BeritaNasionalSeni & Budaya

Rotua Magdalena Pardede Raih Dana Indonesiaraya Lewat Karya “Pinisi adalah Kita Nusantara”

9
×

Rotua Magdalena Pardede Raih Dana Indonesiaraya Lewat Karya “Pinisi adalah Kita Nusantara”

Sebarkan artikel ini
Rotua Magdalena Pardede merupakan seniman, pengajar independen, konsultan seni, dan pembuat program seni. Melalui karya “Pinisi adalah Kita Nusantara”, ia mengangkat sejarah pelayaran, tradisi Pinisi, serta kehidupan masyarakat pesisir melalui kegiatan seni dan seminar budaya.

Rotua Magdalena Pardede meraih dukungan pendanaan Dana Indonesiaraya untuk mengembangkan karya bertajuk “Pinisi adalah Kita Nusantara: Jejak Pelayaran, Denyut Pelabuhan, dan Identitas Bahari Indonesia”.

“Pinisi adalah Kita Nusantara” mengangkat sejarah Pinisi, tradisi pembuatan kapal, pelayaran, serta kehidupan masyarakat pesisir melalui kegiatan seni dan seminar budaya.

Karya ini mengangkat Pinisi sebagai bagian dari sejarah pelayaran Nusantara, kehidupan pelabuhan, serta budaya masyarakat pesisir.

Program tersebut diwujudkan melalui seminar nasional yang mempertemukan pelaku seni dan budaya, akademisi, komunitas, mahasiswa, serta masyarakat umum untuk membahas warisan bahari Indonesia.

“Ketika membicarakan Pinisi, yang dibicarakan bukan hanya bentuk sebuah kapal, tetapi juga perjalanan manusia yang berada di baliknya. Ada perajin yang mewariskan pengetahuan, pelaut yang menempuh berbagai jalur laut, serta masyarakat pesisir yang kehidupannya berkaitan dengan pelabuhan dan perdagangan antarpulau.”

Dana Indonesiaraya merupakan program Dana Abadi Kebudayaan Pemerintah Indonesia yang dikelola oleh LPDP di bawah naungan Kementerian Kebudayaan. Program ini memberikan dukungan pendanaan bagi pelaku budaya, komunitas, serta lembaga adat untuk mengembangkan dan merawat kekayaan budaya Nusantara.

Bagi Rotua, dukungan tersebut menjadi ruang untuk mengembangkan gagasan mengenai Pinisi melalui kegiatan seni, kajian, diskusi, dan pertemuan lintas bidang. Tema yang dipilih tidak hanya membahas kapal sebagai benda budaya, tetapi juga sejarah pelayaran, kehidupan pelabuhan, serta masyarakat yang tumbuh bersama laut.

Pinisi dan Sejarah Pelayaran Nusantara

Pinisi memiliki hubungan erat dengan tradisi masyarakat Sulawesi Selatan. Pengetahuan mengenai pembuatan kapal diwariskan dari generasi ke generasi oleh para perajin. Proses pembuatannya mencakup pemilihan bahan, perakitan bagian kapal, pemasangan layar, hingga pengetahuan mengenai kondisi laut.

UNESCO menetapkan Seni Pembuatan Perahu Pinisi sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2017. Pengakuan tersebut menjadi catatan penting bagi pengetahuan tradisional masyarakat Indonesia, khususnya tradisi pembuatan kapal yang berkembang di Sulawesi Selatan.

Sejarah Pinisi juga berkaitan dengan aktivitas pelayaran antarpulau. Kapal digunakan untuk mengangkut barang dan manusia dari satu wilayah ke wilayah lain. Jalur pelayaran tersebut mempertemukan pedagang, pelaut, serta masyarakat pesisir dari berbagai daerah.

Rotua Magdalena Pardede bertindak sebagai sutradara sekaligus konseptor. Mendra Dhany Swara menjadi asisten sutradara dan bagian dari tim produksi artistik “Pinisi adalah kita nusantara” lainnya adalah Fransiscus Dede V, Condro Jogokaryo, dan Teddy Arte.

Tradisi pelayaran Bugis-Makassar turut memberi warna pada sejarah maritim Nusantara. Aktivitas para pelaut membentuk hubungan perdagangan dan sosial yang menjangkau berbagai kawasan di Indonesia.

Pelabuhan sebagai Ruang Pertemuan

SARASEHAN MARITIM “PINISI ADALAH KITA NUSANTARA : Dari Warisan Leluhur Menuju Masa Depan Nusantara” yang nantinya menjadi bagian dari karya Rotua turut nantinya membahas posisi pelabuhan sebagai tempat bertemunya berbagai aktivitas.

Pelabuhan bukan hanya lokasi kapal bersandar. Sejak masa lalu, kawasan tersebut menjadi tempat berlangsungnya perdagangan sekaligus pertemuan masyarakat dari berbagai daerah.

Perkembangan teknologi turut mengubah bentuk dan sistem kerja pelabuhan. Perubahan tersebut menghadirkan tantangan bagi tradisi pelayaran yang masih menggunakan pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun.

Persoalan tersebut menjadi salah satu topik yang dibicarakan melalui kegiatan SARASEHAN MARITIM “PINISI ADALAH KITA NUSANTARA : Dari Warisan Leluhur Menuju Masa Depan Nusantara” Pengetahuan mengenai kapal tradisional perlu diperkenalkan kepada generasi muda melalui pendidikan, seni, dokumentasi, komunitas, dan kegiatan budaya.

Rekam Jejak Rotua Magdalena Pardede

Rotua Magdalena Pardede merupakan lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Ia aktif sebagai pengajar independen, konsultan seni, dan pembuat program seni.

Selain kegiatan tersebut, Rotua mengelola Rumah Kopi Cinta Damai serta pernah mengikuti program Artist in Residence di sejumlah lembaga internasional, antara lain Pica Institut Perth, Australia; Khasiwa Bunka, Jepang; dan Como Antonio Rati Foundation, Italia.

Rotua juga merupakan pendiri Komunitas Rumah Galeri Cinta Damai. Melalui komunitas tersebut, ia mengembangkan ruang seni yang memberi ruang bagi isu hewan dan alam.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan Rotua saat mengembangkan karya seni dan program budaya. Melalui “Pinisi adalah Kita Nusantara”, ia membawa tema maritim ke ruang diskusi yang mempertemukan seni, sejarah, budaya, pendidikan, dan kehidupan masyarakat pesisir.

Dari Kapal Menuju Cerita Nusantara

Pinisi menjadi titik awal untuk membicarakan sejarah yang lebih luas, mulai dari pengetahuan para pembuat kapal, pengalaman pelaut, jalur perdagangan, kehidupan masyarakat pesisir, hingga perubahan pelabuhan dari masa ke masa.

Karya Rotua mengajak peserta mengenal hubungan tersebut melalui seminar dan program budaya. Sejarah pelayaran diharapkan tetap dikenal generasi muda melalui berbagai kegiatan seni, pendidikan, dan dokumentasi.

Dukungan Dana Indonesiaraya memberi ruang bagi karya tersebut untuk hadir sebagai kegiatan budaya yang mengangkat Pinisi sekaligus cerita mengenai masyarakat maritim Indonesia. “Pinisi adalah Kita Nusantara” menjadi tema yang mempertemukan sejarah kapal, perjalanan manusia, kehidupan pelabuhan, dan kekayaan budaya pesisir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *