga menampilkan pertemuan antara keindahan dan kesedihan dalam satu ruang. Kedua hal tersebut tidak diposisikan sebagai pertentangan mutlak, melainkan sebagai bagian dari realitas yang kompleks. Puisi tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetis, tetapi juga sebagai sarana untuk memahami kondisi sosial.

Pantura digambarkan sebagai jalur yang sarat peristiwa dan memori. Wilayah ini memiliki nilai geografis, historis, dan kultural. Berbagai peristiwa meninggalkan jejak yang masih dapat dirasakan hingga saat ini. Dalam konteks ini, puisi menjadi sarana untuk merekam pengalaman yang tidak selalu tercatat dalam dokumen resmi.

Penggunaan bahasa menunjukkan upaya menyeimbangkan struktur dan ekspresi emosional. Kata-kata berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan pengalaman yang sulit dijelaskan secara langsung. Pendekatan ini memungkinkan pemahaman terhadap isi puisi melalui berbagai lapisan makna.

Molase juga dapat dipahami sebagai bentuk kritik terhadap cara pandang yang cenderung mengabaikan hal-hal yang dianggap tidak penting. Dalam konteks sosial, hal ini berkaitan dengan marginalisasi kelompok tertentu atau pengabaian terhadap persoalan lingkungan. Melalui simbol tersebut, Rini Intama mengarahkan pemahaman pada nilai yang tersembunyi di balik sesuatu yang berada di pinggiran.

Kumpulan puisi ini menghadirkan refleksi atas hubungan antara manusia, lingkungan, dan sejarah. Puisi berfungsi sebagai sarana untuk melihat kondisi sosial yang terjadi di sekitar. Molase dapat dipahami sebagai karya yang menghubungkan pengalaman personal dengan realitas sosial.

Buku ini tidak hanya menyajikan kumpulan puisi, tetapi juga catatan tentang perubahan yang terjadi di wilayah pesisir utara. Melalui simbol molase, Rini menunjukkan bahwa sesuatu yang dianggap sisa dapat memiliki makna ketika ditempatkan pada konteks yang tepat.

Rini Intama merupakan sastrawati dan pendidik asal Garut, Jawa Barat, lahir pada 21 Februari. Kegiatan menulis dimulai sejak masa remaja dan berlanjut hingga sekarang. Ia menghasilkan karya berupa puisi, cerpen, dan novel yang dipublikasikan di media massa, antologi bersama, serta buku tunggal. Latar pendidikan Teknik Informatika tidak menghalangi aktivitasnya di bidang sastra yang dijalani secara konsisten sejak 1993.

Selain menulis, Rini mengelola Kiddy English & Mathematics Centre yang berfokus pada pendidikan anak usia sekolah. Ia juga menyusun modul pembelajaran matematika dan bahasa Inggris. Keterlibatannya di bidang sastra terlihat melalui partisipasi dalam berbagai komunitas, seperti Komunitas Penulis Nyi Mas Melati Tangerang, Komunitas Penulis Muda Indonesia, dan Komunitas Pecinta Puisi. Ia juga aktif sebagai Ketua Obor Sastra Jabodetabek serta pengurus Penyair Perempuan Indonesia.

Kiprahnya di dunia sastra ditandai dengan keikutsertaan dalam berbagai forum, baik nasional maupun internasional, seperti Pertemuan Penyair Indonesia Dari Negeri Poci, Pertemuan Penyair Nusantara, Borobudur Writers and Cultural Festival, Festival Sastra Tanjungbintan, dan International Poetry Festival Tegal Mas Island. Sejumlah karya tunggal yang telah diterbitkan antara lain Gemulai Tarian Naz (2011), Tanah Ilalang di Kaki Langit (2014), A Yin (2014), Panggil Aku Layung (2015), Kidung Cisadane (2016), Hikayat Tanah Jawara (2018), Kanaya (2019), CIO TAO (2023), serta Cerita-Cerita yang Tak Pernah Kita Rayakan (2025). Selain itu, ia turut berkontribusi dalam berbagai antologi.

Sejumlah penghargaan pernah diterima, antara lain Anugerah Acarya Sastra bagi Pendidik dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud (2017), penghargaan buku puisi dari Yayasan Hari Puisi Indonesia (2016, 2018, 2019), Penghargaan Cerita Terbaik Festival Drama Fakultas Pendidikan Universitas Muhammadiyah Tangerang (2018), serta nominasi Krakatau Award (2019). Namanya juga tercatat dalam buku referensi Apa & Siapa Penyair Indonesia (2018).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *