BeritaSeni & Budaya

Ketika Puisi Menemukan Suara “Pingkan Sherrina dan Perjalanan September Tuarang dari Halaman Buku ke Panggung KPN+”

0
×

Ketika Puisi Menemukan Suara “Pingkan Sherrina dan Perjalanan September Tuarang dari Halaman Buku ke Panggung KPN+”

Sebarkan artikel ini
Bersama dua vokalis yang berbagi menjadi Juara Pertama di kategori Tembang Puitik, Pingkan Sherrina (berbaju pink) dan Gracia Evelin Pakpahan (bergaun biru) diapit juri Elizabeth Michelle Heryawan dan Ananda Sukarlan. Pingkan Sherrina Putri Pandeinuwu meraih Juara 1 kategori Tembang Puitik KPN Plus Region Bekasi 2026 setelah membawakan September Tuarang karya Ananda Sukarlan berdasarkan puisi Rissa Churria serta Luna dari puisi Erna Winarsih Wiyono.

Bekasi, Veritika.id – Pingkan Sherrina Putri Pandeinuwu, penyanyi berusia 11 tahun asal Tomohon, meraih Juara 1 kategori Tembang Puitik pada KPN+ Region Bekasi 2026 di Ballroom Hotel Santika Mega City Bekasi, Minggu (27/9/2026) Ia membawakan dua karya Tembang Puitik ciptaan Ananda Sukarlan, yaitu “September Tuarang” berdasarkan puisi Rissa Churria dan “Luna” berdasarkan puisi Erna Winarsih Wiyono.

Penampilan tersebut mempertemukan karya tiga seniman dengan peran berbeda. Rissa Churria menulis puisi “September Tuarang”, Ananda Sukarlan menggubahnya menjadi karya vokal, sedangkan Pingkan membawakannya melalui penampilan vokal pada kompetisi musik klasik.

Pingkan juga membawakan “Luna”, karya Ananda yang menggunakan puisi Erna Winarsih Wiyono sebagai teks. Kedua karya tersebut memiliki karakter musikal yang berbeda dan menjadi bagian dari repertoar Pingkan pada kategori Tembang Puitik.

Penampilan peserta kategori tersebut antara lain dinilai oleh Elizabeth Michelle Heryawan, salah satu juri KPN+ Region Bekasi 2026.

Ananda Sukarlan Apresiasi Penampilan Pingkan

Ananda Sukarlan memberikan apresiasi terhadap kemampuan Pingkan membawakan dua karyanya. Menurut Ananda, usia Pingkan yang masih 11 tahun menjadi salah satu hal yang menarik dari penampilan tersebut.

“Menurut saya, Pingkan ini sangat istimewa. Usia 11 tahun adalah usia yang sangat muda untuk dapat menyanyikan dua lagu saya yang cukup sulit, baik dari segi teknik, intonasi, dinamik, maupun kematangan interpretasi,” kata Ananda.

Ia menyebut “Luna” dan “September Tuarang” memiliki karakter yang berbeda.

“Selain itu, ia juga memilih dua lagu yang berkarakter kontras: ‘Luna’ (puisi Erna Winarsih Wiyono) yang tragikomik dan ‘September Tuarang’ (puisi Rissa Churria) yang melankolik-romantik,” lanjutnya.

Perbedaan tersebut membuat kedua karya membutuhkan cara penyajian yang tidak sama. Selain ketepatan nada dan teknik vokal, penyanyi perlu menyesuaikan dinamika serta ekspresi dengan karakter masing-masing karya.

September Tuarang Berasal dari Buku Risalah Nagari Natasangin

“September Tuarang” merupakan puisi karya Rissa Churria yang termuat dalam buku Risalah Nagari Natasangin. Puisi tersebut kemudian digubah Ananda Sukarlan menjadi Tembang Puitik atau art song, yaitu karya vokal yang menggunakan puisi sebagai teks.

