Jakarta, Veritika.id – Seni rupa kontemporer sering kali berfungsi sebagai cermin yang menggambarkan kondisi sosial, budaya, dan psikologis manusia. Melalui medium dan bentuk yang beragam, seniman berupaya mengubah gagasan abstrak menjadi wujud yang dapat dirasakan dan direnungkan.
Salah satu karya yang memiliki makna luas adalah instalasi berjudul “Zirah Kesadaran” karya KaNA Fuddy Prakoso. Karya ini ditampilkan dalam pameran “INDONESIAN WOMEN ARTISTS #4: ON THE MAP” yang berlangsung di Galeri Nasional Indonesia mulai tanggal 10 April hingga 30 Juni 2026.
Inti karya ini berpusat pada penjelasan mengenai perjalanan batin manusia menghadapi tantangan hidup. Kekuatan karya ini terletak pada inspirasinya yang diambil dari sosok legendaris Nusantara, Ratu Kalinyamat.
Melalui instalasi, KaNA Fuddy Prakoso menafsirkan kembali karakter, ketangguhan, dan spiritualitas tokoh tersebut sebagai sebuah “zirah” atau perlindungan batin yang cocok bagi manusia masa kini.
Ratu Kalinyamat merupakan figur sejarah yang memiliki tempat istimewa dalam budaya Jawa. Ia dikenal bukan hanya sebagai penguasa yang cerdas dan berani mempertahankan kedaulatannya, tetapi juga sosok yang memiliki kekuatan spiritual tinggi. Dari sudut pandang filosofis, sosok ini menggambarkan perpaduan antara kekuatan fisik dan mental, serta kehalusan budi pekerti. Ia adalah contoh pemimpin dan manusia yang mampu berdiri teguh di tengah konflik dan ketidakpastian, namun tetap memegang teguh nilai kemanusiaan dan keimanan.
Filosofi yang diusung dalam karya “Zirah Kesadaran” dapat dilihat dari beberapa aspek utama. Pertama adalah keberanian menghadapi tantangan dan mempertahankan wilayah. Kedua adalah kecerdasan menyusun strategi untuk kepentingan rakyat dan negara. Ketiga adalah kekuatan spiritual yang menjadi landasan setiap tindakannya. Selain itu, Ratu Kalinyamat juga menjadi contoh nyata perempuan yang mampu memimpin dan berprestasi, membuktikan bahwa kesetaraan gender dapat terwujud meski di tengah tradisi yang kaku.
Ratu Kalinyamat tidak bertindak hanya dengan kekerasan, melainkan dengan pemahaman penuh akan jati diri dan tujuan. Inilah yang diartikan seniman sebagai “Zirah”—bukan sekadar pelindung fisik dari serangan luar, melainkan benteng diri yang menjaga agar mental tidak runtuh.
Dalam instalasi ini, seniman menampilkan dua patung yang berdiri berdampingan. Bentuk ini secara visual menggambarkan dua sisi yang ada pada diri manusia, yang juga terlihat pada sosok Ratu Kalinyamat. Sebagai pemimpin dan pejuang, ia harus tampak tegas dan kuat di hadapan musuh maupun rakyat. Namun, sebagai manusia biasa, ia pasti memiliki sisi lembut, keraguan, dan beban tanggung jawab yang berat. Konsep ini mengajak penonton memikirkan hubungan antara kekuatan dan kelemahan yang selalu ada bersama dalam kehidupan.
Kedua patung tersebut mengenakan baju zirah berlapis dua. Secara simbolis, zirah ini adalah gambaran langsung dari ketangguhan Ratu Kalinyamat. Zirah melambangkan perlindungan, disiplin, dan kesiapan menghadapi perang—baik perang nyata maupun pergulatan batin. Penggunaan zirah dua lapis juga menyiratkan pesan bahwa semakin besar tanggung jawab seseorang, semakin kuat pula pertahanan yang harus ia bangun. Di balik ketegasan yang ditampilkan, tersimpan beban pikiran dan perasaan yang tersembunyi. Hal ini mengajarkan bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak merasa takut, melainkan kemampuan untuk tetap berdiri tegak meski merasa ragu dan rapuh.
Unsur yang menyentuh dalam karya ini adalah adanya hiasan bunga kenanga yang terbuat dari kardus di bagian pundak patung. Bunga kenanga dalam budaya Nusantara bermakna kesetiaan, kasih sayang, dan kenangan. Dalam konteks ini, bunga ini mengingatkan bahwa di balik sikap keras seorang pemimpin, tetap tertanam nilai kemanusiaan. Kesetiaan pada tanah air, rasa sayang pada rakyat, dan ingatan akan masa lalu adalah hal yang tetap ada dan menjadi pendorong semangat, bahkan di situasi yang sulit.
