BeritaSeni & Budaya

Zirah Kesadaran Karya KaNA Fuddy Prakoso “Identitas dan Lapisan Pertahanan”

14
×

Zirah Kesadaran Karya KaNA Fuddy Prakoso “Identitas dan Lapisan Pertahanan”

Sebarkan artikel ini
“Zirah Kesadaran” (2026) karya KaNA Fuddy Prakoso merupakan instalasi yang menyoroti hubungan antara perlindungan dan kerentanan. Ditampilkan dalam pameran Indonesian Women Artists #4: On The Map di , karya ini menghadirkan dua patung berzirah sebagai representasi dua sisi manusia. Penggunaan kardus menekankan sifat material yang terbatas sekaligus menunjukkan sikap kritis terhadap kebiasaan konsumsi. Susunan elemen dalam instalasi mengarah pada kondisi manusia yang terus berhadapan dengan tekanan dan perubahan.

Karya instalasi “Zirah Kesadaran” (2026) oleh KaNA Fuddy Prakoso ditampilkan dalam pameran Indonesian Women Artists #4: On The Map di Galeri Nasional Indonesia.

Pameran INDONESIAN WOMEN ARTISTS #4: ON THE MAP berlangsung mulai 10 April hingga 30 Juni 2026 di Gedung A Galeri Nasional Indonesia, Jalan Medan Merdeka Timur Nomor 14, Jakarta Pusat. Pengunjung dapat menikmati karya seni setiap Selasa hingga Kamis pukul 10.00 hingga 18.00 WIB, serta Jumat hingga Minggu pukul 10.00 hingga 20.00 WIB.

Pameran ini menghadirkan dua belas perupa perempuan lintas generasi dengan fokus pada tubuh, alam, dan warisan budaya sebagai sumber pengetahuan. Karya ini berangkat dari pengalaman personal yang diarahkan pada konteks yang lebih luas.

Rujukan pada sosok Ratu Kalinyamat tidak diwujudkan sebagai figur visual. Nilai keberanian, keteguhan, serta pengendalian diri diolah sebagai dasar pemikiran yang diterjemahkan ke dalam bentuk instalasi.

Instalasi terdiri atas dua patung yang ditempatkan berdampingan. Susunan ini mengarah pada dua sisi manusia: ketegasan dan kerentanan. Keduanya tidak diposisikan sebagai lawan, melainkan hadir secara bersamaan.

Baju zirah pada kedua patung disusun berlapis. Elemen ini menandai perlindungan sekaligus beban. Zirah tidak hanya menutup tubuh, tetapi juga menunjukkan cara manusia membangun pertahanan yang dapat membatasi ruang emosional. Pada bagian pundak, bunga kenanga dari kardus digunakan sebagai penanda ingatan dan keterikatan yang bersifat personal.

Latar berupa bentuk laut dari kardus menghadirkan suasana reflektif. Laut dipahami sebagai ruang yang tidak stabil dan sulit diprediksi. Bentuk ini mengarah pada kondisi batin yang berubah. Gelombang yang tersirat menunjukkan situasi yang terus bergerak.

Di sekitar patung, beberapa baju zirah digantung secara terpisah. Elemen ini menunjukkan bahwa perlindungan tidak bersifat tetap. Ia dapat dikenakan, dilepas, atau ditinggalkan. Penempatan tersebut juga membuka kemungkinan bahwa identitas tidak tunggal.

Pemilihan kardus sebagai material utama menunjukkan sikap kritis terhadap kebiasaan konsumsi yang menekankan kecepatan dan kepraktisan. Kardus, yang umumnya digunakan sebagai kemasan, diolah menjadi bentuk lain. Material ini memperlihatkan keterbatasan sekaligus potensi perubahan.

Pameran ini dikurasi oleh Carla Bianpoen, Vidhyasuri Utami, dan Bagus Purwoadi, serta melibatkan sejumlah perupa lain. Kegiatan ini mencakup jumpa pers dan pembukaan yang diresmikan oleh Veronica Tan.

Secara keseluruhan, “Zirah Kesadaran” menempatkan manusia sebagai subjek yang berhadapan dengan tekanan, perlindungan diri, serta kondisi yang terus berubah. Karya ini tidak menawarkan jawaban, melainkan menghadirkan situasi yang dapat dipikirkan ulang melalui susunan visual yang jelas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *