Jakarta, Veritika.id – Seni rupa kontemporer sering kali berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan gagasan yang melampaui batas tampilan visual. Melalui berbagai bentuk dan material, seniman berupaya mengubah konsep abstrak menjadi wujud nyata yang dapat dirasakan maknanya. Salah satu karya yang menonjolkan kekuatan simbol adalah instalasi berjudul “Zirah Kesadaran” karya KaNA Fuddy Prakoso.
Karya ini hadir dalam pameran INDONESIAN WOMEN ARTISTS #4: ON THE MAP yang berlangsung mulai 10 April hingga 30 Juni 2026 di Gedung A Galeri Nasional Indonesia, Jalan Medan Merdeka Timur Nomor 14, Jakarta Pusat. Pengunjung dapat menikmati karya seni setiap Selasa hingga Kamis pukul 10.00 hingga 18.00 WIB, serta Jumat hingga Minggu pukul 10.00 hingga 20.00 WIB.
Penafsiran ulang terhadap objek zirah yang biasanya dikenal sebagai alat perlindungan fisik saat perang. Dalam karya ini, zirah tidak hanya dilihat sebagai benda sejarah, melainkan dimaknai sebagai benteng mental dan spiritual yang dibutuhkan manusia masa kini.
Karya ini mengambil inspirasi dari sosok Ratu Kalinyamat dan memperkenalkan kembali sejarah ratu tersebut pada publik.
Sosok Ratu Kalinyamat menjadi sumber inspirasi utama yang memperkuat makna karya ini. Ia adalah contoh nyata bagaimana seorang wanita dapat memimpin dengan tegas, berani, dan bijaksana. Di masa lalu, ia berhasil mempertahankan kedaulatannya dan melindungi rakyatnya dari berbagai ancaman. Ketangguhan yang dimilikinya bukan hanya berasal dari kekuatan fisik, melainkan dari keyakinan dan pemahaman yang kuat akan tujuan hidup.
Melalui karya ini, seniman ingin menegaskan kembali nilai-nilai yang ditinggalkan oleh tokoh seperti Ratu Kalinyamat. Karya ini menjadi bukti bahwa wanita memiliki kemampuan luar biasa untuk berdiri tegak dan memikul tanggung jawab besar. Ketangguhan wanita yang digambarkan di sini bukan berarti harus bersikap keras atau kasar, melainkan memiliki hati yang kuat dan pikiran yang jernih saat menghadapi setiap situasi.
Secara umum, zirah dikenal sebagai baju perang yang berfungsi melindungi tubuh dari serangan senjata. Namun, dalam karya KaNA Fuddy Prakoso, makna zirah diperluas hingga menyentuh aspek batiniah. Zirah diartikan sebagai tameng yang menjaga pikiran dan hati dari guncangan kehidupan.
Zirah dalam karya ini menggambarkan bahwa setiap orang membutuhkan perlindungan diri. Perlindungan tersebut bukan berarti menutup diri dari dunia luar, melainkan memiliki pondasi yang kuat agar tidak mudah goyah saat menghadapi masalah. Zirah kesadaran hadir sebagai pengingat bahwa kekuatan terbesar seseorang terletak pada kemampuan menjaga integritas dan nilai diri sendiri di tengah berbagai tekanan yang datang, sebagaimana teladan yang diberikan oleh Ratu Kalinyamat.
Dalam instalasi ini, zirah ditampilkan melalui dua patung yang berdiri berdampingan, masing-masing mengenakan baju zirah berlapis dua yang terbuat dari potongan-potongan material yang disusun rapi. Bentuk ini secara visual menunjukkan bahwa perlindungan diri memiliki tingkatan. Lapisan terluar berfungsi menahan serangan dari luar, sementara lapisan dalam berfungsi menjaga keutuhan jiwa. Penggambaran ini menyiratkan pesan bahwa semakin besar tanggung jawab yang dipikul, semakin kuat pula benteng yang harus dibangun.
Keunikan karya ini terlihat dari bentuk patung yang tidak memiliki wajah yang jelas. Hal ini memberikan ruang bagi penonton untuk merasakan entitas lain yang hadir di dalamnya. Zirah tersebut seolah menjadi wadah yang menampung jiwa dan semangat dari sosok Ratu Kalinyamat, yang hadir kembali untuk berbicara kepada generasi sekarang. Kehadiran ini terasa nyata melalui postur tubuh yang tegap dan aura yang dipancarkan, meski tidak ada gambaran wajah secara spesifik.
Di balik ketegasan dan kekuatan yang ditampilkan oleh zirah, tersimpan sisi manusiawi yang rapuh. Zirah tidak dibuat untuk menghilangkan rasa takut atau keraguan, melainkan untuk mengajarkan cara tetap berdiri tegak meski perasaan tersebut hadir. Hal ini mengajarkan bahwa menjadi tangguh bukan berarti tidak memiliki kelemahan, tetapi mampu berfungsi baik meski di dalamnya terdapat keraguan dan beban perasaan.
Salah satu aspek penting yang memperkuat makna zirah dalam karya ini adalah pemilihan material kardus. Secara logika, kardus adalah bahan yang ringan dan mudah rusak, berbanding terbalik dengan fungsi zirah yang seharusnya keras dan kuat. Penggunaan material ini membawa pesan yang jelas mengenai kondisi manusia zaman sekarang.
Di era modern yang serba cepat dan suka mengonsumsi, pertahanan mental yang dibangun sering kali hanya bersifat sementara dan rapuh. Banyak orang membangun citra kuat di luar, namun mudah hancur saat mendapat masalah besar. Melalui kardus, seniman ingin menunjukkan realitas bahwa zirah yang dimiliki mungkin tidak sekuat yang dibayangkan. Namun, di sisi lain, karya ini juga memberikan harapan. Kardus yang dibentuk dengan rapi dan kokoh mampu menyerupai zirah yang tangguh. Hal ini bermakna bahwa meski kondisi atau sumber daya yang dimiliki terbatas, setiap orang tetap bisa membuat kekuatan batin yang luar biasa melalui pemahaman diri dan kebijaksanaan, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Ratu Kalinyamat.
Instalasi “Zirah Kesadaran” karya KaNA Fuddy Prakoso berhasil mengangkat objek zirah menjadi simbol yang sangat personal dan umum. Dengan menjadikan sosok Ratu Kalinyamat sebagai sumber inspirasi, karya ini berhasil menghubungkan nilai-nilai masa lalu dengan tantangan hidup saat ini, khususnya dalam menampilkan ketangguhan wanita. Melalui bentuk visual dan pemilihan material kardus yang tepat, karya ini menyampaikan bahwa kekuatan sejati tidak diukur dari seberapa keras benda yang dipakai, melainkan dari seberapa kuat kesadaran dan keyakinan yang ada di dalam diri. Zirah ini adalah pengingat bahwa benteng terbaik adalah diri sendiri, serta bukti bahwa semangat para tokoh masa lampau tetap hadir dan dapat dirasakan hingga saat ini.












