Penulis : Rissa Churria
Jakarta, Veritika.id – Sebuah novel tidak selalu hanya mengajak pembaca mengikuti cerita. Di dalamnya bisa tersimpan gambaran mengenai masyarakat, kebudayaan, hubungan antarmanusia, bahkan cara sebuah zaman memperlakukan manusia.
Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam diskusi novel Nyi Sadikem karya Artie Ahmad bertajuk “Dari Pinggir Sejarah”, yang digelar dalam rangkaian Bertemu di Cikini: Kisah Revolusi dalam Sastra Indonesia, Jumat, 25 September 2026.
Bertempat di Ruang Akademi Jakarta/Selasar Akademi Jakarta, Lantai 14 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, diskusi menghadirkan Areispine Dymussaga Miraviori, akademisi dan peneliti independen, serta Sofyan RH Zaid, penyair dan esais. Sementara diskusi dipandu oleh Erna Winarsih Wiyono, penulis dan wartawan.
Pembahasan berkembang dari cerita dalam novel menuju persoalan yang lebih luas: bagaimana masyarakat pada masa kolonial memandang perempuan, bagaimana identitas terbentuk, serta bagaimana tradisi dan relasi kuasa memengaruhi kehidupan manusia.
Bukan Sekadar Cerita tentang Masa Lalu
Nyi Sadikem membawa pembaca ke sebuah ruang sosial yang memungkinkan masa lalu dibaca kembali melalui pengalaman tokohnya.
Dalam diskusi, novel tidak ditempatkan semata-mata sebagai cerita berlatar sejarah. Pengalaman tokoh digunakan sebagai jalan untuk melihat kehidupan sosial yang lebih luas.
Sejarah pun menjadi lebih dekat karena pembaca diajak melihat bukan hanya peristiwa besar, tetapi manusia yang berada di dalamnya.
Ada keluarga, tradisi, tubuh, hubungan laki-laki dan perempuan, persoalan kelas, serta identitas yang terus bernegosiasi dengan keadaan sosial.
Tradisi Gowok dan Kehidupan Sosial
Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah pembahasan mengenai gowok.
Tradisi tersebut menjadi bagian dari dunia yang dibangun dalam novel dan kemudian dibicarakan dari perspektif sosial dan budaya.
Gowok berkaitan dengan kehidupan calon pengantin laki-laki. Namun, dalam pembacaan yang berkembang selama diskusi, fenomena tersebut juga memperlihatkan bagaimana masyarakat membangun pemahaman mengenai maskulinitas, perkawinan, kehormatan keluarga, kesetiaan, dan hubungan antara laki-laki dengan perempuan.
Sofyan RH Zaid melihat keberadaan gowok sebagai bagian dari konstruksi sosial yang dapat dibaca melalui struktur masyarakat patriarkal.
Pembahasan ini kemudian membuka pertanyaan mengenai siapa yang memperoleh keuntungan dari suatu aturan sosial dan bagaimana posisi perempuan di dalamnya.
Perempuan dan Persoalan Tubuh
Pembicaraan mengenai gowok kemudian beririsan dengan persoalan perempuan dan tubuh.
Dalam masyarakat, tubuh perempuan kerap menjadi objek pengawasan sosial. Pengalaman seksual perempuan dapat dinilai dengan ukuran moral yang berbeda dibandingkan pengalaman seksual laki-laki.
Melalui Nyi Sadikem, persoalan tersebut dapat dibaca kembali dalam konteks zamannya.
Perempuan tidak hanya hadir sebagai objek dari aturan sosial, tetapi juga sebagai manusia yang memiliki pengalaman dan pilihan.
Di sinilah pembacaan terhadap novel bersinggungan dengan isu gender dan feminisme.
Identitas dalam Masyarakat Kolonial
Persoalan identitas juga menjadi bagian penting dalam diskusi.
Tokoh perempuan dalam Nyi Sadikem memiliki latar keturunan Belanda dan pribumi. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa identitas seseorang dalam masyarakat kolonial dapat memiliki banyak lapisan.
Identitas bukan sesuatu yang selalu sederhana dan tetap.
Lingkungan sosial, keturunan, sejarah, kelas, serta relasi kekuasaan dapat memengaruhi bagaimana seseorang dipandang dan bagaimana seseorang memahami dirinya sendiri.
Karena itu, novel memberikan kesempatan kepada pembaca untuk melihat kolonialisme dari perspektif yang lebih personal dan manusiawi.
Dari Pinggir, Sejarah Terlihat Berbeda
Tema “Dari Pinggir Sejarah” menjadi titik temu seluruh pembahasan.
Selama ini sejarah sering kali lebih mudah dikenali melalui tokoh besar, peristiwa politik, dan perubahan kekuasaan. Namun, di balik semua itu terdapat kehidupan orang-orang yang menjalani sejarah dalam keseharian.
Perempuan, masyarakat biasa, kelompok dengan identitas tertentu, dan mereka yang berada di luar pusat kekuasaan memiliki pengalaman sejarahnya sendiri.
Sastra dapat membuka ruang bagi pengalaman tersebut.
Novel memungkinkan pembaca memasuki kehidupan manusia yang mungkin tidak ditemukan dalam dokumen sejarah formal.
Membaca, Mengapresiasi, sekaligus Mengkritisi
Diskusi juga tidak berhenti pada apresiasi.
Sofyan RH Zaid memberikan apresiasi terhadap penokohan dalam Nyi Sadikem, tetapi juga menyampaikan catatan mengenai plot, alur, latar, serta tempo penceritaan.
Pembacaan kritis tersebut menjadi bagian penting dari percakapan sastra. Sebab karya sastra dapat diapresiasi sekaligus dibaca secara kritis.
Perbedaan tafsir justru memungkinkan sebuah karya memiliki kehidupan yang lebih panjang di tengah pembacanya.
Sastra sebagai Ruang Pertemuan
Diskusi Nyi Sadikem memperlihatkan bahwa sastra dapat mempertemukan berbagai bidang pemikiran.
Di satu sisi terdapat cerita dan imajinasi pengarang. Di sisi lain terdapat sejarah, budaya, gender, identitas, dan kehidupan sosial.
Semua itu bertemu dalam satu karya.
Melalui Bertemu di Cikini, novel Nyi Sadikem menjadi bahan percakapan untuk memahami bahwa sejarah tidak hanya berada di buku-buku sejarah.
Sejarah juga hidup dalam cerita manusia.
Dan sastra memberi kesempatan kepada pembaca untuk mendengarkan suara-suara yang mungkin selama ini berada di luar pusat perhatian.












