Jakarta, Veritika.id – Menghadiri kegiatan peluncuran dan pembahasan buku yang diselenggarakan di Ruang Sastra PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, pada Selasa (9/6/2026) memberikan pandangan baru mengenai bagaimana karya sastra lahir dan berkembang.
Acara yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta, Pusat Dokumen Sastra HB Jassin, dan Komunitas PojokTIM, acara ini membuka ruang untuk memahami lebih dekat proses di balik tulisan yang kita baca.
Hal yang paling menarik untuk disimak adalah penjelasan Yon Bayu Wahyono dalam bukunya berjudul Mengapa Saya Berubah: Dari Realisme Sosial ke Eksistensialisme Jawa. Selama ini, banyak orang beranggapan bahwa seorang penulis harus mempertahankan gaya dan tema yang sama sepanjang waktu agar dikenali. Namun, apa yang disampaikan menunjukkan sebaliknya. Perubahan cara menulis bukanlah hal yang aneh, melainkan wajar seiring dengan bertambahnya pengalaman dan perubahan lingkungan.
Di awal kariernya, ia banyak menulis dengan pendekatan yang memaparkan kondisi kehidupan masyarakat. Latar belakang tumbuh di lingkungan sederhana, situasi politik pada masa lalu, serta keyakinan bahwa tulisan harus menjadi saksi peristiwa membuat karyanya banyak menggambarkan dampak pembangunan, gaya hidup, dan tekanan ekonomi terhadap rakyat biasa. Seiring berjalannya waktu dan pengalaman bekerja di dunia pers, ia mulai menyadari bahwa tulisan yang hanya mengangkat masalah sosial belum menjawab seluruh pertanyaan yang ada dalam diri manusia.
Pemahaman baru muncul ketika ia mulai melihat bahwa kesulitan hidup tidak hanya bersumber dari keadaan luar, tetapi juga muncul dari dalam diri. Ia kemudian mempelajari pemikiran dari luar, namun akhirnya menemukan cara pandang yang sesuai dengan budaya sendiri. Yang disebutnya sebagai eksistensialisme Jawa memadukan pertanyaan modern dengan nilai warisan leluhur. Di sini terlihat jelas bahwa perubahan tidak berarti meninggalkan kepedulian, melainkan memperluas cara memandang kehidupan.
Di sisi lain, saya juga tertarik dengan penjelasan Nanang R. Supriyatin mengenai kumpulan cerpennya Simfoni Kata yang Berkarat. Ia menyampaikan bahwa cerita pendek ibarat memotret peristiwa, harus ringkas, fokus, dan memiliki tujuan yang jelas. Berbeda dengan tulisan panjang, bentuk ini hanya memuat satu pokok gagasan agar mudah dipahami pembaca. Yang mengagumkan adalah proses penyusunan karyanya yang memakan waktu puluhan tahun. Ditulis pertama kali pada tahun 1980-an, naskah tersebut terus diperbaiki seiring dengan perkembangan peralatan kerja, mulai dari mesin ketik hingga perangkat digital.
Ia juga menyusun urutan cerita dengan pertimbangan tertentu, mulai dari kisah yang sederhana hingga yang mengajak berpikir lebih jauh. Tema yang diangkat berpusat pada kenangan, rasa kehilangan, dan pencarian makna hidup. Sebagai penulis yang aktif sejak tahun 1980, karya-karyanya telah dimuat di berbagai media dan diterjemahkan ke bahasa asing, serta menerima sejumlah penghargaan. Hal ini menunjukkan bahwa karya yang terus dijaga dan disempurnakan akan memiliki nilai yang bertahan lama.
Selain kedua buku tersebut, acara ini juga meluncurkan karya Kisah di Toko Boneka Warna-warni tulisan Endah Wijayanti. Diskusi berlangsung dengan dihadirkan narasumber Remmy Novaris DM dan dipandu oleh Giyanto Subagio. Suasana semakin hidup dengan pembacaan cuplikan karya oleh Marina Novianti, Rissa Churria, dan Dyah Kencono Puspito Dewi.
Bagi saya, kegiatan ini membuktikan bahwa sastra bukan sekadar rangkaian kata di atas kertas. Ia adalah rekaman perjalanan, baik perjalanan penulisnya maupun gambaran zaman tempat ia hidup. Perubahan gaya, perbaikan naskah dari waktu ke waktu, serta keberagaman tema yang disajikan menunjukkan bahwa dunia tulisan selalu terbuka bagi perkembangan.
Acara seperti ini menjadi tempat yang tepat untuk mendekatkan penulis dan pembaca, agar makna di balik setiap tulisan dapat dipahami dengan lebih baik.












