BeritaSeni & Budaya

Dari Pinggir Sejarah “Membaca Kisah Nyi Sadikem melalui Pengalaman Elizabeth van Kirk”

2
×

Dari Pinggir Sejarah “Membaca Kisah Nyi Sadikem melalui Pengalaman Elizabeth van Kirk”

Sebarkan artikel ini
Diskusi novel Nyi Sadikem karya Artie Ahmad bertajuk “Dari Pinggir Sejarah” membahas kisah Elizabeth van Kirk serta persoalan kolonialisme, gender, identitas, ras, kelas, dan posisi perempuan pada masa kolonial.Diskusi novel Nyi Sadikem karya Artie Ahmad bertajuk “Dari Pinggir Sejarah” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (25/9/2026).

Jakarta, Veritika.id – Diskusi novel Nyi Sadikem karya Artie Ahmad bertajuk “Dari Pinggir Sejarah” digelar Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) bersama Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Jumat (25/9/2026) pukul 16.30–18.00 WIB, di Ruang Akademi Jakarta/Selasar Akademi Jakarta, lantai 14 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Acara ini menghadirkan akademisi dan peneliti independen Areispine Dymussaga Miraviori serta sastrawan dan aktivis sastra Sofyan RH Zaid sebagai pembahas, dengan penulis dan wartawan Erna Winarsih Wiyono sebagai moderator.

Diskusi tersebut diselenggarakan untuk mengajak peserta melihat persoalan kolonialisme, ras, kelas, tubuh, kekerasan, gender, dan identitas melalui kisah Elizabeth van Kirk yang kemudian dikenal sebagai Nyi Sadikem.

Novel Nyi Sadikem membawa pembaca mengikuti kisah Elizabeth van Kirk, perempuan berdarah Indo-Belanda yang hidup pada masa kolonial. Riwayat hidup tokoh tersebut menjadi pintu masuk untuk melihat pengalaman seseorang yang berada di antara berbagai batas sosial dan identitas.

Kisah Elizabeth juga berkaitan dengan posisi perempuan pada masa kolonial. Status sosial, asal-usul keluarga, hubungan kuasa, serta tubuh perempuan menjadi bagian dari persoalan yang hadir melalui perjalanan tokoh tersebut.

Judul diskusi “Dari Pinggir Sejarah” menempatkan pengalaman personal sebagai salah satu cara melihat sejarah. Sejarah tidak hanya hadir melalui nama tokoh besar, kebijakan pemerintah, peperangan, atau pergantian kekuasaan. Pengalaman orang-orang yang berada di luar pusat kekuasaan juga dapat memperlihatkan sisi lain sebuah zaman.

Melalui sosok Nyi Sadikem, novel ini membawa isu mengenai identitas yang tidak selalu sederhana. Elizabeth van Kirk memiliki latar Indo-Belanda, sementara kehidupan sosialnya bersentuhan dengan lingkungan Jawa. Kondisi tersebut menghadirkan persoalan mengenai asal-usul, posisi sosial, serta cara seseorang ditempatkan oleh lingkungan sekitarnya.

Persoalan perempuan juga menjadi bagian penting dari cerita. Pada masa kolonial, hubungan antara perempuan, laki-laki, keluarga, dan kekuasaan memiliki aturan sosial yang kuat. Status sebagai nyai atau perempuan yang menjadi pasangan seorang laki-laki Eropa juga berkaitan dengan persoalan ekonomi, status sosial, serta posisi hukum.

Diskusi ini menjadi ruang untuk membicarakan cara novel mengolah sejarah melalui tokoh dan pengalaman personal. Areispine Dymussaga Miraviori hadir dengan latar sebagai akademisi dan peneliti independen, sedangkan Sofyan RH Zaid dikenal sebagai sastrawan dan aktivis sastra. Perbincangan dipandu Erna Winarsih Wiyono yang berprofesi sebagai penulis dan wartawan.

Bagi peserta, forum tersebut tidak hanya menawarkan diskusi mengenai sebuah karya sastra. Kisah Nyi Sadikem juga membuka pertanyaan mengenai siapa yang selama ini mendapat tempat lebih besar ketika sejarah ditulis dan siapa yang justru hanya muncul sebagai catatan samping.

Pemilihan novel sebagai bahan diskusi memberi ruang bagi sastra untuk mempertemukan kisah personal dengan persoalan sosial. Cerita mengenai Elizabeth dapat dibaca sebagai kisah seorang perempuan, sekaligus sebagai gambaran mengenai relasi kuasa dan kehidupan masyarakat pada masa kolonial.

Kegiatan “Bertemu di Cikini” ini diselenggarakan oleh Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) berkolaborasi dengan Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Program tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Penguatan Komunitas Sastra 2026.

Panitia juga menyediakan buku gratis bagi 15 peserta pertama yang melakukan daftar ulang di lokasi acara. Pendaftaran dilakukan melalui tautan yang disediakan panitia, yakni bit.ly/DariPinggirSejarah.

Melalui forum “Dari Pinggir Sejarah”, Nyi Sadikem ditempatkan sebagai karya yang dapat membuka percakapan mengenai sejarah, perempuan, identitas, dan relasi sosial pada masa kolonial. Kisah Elizabeth van Kirk menjadi titik awal untuk melihat pengalaman manusia yang sering kali tidak menjadi pusat cerita sejarah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *