BeritaSeni & Budaya

Perjalanan Ayu Yulia Djohan Dari Tulisan Hingga Panggung Seni

1
×

Perjalanan Ayu Yulia Djohan Dari Tulisan Hingga Panggung Seni

Sebarkan artikel ini
Ayu Yulia Djohan dikenal sebagai penulis dan pegiat sastra yang konsisten berkarya. Ia telah menerbitkan tiga buku puisi, yaitu Jelita, Tarian Badai dalam format dwibahasa, dan Rindu Beriak di Sungai Siak. Selain menulis, kiprahnya juga terlihat melalui panggung seni lewat kolaborasi puisi dan musik bernama NyaPoe, serta keterlibatan aktif dalam berbagai komunitas budaya. Latar belakang profesionalnya tidak menghalangi semangat untuk terus berkontribusi bagi perkembangan sastra dan seni.

Jakarta, Veritika.id – Sastra menjadi wadah untuk menyalurkan gagasan, perasaan, dan pengalaman hidup. Bagi Ayu Yulia Djohan, dunia ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupannya. Ketertarikan pada seni dan tulisan membawanya menapaki jalan panjang yang kini tercatat dalam berbagai bentuk karya dan aktivitas.

Lahir di Pekanbaru, 10 Juli 1968, Ayu memulai perjalanan menulisnya dengan semangat yang terus tumbuh. Langkah pertamanya ditandai dengan penerbitan buku puisi pertama berjudul Jelita pada tahun 2017. Buku ini memuat 49 karya yang awalnya berasal dari catatan pribadi dan unggahan di media sosial, yang kemudian dibukukan atas dukungan dari sesama pegiat literasi. Kesuksesan karya ini membuatnya dicetak ulang pada tahun 2024 dan menjadi bahan diskusi dalam acara bedah buku yang digelar di Oemah Kampoeng Jatipadang.

Tidak berhenti pada satu karya, Ayu kembali menghadirkan antologi berjudul Tarian Badai pada tahun 2022. Buku ini memiliki keunikan tersendiri karena hadir dalam format dwibahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Alih bahasa yang dilakukan memungkinkan karya tersebut dapat dinikmati oleh pembaca dengan latar bahasa yang berbeda, sekaligus membuka peluang bagi sastra Indonesia untuk dikenal lebih luas.

Karya terbarunya, Serangkai Sajak Sahaja: Rindu Beriak di Sungai Siak yang terbit tahun 2024, menampilkan rangkaian tulisan tentang kehidupan, rasa sayang, rindu, dan kenangan masa lalu. Bahasa yang digunakan cenderung sederhana namun tetap indah, dengan penggunaan simbol-simbol yang memperjelas dan memperkaya isi dari setiap tulisan.

Selain menghasilkan karya tulis, kiprah Ayu juga terlihat melalui panggung seni. Ia menggabungkan puisi dengan musik dalam sebuah kolaborasi bernama NyaPoe bersama Imung. Sejak pertama kali tampil pada peluncuran buku Tarian Badai di Aula PDS HB Jassin pada Agustus 2022, bentuk pertunjukan ini telah hadir di lebih dari 25 acara kesenian dan kebudayaan. Penampilannya mencakup berbagai agenda, mulai dari peringatan Hari Batik Nasional, Festival Sastra Internasional Gunung Bintan, hingga perayaan Hari Puisi Nasional dan Haul Chairil Anwar.

Keterlibatan aktif juga terjalin melalui berbagai komunitas. Ayu bergabung dalam Teater Cakra Indonesia untuk kegiatan teatrikal puisi, serta menjadi anggota Penyair Perempuan Indonesia dan Madah Karya Nusantara. Di samping itu, peran sosialnya terlihat saat menjabat sebagai Wakil Ketua Perkumpulan Bunga Setaman, di mana ia turut mengatur kegiatan yang melibatkan berbagai kelompok usia. Pengalaman juga didapat saat dipercaya menjadi juri dalam Story Telling Competition pada Festival Bahari Indonesia – Jepang.

Latar belakang pendidikan di bidang Manajemen Keuangan dan pengalaman kerja sebagai staf keuangan serta konsultan pajak tidak menghalangi langkahnya berkarya. Justru, hal tersebut menunjukkan sisi lain dari sosok yang mampu menyeimbangkan kehidupan profesional dengan dunia kreatif. Hingga kini, Ayu Yulia Djohan terus hadir membawa karya dan kontribusi nyata bagi perkembangan sastra dan budaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *