BeritaNasionalSeni & Budaya

Sarasehan Maritim “Pinisi adalah Kita Nusantara” Bahas Warisan Pelayaran dan Masa Depan Nusantara

1
×

Sarasehan Maritim “Pinisi adalah Kita Nusantara” Bahas Warisan Pelayaran dan Masa Depan Nusantara

Sebarkan artikel ini
Sarasehan Maritim “Pinisi adalah Kita Nusantara” membahas sejarah Pinisi, tradisi pembuatan kapal, pelayaran antarpulau, kehidupan pelabuhan, serta budaya masyarakat pesisir. Dok. Pinisi adalah kita nusantara - Ade & Marcel.

Jakarta, Veritika.id – Sarasehan Maritim “Pinisi adalah Kita Nusantara: Dari Warisan Leluhur Menuju Masa Depan Nusantara” akan digelar sebagai bagian dari program seni dan budaya yang digagas Rotua Magdalena Pardede melalui karya “Pinisi adalah Kita Nusantara: Jejak Pelayaran, Denyut Pelabuhan, dan Identitas Bahari Indonesia”.

Kegiatan ini menghadirkan pelaku seni dan budaya, akademisi, komunitas, mahasiswa, serta masyarakat umum untuk membahas sejarah Pinisi, tradisi pembuatan kapal, pelayaran antarpulau, kehidupan pelabuhan, dan masyarakat pesisir. Forum tersebut diselenggarakan sebagai ruang diskusi mengenai warisan maritim Indonesia dan cara mengenalkan pengetahuan tersebut kepada generasi muda melalui seni, pendidikan, kajian, serta kegiatan budaya.

Rotua Magdalena Pardede menjadi penggagas sekaligus sutradara dan konseptor program. Mendra Dhany Swara bertugas sebagai asisten sutradara, sedangkan Fransiscus Dede V, Condro Jogokaryo, dan Teddy Arte terlibat sebagai tim produksi artistik pembuatan instalasi Pinisi adalah kita nusantara.

Sarasehan menempatkan Pinisi sebagai bahan pembicaraan untuk melihat perjalanan sejarah maritim Indonesia. Kapal tradisional tidak hanya dibahas dari bentuk dan teknik pembuatannya, tetapi juga melalui cerita para perajin, pelaut, pedagang, serta warga yang kehidupannya berkaitan dengan laut.

Membahas Warisan Pembuatan Pinisi

Pinisi memiliki kaitan erat dengan masyarakat Sulawesi Selatan. Keahlian membuat kapal diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pengetahuan tersebut mencakup pemilihan bahan, proses perakitan, pemasangan layar, serta kemampuan membaca kondisi laut.

UNESCO menetapkan Seni Pembuatan Perahu Pinisi sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2017. Penetapan tersebut menjadi catatan bagi tradisi pembuatan kapal yang berkembang di Sulawesi Selatan.

Selain keterampilan membuat kapal, Pinisi memiliki sejarah panjang terkait perjalanan antarpulau. Kapal digunakan untuk mengangkut barang dan manusia serta menghubungkan berbagai wilayah.

Tradisi pelayaran masyarakat Bugis-Makassar juga menjadi bagian dari sejarah maritim Nusantara. Perjalanan para pelaut membawa mereka ke berbagai kawasan dan membentuk hubungan perdagangan serta sosial dengan masyarakat pesisir.

Pelabuhan dan Kehidupan Masyarakat Pesisir

Pelabuhan menjadi salah satu pokok bahasan yang dibawa melalui sarasehan. Sejak masa lalu, pelabuhan menjadi tempat kapal bersandar, kegiatan bongkar muat, perdagangan, dan pertemuan orang dari berbagai daerah.

Aktivitas di pelabuhan juga berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir. Pedagang, pelaut, pekerja pelabuhan, perajin, dan warga setempat memiliki hubungan dengan aktivitas yang berlangsung di kawasan tersebut.

Perubahan teknologi kemudian memengaruhi cara kerja pelabuhan. Sistem pengangkutan, jenis kapal, serta fasilitas pelabuhan mengalami perkembangan. Perubahan tersebut turut memengaruhi tradisi pelayaran yang menggunakan kapal tradisional.

Kondisi tersebut menjadi bahan diskusi dalam Sarasehan Maritim. Peserta dapat melihat perubahan yang terjadi pada ruang pelabuhan sekaligus membicarakan posisi pengetahuan tradisional di tengah perkembangan zaman.

Mengenalkan Pengetahuan Maritim kepada Generasi Muda

Sarasehan juga menjadi ruang untuk membicarakan cara memperkenalkan sejarah dan pengetahuan maritim kepada generasi muda.

Pengenalan dapat dilakukan melalui kegiatan seni, pendidikan, dokumentasi, komunitas, serta forum budaya. Materi mengenai Pinisi dapat disampaikan melalui cerita tentang pembuat kapal, pengalaman pelaut, sejarah pelabuhan, hingga kehidupan masyarakat pesisir.

Cara tersebut membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal warisan budaya melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan mereka. Pengetahuan mengenai kapal tradisional pun tidak hanya tersimpan sebagai catatan sejarah, tetapi dapat dipelajari melalui berbagai kegiatan.

Dukungan Dana Indonesiaraya

Program “Pinisi adalah Kita Nusantara” memperoleh dukungan pendanaan Dana Indonesiaraya. Program tersebut merupakan bagian dari Dana Abadi Kebudayaan Pemerintah Indonesia yang dikelola LPDP di bawah naungan Kementerian Kebudayaan.

Dukungan pendanaan tersebut digunakan untuk mengembangkan tema Pinisi melalui kegiatan seni, kajian, diskusi, dan pertemuan lintas bidang.

Bagi Rotua, tema Pinisi memberi ruang untuk membicarakan sejarah pelayaran sekaligus kehidupan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir. Sarasehan menjadi salah satu cara untuk mempertemukan berbagai pihak yang memiliki pengetahuan dan pengalaman mengenai seni, budaya, sejarah, pendidikan, serta kehidupan maritim.

Dari Warisan Leluhur Menuju Masa Depan

“Pinisi adalah Kita Nusantara: Dari Warisan Leluhur Menuju Masa Depan Nusantara” membawa pembahasan dari sejarah menuju persoalan yang dihadapi masyarakat maritim saat ini.

Pinisi menjadi salah satu bahan untuk mengenal perjalanan pelayaran antarpulau, aktivitas perdagangan, perkembangan pelabuhan, dan kehidupan warga pesisir. Melalui forum tersebut, berbagai pengalaman dan pengetahuan dapat disampaikan oleh peserta dari latar yang berbeda.

Sarasehan Maritim menjadi bagian dari program seni dan budaya yang menghadirkan pembicaraan mengenai budaya bahari melalui forum publik. Pembahasan mengenai Pinisi pun tidak berhenti pada kapal, tetapi mencakup orang-orang yang membuat, mengoperasikan, menggunakan, dan hidup berdampingan dengan aktivitas pelayaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *