BeritaSeni & Budaya

HUJAN KEPAGIAN DAN INGATAN YANG TAK SELESAI MEMBACA KEMBALI PERANG MELALUI SASTRA

2
×

HUJAN KEPAGIAN DAN INGATAN YANG TAK SELESAI MEMBACA KEMBALI PERANG MELALUI SASTRA

Sebarkan artikel ini
Diskusi “Di Tengah-Tengah Revolusi” membahas kumpulan cerpen Hujan Kepagian karya Nugroho Notosusanto di Ruang Akademi Jakarta/Selasar Akademi Jakarta, lantai 14 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (26/9/2026). Hadir sebagai pembicara Hamzah Muhammad dan Cindy Wijaya, dengan Khairani Piliang sebagai moderator. Istri Nugroho Notosusanto bersama sejumlah anggota keluarga turut mengikuti acara hingga selesai. Kegiatan diselenggarakan Komunitas Jagat Sastra Milenia bersama Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta dan didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Penguatan Komunitas Sastra 2026.

Penulis : Rissa Churria 

Jakarta, Veritika.id – Sebuah karya sastra tak selalu selesai ketika halaman terakhir ditutup. Ada ingatan, pertanyaan, dan pengalaman manusia yang terus hidup setelah sebuah cerita berakhir. Hal itulah yang kembali mengemuka dalam diskusi “Di Tengah-Tengah Revolusi”, yang membedah kumpulan cerpen Hujan Kepagian karya Nugroho Notosusanto di Ruang Akademi Jakarta/Selasar Akademi Jakarta, lantai 14 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki, Sabtu (26/9/2026).

Diskusi yang diselenggarakan Komunitas Jagat Sastra Milenia bekerja sama dengan Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, serta didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Penguatan Komunitas Sastra 2026, menghadirkan Hamzah Muhammad dan Cindy Wijaya sebagai pembicara dengan Khairani Piliang sebagai moderator.

Enam cerpen dalam Hujan Kepagian membawa pembaca ke masa revolusi dan agresi militer Belanda. Namun, pembacaan dalam diskusi tersebut tidak berhenti pada sejarah peperangan, strategi militer, atau narasi kepahlawanan. Perhatian justru diarahkan pada manusia yang berada di balik seragam, senjata, dan garis pertempuran.

Dari Revolusi ke Kehidupan Personal

Salah satu hal yang menarik dari Hujan Kepagian adalah cara Nugroho Notosusanto menghadirkan revolusi melalui pengalaman personal.

Tokoh-tokohnya bukan sekadar prajurit yang bergerak mengikuti komando. Mereka adalah anak muda yang sebelumnya memiliki sekolah, keluarga, sahabat, rumah, dan kehidupan biasa. Ketika perang datang, semua kehidupan tersebut seolah harus ditinggalkan. Namun, menurut pembacaan dalam diskusi, masa lalu itu sesungguhnya tak pernah benar-benar hilang.

Ingatan terhadap keluarga, sahabat, dan kehidupan sebelum perang justru menjadi bagian penting yang menjaga seseorang tetap sebagai manusia.

Dengan demikian, perang dalam Hujan Kepagian dapat dibaca sebagai ruang yang memperlihatkan bagaimana manusia berhadapan dengan kehilangan, ketakutan, kematian, dan pilihan moral.

Ketika “Musuh” Kembali Menjadi Manusia

Cerpen “Bayi” menjadi salah satu contoh kuat bagaimana batas antara “kawan” dan “musuh” menjadi lebih kompleks.

Dalam situasi peperangan, seorang prajurit Indonesia dan prajurit Belanda berada di pihak yang berlawanan. Namun, ketika berhadapan dengan seorang bayi yang membutuhkan pertolongan, keduanya menemukan ruang kemanusiaan yang melampaui batas seragam.

Menariknya, hubungan tersebut tidak serta-merta menghapus posisi mereka sebagai pihak yang berperang. Setelah momen kemanusiaan itu, mereka tetap kembali ke medan tempur.

Paradoks tersebut memperlihatkan bahwa kemanusiaan dan konflik dapat hadir secara bersamaan.

Seseorang dapat berada di pihak yang berseberangan secara politik, tetapi tetap mampu bekerja sama dalam persoalan kemanusiaan.

Perang Tak Hanya Terjadi di Medan Pertempuran

Pembacaan terhadap Hujan Kepagian juga membuka ruang untuk melihat pengalaman perempuan dalam situasi perang.

Kekerasan seksual, misalnya, menunjukkan bahwa dampak perang tak berhenti pada pertempuran bersenjata. Tubuh dan kehidupan sipil pun dapat menjadi ruang berlangsungnya kekerasan.

Dalam konteks ini, istilah “pengorbanan” perlu dibaca secara kritis. Kekerasan seksual adalah kekerasan, bukan sesuatu yang semestinya dinormalisasi sebagai pilihan atau pengorbanan perempuan.

Pembacaan tersebut memperluas pemahaman bahwa sejarah perang bukan hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah, tetapi juga tentang manusia yang tubuh, kehidupan, dan masa depannya mengalami kehancuran.

Keluarga Pengarang Hadir hingga Acara Berakhir

Suasana diskusi menjadi semakin bermakna karena istri Nugroho Notosusanto bersama beberapa anggota keluarganya hadir mengikuti acara hingga selesai.

Kehadiran keluarga pengarang memberi dimensi tersendiri bagi perbincangan. Karya yang selama ini dibaca publik sebagai bagian dari sejarah sastra Indonesia kembali dipertemukan dengan keluarga dan jejak personal pengarangnya.

Namun, diskusi tetap menempatkan karya sebagai ruang pembacaan bersama. Hujan Kepagian tidak hanya dipandang sebagai peninggalan seorang pengarang, melainkan sebagai teks yang terus dapat dibaca ulang oleh generasi berbeda.

Sastra Menjaga Ingatan Tetap Hidup

Dalam diskusi tersebut, sastra juga dipandang memiliki kemampuan untuk memperhalus cara manusia memahami sejarah.

Perang dapat meninggalkan angka, nama, tanggal, dan catatan sejarah. Sastra menambahkan sesuatu yang sering kali tak tercatat dalam dokumen: suara manusia, rasa takut, kehilangan, kerinduan kepada keluarga, persahabatan, dan pergulatan batin.

Karena itu, Hujan Kepagian tetap memiliki ruang untuk dibaca pada masa kini. Bukan semata-mata untuk mengulang cerita tentang revolusi, melainkan untuk bertanya kembali tentang apa yang terjadi pada manusia ketika sejarah menempatkannya di tengah kekerasan.

Revolusi mungkin memiliki titik awal dan titik akhir dalam catatan sejarah. Namun, pengalaman manusia yang ditinggalkannya terus bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di situlah sastra bekerja: menjaga agar manusia yang pernah berada di tengah sejarah tak berubah menjadi sekadar nama dalam buku pelajaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *