BEIJING, Veritika.id – Sepuluh tahun setelah arbitrase Laut Cina Selatan, CGTN menyoroti kisah Genglubu, sebuah manual navigasi tulisan tangan yang telah membantu generasi nelayan Hainan berlayar jauh sebelum ada GPS.
Kisah ini membuka satu bab sejarah maritim Laut Cina Selatan yang belum banyak dikenal di luar kawasan tersebut.
Navigasi Sebelum Teknologi Modern
Jauh sebelum GPS, prakiraan cuaca, dan navigasi satelit, para pelaut Tiongkok sudah menemukan jalan mereka melintasi Laut Cina Selatan, salah satu jalur perairan tersibuk sekaligus paling menantang di dunia.
Dokumenter baru CGTN, Genglubu: Charting the South China Sea, mengupas hal itu lewat panduan navigasi kuno yang diwariskan turun-temurun oleh nelayan di Tanmen, Provinsi Hainan.
Genglubu mencatat rute, arah kompas, dan jarak pelayaran, sehingga nelayan dapat melintasi terumbu karang, pulau, dan laut lepas dengan lebih aman.
Film dokumenter ini juga mengikuti para nelayan yang menyeberangi lautan, keluarga yang menjaga pengetahuan itu, serta tradisi maritim yang menghubungkan Tiongkok dengan Asia Tenggara dan wilayah lainnya.
Mereka yang Menjaga Tradisi
Bagi orang luar, Genglubu mungkin tampak seperti kode rahasia. Hanya dengan 14 karakter Tionghoa, satu baris catatan bisa memuat informasi lengkap tentang perjalanan laut, mulai dari titik berangkat, arah, tujuan, jarak, hingga perkiraan waktu tempuh.
“Dari generasi ke generasi, para nelayan Hainan mengarungi lautan bukan untuk menguasainya, melainkan untuk mencari nafkah darinya,” kata Xin Lixue, kurator Museum Laut Cina Selatan Tiongkok.
Dokumenter ini juga menampilkan kapten kapal penangkap ikan veteran Wang Shitao, yang sejak kecil hidup dekat dengan laut.
Dalam perjalanannya, ia beberapa kali selamat dari topan dan badai besar, pengalaman yang membentuk hubungannya yang rumit dengan laut: keras, berbahaya, tetapi juga menjadi sumber penghidupan.
Jaringan Maritim Asia
Dokumenter ini juga menantang anggapan bahwa Genglubu hanya berkaitan dengan Laut Cina Selatan. Penelitian pada Genglubu Keluarga Liang menunjukkan adanya rute yang meluas hingga Singapura, Malaka, dan Indonesia, yang menandakan keterlibatan nelayan Hainan dalam jaringan perdagangan maritim regional.
Tidak semua rute dicatat dalam bentuk tulisan. Beberapa manuskrip Genglubu memadukan peta gunung dan perairan dengan sketsa garis pantai, arah kompas, kedalaman air, dan kondisi laut.
Gabungan unsur visual dan teknis itu membantu pelaut mengenali pulau, terumbu karang, dan garis pantai, sekaligus menentukan posisi mereka di laut.
Warisan yang Tetap Hidup
Kini, satelit, stasiun cuaca, dan mercusuar telah mengubah cara orang bernavigasi di Laut Cina Selatan. Namun, tujuannya tetap sama: membawa pelaut berlayar dengan aman dan kembali ke rumah.
*Genglubu: Charting the South China Sea* menelusuri tradisi maritim yang dibentuk oleh generasi orang biasa. Ini adalah kisah tentang navigasi, ingatan, dan ketahanan, sekaligus bagian dari warisan maritim bersama Asia.












