BeritaNasional

Tim Produksi Artistik Garap “Pinisi adalah Kita Nusantara”, Telusuri Sejarah Pelayaran Nusantara

5
×

Tim Produksi Artistik Garap “Pinisi adalah Kita Nusantara”, Telusuri Sejarah Pelayaran Nusantara

Sebarkan artikel ini
Tim produksi artistik “Pinisi adalah Kita Nusantara” saat mempersiapkan penggarapan karya bertema sejarah pelayaran dan budaya maritim.Empat anggota tim produksi artistik “Pinisi adalah Kita Nusantara”: Mendra Dhany Swara, Fransiscus Dede V, Condro Jogokaryo, dan Teddy Arte.

Rotua Magdalena Pardede bersama tim produksi artistik menggarap “Pinisi adalah Kita Nusantara: Jejak Pelayaran, Denyut Pelabuhan, dan Identitas Bahari Indonesia” melalui dukungan pendanaan Dana Indonesiaraya.

“Pinisi adalah Kita Nusantara’ lahir melalui proses kerja bersama. Setiap anggota memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing, mulai dari pengembangan konsep, persiapan produksi, hingga kebutuhan artistik. Semua bagian saling terhubung melalui komunikasi dan diskusi selama proses berlangsung.

Bagi kami, kerja sama bukan sekadar membagi tugas, tetapi juga saling membantu ketika menghadapi persoalan di lapangan. Proses ini menjadi pengalaman bagi seluruh tim untuk belajar, bertukar ide, dan menyelesaikan karya secara bersama-sama.”

(Empat anggota tim produksi artistik “Pinisi adalah Kita Nusantara”: Mendra Dhany Swara, Fransiscus Dede V, Condro Jogokaryo, dan Teddy Arte).

Tim produksi artistik “Pinisi adalah Kita Nusantara” saat mempersiapkan penggarapan karya bertema sejarah pelayaran dan budaya maritim.

Karya yang dikembangkan di Indonesia ini mengangkat sejarah Pinisi, keterampilan pembuatan kapal, perjalanan pelaut, serta kehidupan masyarakat pesisir melalui kegiatan seni dan Sarasehan Maritim “Pinisi adalah Kita Nusantara: Dari Warisan Leluhur Menuju Masa Depan Nusantara” yang mempertemukan seniman, budayawan, akademisi, komunitas, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Rotua berperan sebagai sutradara sekaligus konseptor. Mendra Dhany Swara dipercaya sebagai asisten sutradara. Sementara itu, Fransiscus Dede V, Condro Jogokaryo, dan Teddy Arte menjadi bagian dari tim produksi artistik.

“Ketika membicarakan Pinisi, yang dibicarakan bukan hanya bentuk sebuah kapal, tetapi juga perjalanan manusia yang berada di baliknya. Ada perajin yang mewariskan pengetahuan, pelaut yang menempuh berbagai jalur laut, serta masyarakat pesisir yang kehidupannya berkaitan dengan pelabuhan dan perdagangan antarpulau.”

Menelusuri Tradisi Pembuatan Pinisi

Pinisi memiliki kaitan erat dengan tradisi masyarakat Sulawesi Selatan. Keterampilan membuat kapal diwariskan antargenerasi melalui proses yang mencakup pemilihan bahan, perakitan, pemasangan layar, hingga pengetahuan mengenai kondisi laut.

UNESCO menetapkan Seni Pembuatan Perahu Pinisi sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2017. Pengakuan tersebut mencatat tradisi pembuatan kapal yang berkembang di Sulawesi Selatan sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia.

Selain proses pembuatan, sejarah Pinisi tidak dapat dipisahkan dari aktivitas pelayaran antarpulau. Kapal digunakan untuk mengangkut barang dan manusia sekaligus menghubungkan berbagai wilayah.

Jalur pelayaran tersebut mempertemukan pelaut, pedagang, serta warga pesisir dari sejumlah daerah. Tradisi pelayaran Bugis-Makassar turut membentuk hubungan perdagangan dan sosial yang meluas ke berbagai kawasan Nusantara.

Sarasehan Membahas Kehidupan Pelabuhan

Pembahasan mengenai pelabuhan menjadi salah satu bagian dari program Sarasehan Maritim “Pinisi adalah Kita Nusantara: Dari Warisan Leluhur Menuju Masa Depan Nusantara”.

Pelabuhan sejak masa lalu menjadi tempat kapal berlabuh, bongkar muat barang, dan berlangsungnya perdagangan. Kawasan tersebut juga menjadi titik pertemuan orang-orang dari berbagai wilayah.

Perubahan teknologi kemudian memengaruhi cara kerja serta bentuk pelabuhan. Kondisi tersebut turut membawa perubahan bagi tradisi pelayaran yang masih mengandalkan pengetahuan yang diwariskan oleh para pendahulu.

Melalui sarasehan, persoalan tersebut dibicarakan bersama peserta dari berbagai latar. Pengetahuan mengenai kapal tradisional juga dapat diperkenalkan kepada generasi muda melalui pendidikan, seni, dokumentasi, komunitas, serta kegiatan budaya.

Tim Artistik di Balik Penggarapan Karya

Sebagai sutradara dan konseptor, Rotua Magdalena Pardede mengembangkan arah penggarapan “Pinisi adalah Kita Nusantara”. Ia didampingi Mendra Dhany Swara sebagai asisten sutradara.

Empat anggota tim produksi artistik “Pinisi adalah Kita Nusantara”: Mendra Dhany Swara, Fransiscus Dede V, Condro Jogokaryo, dan Teddy Arte.

Keterlibatan tim tersebut memberi warna pada penyajian program, terutama ketika materi sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat pesisir diterjemahkan menjadi kegiatan seni serta forum diskusi.

Perjalanan Berkesenian Rotua Magdalena Pardede

Rotua merupakan lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Ia aktif sebagai pengajar independen, konsultan seni, dan pembuat program seni.

Ia juga mengelola Rumah Kopi Cinta Damai serta pernah mengikuti program Artist in Residence di Pica Institute, Perth, Australia; Khasiwa Bunka, Jepang; dan Como Antonio Ratti Foundation, Italia.

Rotua turut mendirikan Komunitas Rumah Galeri Cinta Damai. Komunitas tersebut menjadi ruang seni yang mengangkat sejumlah isu mengenai hewan dan alam.

Pengalaman tersebut turut mendukung proses pengembangan karya “Pinisi adalah Kita Nusantara”. Melalui program ini, Rotua membawa sejarah kapal tradisional ke ruang yang mempertemukan seni, budaya, pendidikan, sejarah, serta cerita masyarakat pesisir.

Pinisi sebagai Pintu Masuk Sejarah Maritim

“Pinisi adalah Kita Nusantara” menjadikan kapal tradisional sebagai titik awal untuk membahas perjalanan manusia di wilayah kepulauan. Ceritanya mencakup perajin kapal, pelaut, jalur perdagangan, aktivitas pelabuhan, hingga kehidupan warga pesisir.

Dana Indonesiaraya memberikan dukungan pendanaan bagi pengembangan program tersebut. Dana Indonesiaraya merupakan program Dana Abadi Kebudayaan Pemerintah Indonesia yang dikelola LPDP di bawah naungan Kementerian Kebudayaan.

Bagi Rotua, dukungan tersebut menjadi ruang untuk mengembangkan karya melalui seni, kajian, diskusi, dan pertemuan lintas bidang. Pinisi ditempatkan bukan sekadar sebagai objek sejarah, tetapi sebagai bagian dari perjalanan masyarakat yang hidup dan bekerja di wilayah kepulauan.

Melalui kerja Rotua bersama Mendra Dhany Swara, Fransiscus Dede V, Condro Jogokaryo, dan Teddy Arte, “Pinisi adalah Kita Nusantara” membawa cerita mengenai kapal, pelaut, perajin, pelabuhan, serta warga pesisir ke ruang seni dan forum budaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *