Penulis : Emi Suy
Membaca waktu, ingatan, karya, dan kepulangan dalam Pameran Bersama SCAMPUR97 II
Jakarta, Veritika.id – Ada perjalanan yang dimulai dari sebuah langkah. Ada pula yang baru menemukan maknanya setelah hampir tiga puluh tahun berlalu. Pameran Bersama SCAMPUR97 II, 19 September hingga 3 Oktober 2026 di Tokonoma, membawa tema sederhana: perjalanan. Namun di antara karya-karya yang dipertemukan, perjalanan bergerak lebih jauh dari sekadar perpindahan tubuh. Ia menyeberangi waktu, ingatan, pertemuan, kehilangan, lalu pulang kepada sesuatu yang pernah ditinggalkan.
Seni Rupa IKJ angkatan 1997 pernah menjadi ruang pertemuan sejumlah anak muda yang sedang mencari bentuk dirinya. Tes masuk, papan pengumuman, penataran P4, Mata Seni, Oktaria, ruang kuliah, musik, perdebatan, pertemanan, juga berbagai kegaduhan menjadi bagian dari hari-hari yang dahulu mungkin terasa biasa. Hampir tiga puluh tahun kemudian, justru yang biasa itu yang kembali mengetuk ingatan: celana renang di ruang kuliah, suara gerinda, dangdut dan hip-hop, baju bekas dari Poncol, serta cerita-cerita absurd yang mungkin tidak pernah masuk sejarah kesenian, tetapi menetap dalam ingatan mereka yang mengalaminya.
Pameran Bersama SCAMPUR97 II menjadi ruang pertemuan antara karya, ingatan, perjalanan, dan kepulangan. Hampir tiga puluh tahun setelah menempuh jalan masing-masing, para perupa Seni Rupa IKJ angkatan 1997 kembali dipertemukan melalui karya dan cerita. Pameran ini juga mengenang sembilan rekan yang telah berpulang, sekaligus menunjukkan bahwa perjalanan hidup terus meninggalkan jejak melalui karya, persahabatan, dan ingatan.Barangkali ingatan memang tidak bekerja seperti arsip. Ia tidak selalu menyimpan yang terbesar. Kadang ia memilih sesuatu yang remeh, lalu menyimpannya paling dalam.
Angkatan 97 tumbuh dari keberagaman bunyi: alternative rock, britpop, punk, grindcore, death metal, rock ‘n’ roll, reggae, hip-hop hingga dangdut. Dari perbedaan itu tumbuh karya, persahabatan, perdebatan, pengalaman, juga kegilaan. Kemudian jalan-jalan mereka bercabang. Ada yang membawa musik, kamera, cat, keresahan, atau ingatan. Ada yang menatap ke depan, ada yang sesekali menoleh ke belakang. Sampai pada suatu titik, jalan-jalan itu kembali berpotongan, bukan karena waktu mengembalikan mereka menjadi mahasiswa, melainkan karena karya memiliki caranya sendiri untuk membuka kembali pintu masa lalu. Pameran ini pun terasa bukan sekadar ruang pajang, melainkan meja panjang tempat waktu meletakkan kembali benda-benda yang pernah tercerai.
Dalam karya-karya yang hadir, perjalanan memiliki banyak wajah: jalan dan kendaraan, jendela, sungai, sangkar, seorang anak menuju mimpi, tahapan kehidupan, benda-benda sehari-hari, hingga sebuah surga yang perlahan kehilangan dirinya. The Lost Paradise membawa perjalanan alam menuju kehilangan. Tanah dijual, laut dikuras, hutan berganti beton; surga perlahan menjadi komoditas. Di sini bukan hanya manusia yang berjalan, alam pun dipaksa menempuh perjalanan dari hijau menuju abu-abu. The Journey to Freedom menghadirkan burung dan sangkar sebagai dua kutub: batas dan keberanian untuk keluar. Kadang perjalanan menuju kebebasan tidak membutuhkan jarak yang jauh, hanya sebuah pintu yang berani dibuka. Koper pun menjadi tanda perjalanan, membawa harapan dan pengalaman, sekaligus mengingatkan bahwa manusia tidak pernah bepergian dengan tangan kosong. Ada ingatan, kecemasan, kepentingan, nama-nama, dan rumah yang ikut berangkat. Karya tidak selalu memberi jawaban; ia hanya memindahkan pertanyaan dari kepala pembuatnya kepada mata yang melihat.
Saya tertarik pada Dari Balik Jendela. Seorang anak memandang dunia dari balik kaca di Calcutta. Pandangan itu kemudian membawa ingatan pembuatnya kembali ke Terminal Cililitan pada 1980-an: bau solar, suara mesin bus, mabuk perjalanan, dan Jakarta yang perlahan mundur dari pandangan. Dua anak, dua tempat, dua zaman, satu jendela. Sesuatu yang besar ternyata bisa bermula dari sesuatu yang sederhana: rasa ingin tahu. Mungkin setiap orang memiliki jendela semacam itu, terminal, stasiun, pintu rumah, tepi sawah, halaman sekolah, atau jendela kamar; tempat kecil dari mana dunia pertama kali terlihat lebih luas. Saat itu kita belum tahu ke mana akan pergi. Kita hanya melihat, lalu berangkat.
Namun perjalanan tidak selalu berarti keberangkatan. Dalam Untaian Doa, cahaya kecil dilepaskan ke Sungai Yamuna dan mengikuti arus menuju tempat yang tidak diketahui. Doa, harapan, cinta, dan kenangan pun demikian. Ada saat ketika sesuatu harus dilepas agar menemukan jalannya sendiri. Manusia sering mengira perjalanan adalah tentang membawa sebanyak mungkin, padahal ada perjalanan tertentu yang justru meminta kita meninggalkan sesuatu, bukan karena ia tidak berharga, melainkan karena ada hal-hal yang terlalu berharga untuk terus dipaksa tinggal di tempat yang sama.
Lalu hadir sembilan nama yang tidak lagi datang secara fisik: Dwi Pramono Aji alias Calis, Dito, Priyo Wicaksono, Arief Dian Afandie, Martha Esti, Machdi Assegaf, Hilman Novayanto, Mohamad Isrofil alias Doping, dan M. Ronald Hadjarati. Mereka telah lebih dahulu menyelesaikan perjalanan. Tetapi orang yang pergi tidak serta-merta hilang. Nama masih disebut, wajah masih dikenang, tawa kembali melalui cerita, dan karya meninggalkan cahaya. Karena itu sebuah reuni tidak pernah hanya tentang mereka yang datang. Ia juga tentang mereka yang tidak sempat datang.
Hampir tiga puluh tahun mengubah tubuh, rambut, kota, dan ruang-ruang lama. Tetapi jejak tidak selalu ikut menghilang. Karya menyimpan sebagian perjalanan itu. Ia mencatat bahwa seseorang pernah melihat dunia dengan cara tertentu, pernah berharap, kehilangan, mencintai, mempertanyakan keadaan, lalu meninggalkan pandangannya dalam warna, garis, cahaya, bentuk, dan cerita. Karya bukan hanya hasil perjalanan. Ia adalah perjalanan yang diberi bentuk agar waktu tidak sepenuhnya menghapusnya.
Maka SCAMPUR97 II terasa sebagai pertemuan antara perjalanan dan kepulangan. Kita pergi untuk menemukan sesuatu, lalu kembali untuk memahami dari mana semuanya bermula. IKJ pernah menjadi titik awal. Dari sana jalan bercabang, pengalaman membawa mereka ke berbagai tempat, bertemu manusia dan realitas, lalu perlahan menjadi ingatan yang menemukan bentuknya sebagai karya. Kepulangan bukan kembali menjadi masa lalu. Kepulangan adalah datang dengan seluruh perjalanan yang telah ditempuh, dengan rambut yang mungkin memutih, nama-nama yang sebagian telah menjadi doa, karya yang tidak lagi sama, dan kesadaran bahwa hampir tiga puluh tahun ternyata dapat berlalu seperti satu tarikan napas.
Barangkali perjalanan bukan perkara seberapa jauh kita pergi, melainkan apa yang kita lihat, siapa yang kita temui, siapa yang kita kehilangan, apa yang kita lepaskan, dan apa yang masih sanggup kita bawa pulang. Hidup mungkin memang tidak pernah memberi peta yang utuh. Kita hanya diberi langkah, waktu, pertemuan, kehilangan, lalu langkah berikutnya. Sampai suatu hari, ketika menoleh ke belakang, kita menyadari: jalan yang selama ini kita kira membawa kita pergi, diam-diam sejak awal sedang mengantar kita pulang.
Jakarta, 24 September 2026












