.Jakarta, Veritika.id – Puluhan seniman dan pegiat kebudayaan kembali menggelar Jumat Aksi Seni (JAS) di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jumat (7/8/2026). Aksi yang berlangsung sejak sore hingga malam itu menjadi ruang penyampaian aspirasi sekaligus konsolidasi seniman dalam menyuarakan kritik terhadap kondisi dan tata kelola TIM yang dinilai semakin menjauh dari fungsi utamanya sebagai pusat kesenian.
Aksi diawali dengan persiapan sejak pukul 13.00 WIB di area basement TIM. Sekitar pukul 15.30 WIB, peserta bergerak menuju area hotel yang berada di kompleks TIM dengan menggelar karnaval teatrikal.
Berbagai properti aksi seperti keranda, poster, pengeras suara (toa), dan atribut visual lainnya digunakan sebagai simbol kritik terhadap situasi yang mereka sebut sebagai “matinya” ruang berkesenian di TIM.
Dalam aksi tersebut, Ridho tampil sebagai orator yang menyampaikan sejumlah tuntutan dan kritik mengenai arah pengelolaan TIM. Orasi disampaikan secara bergantian menggunakan pengeras suara yang juga dioperasikan oleh Ridho, Dompak, dan Budi.
Usai aksi teatrikal, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi publik bertajuk “Carut-Marut TIM” yang dikemas dalam suasana santai sambil ngopi bersama para peserta. Diskusi menghadirkan Aquino dan Mujib sebagai narasumber, dengan moderator Dinaldo. Sementara koordinasi pembicara dilakukan oleh Budi dan David.
Beralaskan karpet sederhana, ditemani sajian kopi dan teh, para peserta membahas berbagai persoalan yang dinilai tengah dihadapi TIM, mulai dari arah pengelolaan, berkurangnya ruang ekspresi seniman, hingga pentingnya mengembalikan fungsi TIM sebagai rumah kebudayaan.
Setelah diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan mimbar bebas, memberikan kesempatan kepada seluruh peserta untuk menyampaikan pandangan, pengalaman, maupun gagasan mengenai masa depan TIM. Berbagai suara dari lintas komunitas seni mewarnai forum tersebut, mencerminkan semangat partisipasi dan solidaritas di kalangan pekerja seni.
Rangkaian kegiatan diperkirakan berakhir sekitar pukul 18.00 WIB. Sebelumnya, panitia juga telah mengurus pemberitahuan dan perizinan kegiatan kepada pihak terkait.
Jumat Aksi Seni merupakan agenda rutin yang terus diinisiasi oleh kalangan seniman sebagai ruang ekspresi, advokasi, dan dialog terbuka mengenai berbagai persoalan kesenian.
Melalui aksi damai, diskusi, dan mimbar bebas, para peserta berharap aspirasi komunitas seni dapat menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan demi terwujudnya tata kelola Taman Ismail Marzuki yang lebih berpihak pada ekosistem seni dan kebudayaan.
Kontributor Artikel : Nuyang Jaimee
NUYANG JAIMEE
Nuyang Jaimee adalah Pegiat/aktifis seni, sastra dan teater. Direktur lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI). Pendiri komunitas Keluarga Besar Penyar Seksih (KBPS) dan Kampung Seni Jakarta (KSJ). Ia juga bergabung di Komunitas WPI dan MKJ. Karya-karyanya, baik fiksi dan nonfiksi masuk di beberapa media massa di Jakarta dan daerah, selain masuk dalam portal online dan majalah sastra, juga dalam antologi bersama dalam dan luar negeri. Menginisiasi dan aktif mengikuti berbagai kegiatan, acara dan pertemuan seni, sastra dan budaya. Sebagai pembaca puisi, monolog, dan sutradara teater.
Menulis cerpen, puisi, esai, artikel, feature, juga naskah drama dan skenario. Menjadi guru (pengajar/pelatih) seni teater dan sastra di sekolah, narasumber, moderator sekaligus Master of Ceremony. Juara satu lomba baca puisi se-Asia Tenggara acara ZKMUA, Malaysia. Juara dua lomba cipta puisi elaborasi karya senirupa, Satarupa. Buku Puisi tunggalnya “Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya” terbit 2023.












