Seorang perempuan berdarah Indo-Belanda bernama Elizabeth van Kirk tumbuh di tengah masyarakat kolonial yang tidak pernah benar-benar memberinya tempat yang sederhana. Ia lahir dari seorang gundik, membawa darah Eropa sekaligus tumbuh bersama lingkungan Jawa. Sejak awal, persoalan mengenai siapa dirinya sudah melekat pada hidupnya.
Elizabeth menjadi tokoh utama dalam novel Nyi Sadikem karya Artie Ahmad, yang diterbitkan Marjin Kiri. Cerita ini mengikuti perjalanan seorang perempuan yang mengalami kekerasan, berganti nama menjadi Moerni, lalu menjalani kehidupan sebagai Nyi Sadikem, seorang gowok yang mengajarkan kehidupan rumah tangga kepada para pemuda sebelum menikah.
Novel ini membawa persoalan sejarah kolonial melalui kehidupan seorang perempuan. Tidak ada perang besar atau peristiwa politik yang menjadi pusat cerita. Masa kolonial justru hadir melalui keluarga, hubungan laki-laki dan perempuan, status sosial, perkawinan, pekerjaan, serta persoalan keturunan.
Cara semacam itu membuat sejarah terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ketika Kecantikan Tidak Selalu Membawa Keuntungan
Elizabeth digambarkan sebagai perempuan cantik dengan penampilan yang memperlihatkan darah Eropanya. Kecantikan tersebut membuat banyak laki-laki tertarik kepadanya.
Namun, perhatian laki-laki tidak membuat hidup Elizabeth menjadi lebih mudah.
Sejak muda, ia berhadapan dengan kekerasan dan ancaman. Istri sah ayah kandungnya bahkan berusaha membunuhnya. Elizabeth berhasil menyelamatkan diri dan kemudian menjalani hidup dengan nama Moerni.
Perubahan tersebut menjadi salah satu titik penting cerita. Elizabeth tidak hanya kehilangan lingkungan yang sebelumnya ia kenal. Ia juga harus meninggalkan identitas lama dan membangun kehidupan baru.
Nama Moerni menunjukkan bahwa perubahan itu bukan sekadar soal panggilan. Ia sedang mencari cara agar dapat hidup tanpa terus dibayangi masa lalu.
Di sinilah persoalan identitas mulai terasa kuat.
Elizabeth memiliki darah Eropa, tetapi kehidupan sosialnya tidak memberinya posisi yang sepenuhnya sama dengan orang Eropa. Sebagai anak seorang gundik, ia juga berada pada posisi yang rumit di tengah masyarakat Jawa.
Ia tidak sepenuhnya diterima sebagai bagian dari satu kelompok.
Keadaan itu membuat identitas Elizabeth selalu berhubungan dengan situasi sosial yang sedang dihadapinya.
Dari Elizabeth Menjadi Moerni
Perubahan nama Elizabeth menjadi Moerni dapat dibaca sebagai usaha untuk mengambil jarak dari kehidupan sebelumnya.
Namun, kehidupan baru tidak serta-merta membuat semua persoalan selesai. Ia tetap membawa pengalaman kekerasan dan masa lalu yang membentuk cara pandangnya terhadap laki-laki.
Artie Ahmad tidak menjadikan pengalaman tersebut sebagai satu-satunya sifat Elizabeth. Tokoh ini memiliki keinginan, kecerdasan, kemauan untuk bertahan, serta kemampuan membaca keadaan.
Hal itu penting karena cerita tentang perempuan yang menjadi korban kekerasan sering berhenti pada penderitaan. Nyi Sadikem mencoba bergerak lebih jauh.
Elizabeth harus mencari pekerjaan dan sumber penghasilan. Ia tidak memiliki banyak pilihan. Dari situ, perjalanan hidupnya membawanya menjadi seorang gowok.
Pilihan tersebut kemudian mengubah posisi Elizabeth di tengah masyarakat.
Gowok Bukan Sekadar Soal Seks
Bagi pembaca masa kini, istilah gowok mungkin terdengar asing. Dalam tradisi Jawa yang menjadi latar cerita, gowok merupakan perempuan yang disewa untuk mengajari pemuda mengenai kehidupan sebelum menikah.
Tugasnya mencakup tata krama, pekerjaan rumah tangga, hubungan dengan calon istri, serta pengetahuan mengenai kehidupan seksual.
Dalam novel Artie Ahmad, fungsi tersebut menjadi bagian penting dari kehidupan Nyi Sadikem.
Para pemuda datang kepadanya untuk belajar menjadi laki-laki yang siap menikah. Mereka tidak hanya membutuhkan pengetahuan mengenai hubungan seksual. Mereka juga harus memahami cara menjalani kehidupan bersama seorang perempuan.
Ada hal yang menarik dari posisi Nyi Sadikem.
Perempuan yang sebelumnya menjadi sasaran keinginan laki-laki kini justru menjadi orang yang mengajarkan laki-laki mengenai hubungan dengan perempuan.
Perubahan posisi itu membuat profesi gowok memiliki arti lebih luas daripada pekerjaan biasa.
Nyi Sadikem mempunyai pengetahuan yang dibutuhkan oleh laki-laki. Ia juga memperoleh penghasilan dari pengetahuan tersebut.
Tubuh yang sebelumnya menjadi sumber masalah bagi Elizabeth tidak lagi hanya menjadi sesuatu yang dinilai oleh orang lain. Pengalaman dan pengetahuannya menjadi bagian dari kemampuan yang ia miliki.
Perempuan dan Pengetahuan tentang Rumah Tangga
Kehadiran gowok juga memperlihatkan sesuatu yang menarik tentang pendidikan laki-laki sebelum menikah.
Seorang pemuda dari keluarga tertentu dapat dikirim untuk belajar mengenai kehidupan rumah tangga. Ia mendapat kesempatan memahami urusan yang mungkin tidak dibicarakan secara terbuka oleh keluarganya.
Dalam cerita Nyi Sadikem, para pemuda tersebut juga berasal dari lingkungan priayi.
Hal ini membuat hubungan antara gowok dan keluarga priayi menjadi penting. Para orang tua menginginkan anak laki-laki mereka siap menghadapi kehidupan pernikahan. Nyi Sadikem kemudian menjadi salah satu orang yang memberikan pengetahuan tersebut.
Ada ironi yang muncul dari keadaan ini.
Nyi Sadikem bukan bagian dari keluarga elite. Namun, pengetahuannya dibutuhkan oleh keluarga yang memiliki status sosial lebih tinggi.
Ia berada di luar lingkungan tersebut, tetapi jasanya diperlukan oleh mereka.
Posisi ini memberi Nyi Sadikem ruang tertentu untuk menentukan hubungan dengan orang lain. Ia memiliki pekerjaan dan pengetahuan yang membuatnya tidak sepenuhnya bergantung pada laki-laki.
Tubuh Perempuan dan Kekuasaan
Salah satu persoalan yang paling menarik dari Nyi Sadikem adalah cara cerita menempatkan tubuh perempuan.
Elizabeth sejak awal dikenal karena kecantikannya. Namun, tubuhnya juga menjadi sasaran kekerasan. Ia mengalami peristiwa yang membuat hubungan antara tubuh dan rasa aman menjadi persoalan besar.
Setelah menjadi Nyi Sadikem, tubuh dan seksualitas memperoleh fungsi yang berbeda.
Ia mengajarkan para pemuda tentang hubungan suami-istri. Pengetahuan yang sebelumnya dapat digunakan laki-laki untuk menekan perempuan justru berada di tangan seorang perempuan yang mengajarkannya kepada laki-laki.
Perubahan tersebut tidak otomatis menghapus ketimpangan antara laki-laki dan perempuan. Nyi Sadikem tetap bekerja di tengah masyarakat yang menempatkan laki-laki sebagai pusat kehidupan keluarga.
Namun, ia memiliki ruang untuk berbicara dan menentukan pekerjaannya sendiri.
Di sinilah tokoh Nyi Sadikem menjadi lebih menarik daripada sekadar gambaran perempuan yang menderita.
Ia tidak selalu menang. Ia juga tidak bebas sepenuhnya. Akan tetapi, ia terus mencari ruang yang memungkinkan dirinya mengambil keputusan.
Pernikahan yang Tidak Selalu Soal Cinta
Kehadiran keluarga priayi membawa persoalan lain: perkawinan.
Dalam lingkungan sosial tertentu, perkawinan tidak hanya menyangkut hubungan dua orang. Status keluarga, kedudukan sosial, serta kepentingan tertentu dapat ikut menentukan pasangan.
Para pemuda yang datang kepada Nyi Sadikem harus mempersiapkan diri menghadapi kehidupan tersebut.
Gowok kemudian menjadi tempat mereka belajar sebelum memasuki rumah tangga.
Melalui bagian ini, Artie Ahmad memperlihatkan perbedaan antara pengalaman laki-laki dan perempuan. Laki-laki memperoleh ruang untuk belajar mengenai kehidupan rumah tangga dan seksualitas. Sementara itu, perempuan yang kelak menjadi pasangan mereka belum tentu memperoleh ruang yang sama.
Persoalan tersebut membuat pembaca dapat melihat bahwa pengetahuan mengenai pernikahan juga berkaitan dengan kuasa.
Siapa yang boleh belajar?
Siapa yang boleh mengajar?
Dan siapa yang akhirnya menentukan aturan kehidupan rumah tangga?
Novel tidak harus menjawab semua pertanyaan tersebut secara langsung. Perjalanan Nyi Sadikem sudah cukup untuk menunjukkan persoalannya.
Perempuan yang Tidak Mau Didefinisikan oleh Masa Lalu
Elizabeth pernah menjadi korban. Namun, ia tidak berhenti sebagai korban.
Ia membangun kehidupan baru dengan nama Moerni. Kemudian, ia dikenal sebagai Nyi Sadikem.
Perubahan nama tersebut mengikuti perubahan posisi sosialnya. Ia tidak lagi hanya dikenal melalui hubungan keluarga atau asal-usulnya. Ia mempunyai pekerjaan dan dikenal karena pengetahuan yang dimilikinya.
Karakter semacam ini membuat Elizabeth tidak mudah ditempatkan sebagai tokoh perempuan yang hanya “kuat”.
Istilah tersebut sering membuat perjalanan tokoh menjadi terlalu sederhana.
Elizabeth tetap mempunyai luka. Ia tetap berhadapan dengan keterbatasan. Ia juga hidup di tengah masyarakat yang memberikan ruang berbeda bagi laki-laki dan perempuan.
Yang menarik adalah bagaimana ia menghadapi keadaan tersebut.
Ia mencari pekerjaan.
Ia memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki.
Ia menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Dan ia menentukan nama yang akan digunakan untuk menjalani kehidupannya.
Semua pilihan itu membentuk sosok Nyi Sadikem.
Sejarah dari Kehidupan Seorang Perempuan
Artie Ahmad memilih masa kolonial sebagai latar, tetapi tidak menjadikan sejarah politik sebagai pusat cerita.
Sejarah hadir melalui kehidupan Elizabeth.
Hubungan antara orang Eropa dan pribumi hadir melalui status ibunya sebagai gundik. Persoalan keturunan hadir melalui posisi Elizabeth sebagai perempuan Indo-Belanda. Ketimpangan gender hadir melalui pengalaman kekerasan dan kehidupan perkawinan. Perbedaan kelas sosial hadir melalui hubungan Nyi Sadikem dengan keluarga priayi.
Semua persoalan tersebut bertemu pada satu tokoh.
Pilihan ini membuat Nyi Sadikem dapat dibaca sebagai cerita tentang masa lalu tanpa harus menjadikan peristiwa sejarah besar sebagai pusat narasi.
Artie Ahmad juga menggunakan sudut pandang orang pertama untuk memberikan ruang kepada Elizabeth dalam menceritakan pengalaman hidupnya. Dalam diskusi mengenai novel tersebut, Artie menjelaskan bahwa pilihan tersebut berkaitan dengan usahanya menghindari stereotip terhadap perempuan Indo atau blasteran.
Pilihan tersebut membuat suara Elizabeth menjadi bagian penting dari cerita.
Pembaca tidak hanya melihat Elizabeth dari luar. Pengalaman tokoh menjadi jalur utama untuk mengikuti perubahan hidupnya.
Antara Luka dan Kemauan untuk Bertahan
Ada satu persoalan yang patut dicermati ketika membaca novel ini: penderitaan Elizabeth cukup kuat membentuk perjalanan hidupnya.
Kekerasan seksual menjadi salah satu pengalaman yang tidak dapat dilepaskan dari perjalanan tokoh. Hal tersebut membuat tubuh perempuan terus hadir sebagai ruang konflik.
Namun, Artie Ahmad tidak menjadikan luka sebagai akhir perjalanan.
Elizabeth kemudian memiliki pekerjaan, pengetahuan, serta posisi sosial tertentu melalui profesinya sebagai gowok.
Perubahan itu membuat cerita bergerak dari korban menuju seseorang yang memiliki kemampuan menentukan pilihan.
Meski begitu, kehidupan Nyi Sadikem bukan cerita pembebasan yang sederhana. Ia tetap berada di tengah aturan sosial yang membatasi perempuan. Ia dapat mengambil keputusan tertentu, tetapi tidak berarti semua pilihan tersedia baginya.
Justru keterbatasan itulah yang membuat perjalanan tokoh terasa lebih masuk akal.
Ia bertahan bukan karena tiba-tiba memperoleh kehidupan yang sempurna.
Ia bertahan karena menemukan cara untuk menggunakan apa yang ia miliki.
Artie Ahmad dan Pilihan Tokoh Perempuan
Melalui Nyi Sadikem, Artie Ahmad menghadirkan tokoh perempuan yang tidak hanya berfungsi sebagai pasangan, ibu, korban, atau objek keinginan laki-laki.
Elizabeth mempunyai perjalanan sendiri.
Ia memiliki persoalan mengenai asal-usul, pekerjaan, tubuh, hubungan dengan laki-laki, dan nama yang melekat pada dirinya.
Pilihan Artie untuk menjadikan seorang gowok sebagai pusat cerita juga memberi ruang untuk membicarakan tradisi yang tidak banyak diketahui pembaca masa kini.
Gowok tidak hanya muncul sebagai bagian dari seksualitas. Profesi tersebut juga berkaitan dengan pendidikan, rumah tangga, status sosial, dan hubungan antara laki-laki dengan perempuan.
Melalui Nyi Sadikem, tradisi itu menjadi bagian dari perjalanan seorang perempuan yang berusaha memperoleh penghasilan sekaligus posisi di tengah masyarakat.
Ketika Nama Menjadi Pilihan
Elizabeth van Kirk, Moerni, dan Nyi Sadikem bukan sekadar tiga nama untuk satu tokoh.
Ketiganya menandai perjalanan hidup yang berbeda.
Elizabeth adalah perempuan yang lahir dengan identitas Indo-Belanda dan status sebagai anak seorang gundik.
Moerni muncul setelah ia meninggalkan kehidupan sebelumnya.
Nyi Sadikem menjadi nama yang melekat pada dirinya ketika ia menjalani pekerjaan sebagai gowok.
Pergantian tersebut memperlihatkan satu persoalan yang terus mengikuti cerita: seseorang tidak selalu menerima identitas yang diberikan kepadanya.
Ada kalanya identitas harus dinegosiasikan.
Ada saat seseorang perlu meninggalkan nama lama.
Ada pula waktu ketika nama baru menjadi cara untuk memulai hidup yang berbeda.
Itulah salah satu hal yang membuat Nyi Sadikem menarik sebagai novel fiksi sejarah. Artie Ahmad tidak hanya bercerita tentang masa kolonial, tetapi juga memperlihatkan bagaimana perubahan sosial dapat dirasakan melalui kehidupan seseorang.
Elizabeth hidup di tengah masyarakat yang menentukan banyak hal mengenai dirinya.
Namun, sepanjang cerita, ia terus mencari ruang untuk menentukan dirinya sendiri.
Pada akhirnya, Nyi Sadikem bukan hanya kisah tentang seorang perempuan yang menjadi gowok. Ia adalah cerita mengenai identitas, tubuh, pekerjaan, kelas sosial, dan pilihan hidup seorang perempuan yang tidak mau sepenuhnya ditentukan oleh keadaan yang diwariskan kepadanya.