Latar belakang karya ini didominasi bentuk yang menyerupai lautan luas, yang dibuat dari material kardus. Elemen ini menjadi ruang renung yang kuat dan berkaitan erat dengan wilayah kepemimpinan Ratu Kalinyamat yang berada di pesisir. Laut sering diartikan sebagai gambaran luasnya ilmu pengetahuan dan perjalanan hidup yang penuh perubahan.
Laut yang digambarkan di sini bukan kondisi yang tenang, melainkan representasi dari ombak kehidupan. Seperti Ratu Kalinyamat yang harus menghadapi serangan musuh dan intrik politik, manusia masa kini juga menghadapi ketidakpastian dan tekanan sosial. Kedalaman laut menyimbolkan luasnya pemahaman diri yang harus digali. Untuk memiliki kebijaksanaan seperti Ratu Kalinyamat, setiap orang harus berani mengenali diri sendiri, menghadapi rasa takut, dan memahami kompleksitas pikiran serta perasaan.
Di sekeliling patung, terdapat baju-baju zirah lain yang digantung. Ini melambangkan bahwa pemahaman diri bukanlah sesuatu yang tetap dan tidak berubah. Zirah kesadaran terus diuji, dilepas, dipakai kembali, dan diperbaiki sepanjang hidup. Proses ini mencerminkan siklus belajar dan tumbuh dewasa yang dialami setiap orang, sebagaimana seorang pemimpin yang terus menyesuaikan diri dengan zaman.
Pemilihan kardus sebagai bahan utama membuat zirah, bunga, dan latar belakang laut membawa pesan yang tajam. Kardus adalah bahan yang identik dengan zaman sekarang: ringan, praktis, murah, dan sering dianggap barang sekali pakai yang mudah rusak.
Jika dikaitkan dengan filosofi Ratu Kalinyamat yang melambangkan kekuatan dan nilai abadi, penggunaan kardus ini menjadi tinjauan sosial yang cerdas. Seniman seolah ingin mengatakan bahwa di zaman sekarang yang serba cepat dan suka mengonsumsi, pertahanan diri yang dibangun sering kali tidak kuat dan mudah hancur. Orang masa kini cenderung membuat perlindungan mental yang hanya bersifat sementara, sehingga mudah runtuh saat mendapat masalah besar.
Karya ini menegaskan bahwa perlu kembali pada ajaran ketangguhan yang ditinggalkan oleh tokoh seperti Ratu Kalinyamat. Diperlukan landasan mental yang lebih kuat daripada sekadar materi atau kepuasan sesaat. Kardus yang dibentuk menjadi zirah yang tampak kokoh adalah perumpamaan bahwa meski hidup di dunia yang tidak kekal, setiap orang tetap bisa membuat kekuatan batin yang luar biasa melalui pemahaman diri dan kebijaksanaan.
Instalasi “Zirah Kesadaran” karya KaNA Fuddy Prakoso adalah karya seni yang kaya akan makna filosofis. Dengan menjadikan sosok Ratu Kalinyamat sebagai sumber inspirasi, karya ini berhasil menghubungkan nilai-nilai masa lalu dengan tantangan hidup saat ini. Karya ini hadir dalam ruang dialog yang luas di pameran On The Map, memperkuat cerita tentang bagaimana warisan budaya dan tokoh sejarah terus memiliki arti untuk dikaji ulang.
Melalui bentuk patung, lambang zirah, gambaran laut, dan pemilihan bahan, seniman berhasil mengajak publik memikirkan arti kekuatan yang sesungguhnya. Kekuatan tidak hanya terletak pada tenaga atau jabatan, melainkan pada keteguhan hati, kekuatan spiritual, dan pemahaman akan jati diri, sebagaimana teladan Ratu Kalinyamat. “Zirah Kesadaran” mengingatkan bahwa di tengah derasnya arus kehidupan, benteng terbaik yang dimiliki adalah kesadaran diri dan cara bijak menghadapi setiap masalah.
Pameran INDONESIAN WOMEN ARTISTS #4: ON THE MAP berlangsung mulai 10 April hingga 30 Juni 2026 di Gedung A Galeri Nasional Indonesia, Jalan Medan Merdeka Timur Nomor 14, Jakarta Pusat. Pengunjung dapat menikmati karya seni setiap Selasa hingga Kamis pukul 10.00 hingga 18.00 WIB, serta Jumat hingga Minggu pukul 10.00 hingga 20.00 WIB.