SEPTEMBER TUARANG

(Rissa Churria)

 

Ini masih September sayang

Tetaplah menggenggam janji suci

Jangan pernah kau simpul tali ikatan

Satu kali saja tali pati agar tak pegat hingga nanti

 

Tuhan telah menulis pada arash-Nya

Nama dan wajah kita

Di tiap sudut warna warninya

Mestinya usah risau karena cuaca

 

Ini masih September sayang

Akukau masih saling bertatap

Tak perduli amuk badai melalap

Mari nikmati saja agar tak kalap

Gandeng aku pulang ke rumah cahaya, tepis gelap

 

Bekasi, 25.09.2021

Komposisi tersebut sebelumnya diperkenalkan Ananda pada pembukaan Pertemuan Penyair Nusantara XIII di Jakarta pada September 2025.

Pada KPN+ Bekasi 2026, karya itu kembali dibawakan, kali ini oleh Pingkan. Perpindahan dari teks puisi menjadi komposisi vokal membuat karya Rissa hadir melalui unsur musik seperti melodi, tempo, dinamika, artikulasi, dan karakter suara penyanyi.

Tembang Puitik memang memiliki hubungan erat antara teks dan musik. Penyanyi tidak hanya menyanyikan nada, tetapi juga menyampaikan kata-kata yang menjadi bagian dari karya.

Karena itu, pemilihan repertoar menjadi bagian penting bagi peserta. Pingkan memilih dua karya dengan karakter berbeda untuk kompetisi tersebut.

Tembang Puitik Mempertemukan Sastra dan Musik

Kategori Tembang Puitik pada KPN+ memberi ruang bagi karya puisi Indonesia untuk hadir melalui musik vokal. Peserta dapat memilih karya penyair sebagai sumber teks lagu yang mereka bawakan.

Selain Pingkan, Gracia Evelin Pakpahan meraih Juara 1 kategori Tembang Puitik Senior. Gracia membawakan “Suara dari Pengungsian”, karya Ananda Sukarlan berdasarkan puisi Nissa Rengganis, penyair kelahiran Cirebon.

Sebelumnya, Ananda mengajak peserta kategori Tembang Puitik memilih karya penyair lokal. Pilihan tersebut sekaligus memperkenalkan karya sastra Indonesia kepada penonton yang hadir pada kompetisi musik klasik.

Pingkan dan Gracia sama-sama berhak mengikuti Grand Final KPN+ 2026 di Jakarta pada 11–13 Desember. Hingga kini, keduanya belum mengumumkan repertoar yang akan dibawakan pada babak tersebut.

Dari Puisi ke Panggung Kompetisi

Perjalanan “September Tuarang” memperlihatkan perubahan bentuk sebuah karya dari puisi menjadi komposisi vokal. Rissa Churria menulisnya sebagai puisi, Ananda Sukarlan mengolahnya menjadi Tembang Puitik, kemudian Pingkan membawakannya di hadapan juri dan penonton.

Proses tersebut mempertemukan sastra dengan musik klasik melalui suara penyanyi muda. Bagi penonton, karya tersebut hadir bukan hanya sebagai teks, tetapi sebagai komposisi yang dapat didengar melalui penampilan vokal.

Kemenangan Pingkan di KPN+ Region Bekasi menambah satu tahap pada perjalanan karya tersebut. Setelah sebelumnya diperkenalkan sebagai puisi dan kemudian sebagai Tembang Puitik, “September Tuarang” kini tampil melalui seorang penyanyi berusia 11 tahun pada kompetisi musik klasik.

Perjalanan Pingkan belum selesai. Ia masih akan mengikuti Grand Final KPN+ di Jakarta pada Desember 2026 bersama para peserta yang lolos dari berbagai region.

Repertoar Pingkan untuk babak final belum diumumkan. Namun, penampilannya di Bekasi telah memperkenalkan kembali “September Tuarang” kepada penonton melalui bentuk Tembang Puitik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *