Jakarta, Veritika.id – Rotua Magdalena Pardede mengajar bidang desain di Sekolah Tinggi Desain InterStudi (STDI), Jakarta Selatan. Saat ini ia mengampu empat mata kuliah, yaitu Nirmana, Metode Reproduksi Grafika, Antropologi Budaya, dan Sejarah Komunikasi Visual.
Melalui mata kuliah tersebut, Rotua mengajak mahasiswa mengenal desain komunikasi visual bukan hanya melalui praktik menggambar atau membuat karya, tetapi juga melalui teori, sejarah, budaya, teknik produksi, pengamatan, serta proses menyampaikan pesan secara visual.
Bagi Rotua, anggapan bahwa sekolah seni dan desain hanya berkaitan dengan kemampuan menggambar perlu dilihat kembali. Pendidikan desain memiliki bidang ilmu yang cukup luas. Mahasiswa memang belajar membuat karya, tetapi mereka juga perlu memahami unsur visual, sejarah perkembangan media, proses produksi, budaya yang menjadi sumber gagasan, serta cara menyampaikan pesan kepada orang lain.
Salah satu mata kuliah yang ia ajarkan adalah Nirmana. Sebagai bagian dari dasar desain komunikasi visual, mahasiswa belajar mengenal unsur-unsur visual dan cara mengaturnya melalui latihan. Garis, bentuk, bidang, warna, tekstur, ruang, ukuran, serta komposisi menjadi bagian dari proses belajar sebelum mahasiswa masuk ke persoalan desain yang lebih kompleks.
Ada pula Metode Reproduksi Grafika. Mata kuliah ini membawa mahasiswa mengenal sejarah teknik cetak hingga perkembangan teknologi digital. Mereka mempelajari perubahan cara manusia menggandakan dan menghasilkan karya visual, mulai dari teknik cetak yang berkembang pada masa lalu hingga proses produksi yang menggunakan teknologi digital.
Pengetahuan mengenai proses cetak menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dunia desain. Seorang desainer tidak hanya perlu menghasilkan visual, tetapi juga memahami bagaimana karya tersebut diproduksi melalui media tertentu. Perubahan teknologi turut mengubah cara kerja industri desain, sehingga mahasiswa perlu mengenal perjalanan teknologi tersebut.
Mata kuliah Antropologi Budaya membawa mahasiswa pada wilayah yang berbeda. Mereka diajak melihat, mengamati, memahami, menerjemahkan, lalu mempresentasikan berbagai persoalan budaya melalui desain komunikasi visual.
Tradisi lokal Nusantara dapat menjadi bahan kajian. Mahasiswa mempelajari sebuah tradisi, mencari informasi mengenai latar budayanya, mengamati unsur yang ada, lalu mengolah hasil kajian tersebut menjadi karya visual. Proses ini membuat mahasiswa tidak sekadar mengambil bentuk budaya sebagai hiasan, tetapi belajar memahami sumber yang mereka gunakan sebelum menjadikannya bagian dari karya desain.
Sementara itu, Sejarah Komunikasi Visual memperkenalkan perkembangan cara manusia menyampaikan pesan melalui gambar, simbol, tulisan, media cetak, hingga media digital. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa komunikasi visual terus berubah mengikuti perkembangan teknologi dan kehidupan masyarakat.
Keempat mata kuliah tersebut menjadi bagian dari pengalaman Rotua sebagai pengajar di STDI InterStudi. Ia melihat proses mengajar bukan hanya sebagai kegiatan menyampaikan materi kepada mahasiswa. Pertemuan dengan mahasiswa dan sesama dosen justru menjadi bagian dari proses belajar yang terus berjalan.
“Banyak hal yang saya pelajari setelah menjadi dosen tetap di STDI,” ujar Rotua.
Menurutnya, lingkungan kampus turut memengaruhi proses berkarya. Pertemuan dengan para pengajar yang memiliki latar belakang dan pengalaman berbeda, serta mahasiswa dengan berbagai karakter dan ide, memberi ruang bagi dirinya untuk terus belajar.
Karya-karya yang ia hasilkan pun tidak terlepas dari pengalaman tersebut. Aktivitas mengajar membuatnya berhadapan dengan berbagai gagasan, karya mahasiswa, diskusi kelas, serta pengalaman para dosen. Semua itu menjadi bagian dari perjalanan kreatifnya sebagai seorang seniman sekaligus pengajar.
Ada rasa memiliki yang tumbuh dari hubungan tersebut. Rotua melihat STDI bukan hanya sebagai tempat mengajar, tetapi juga sebagai ruang bertemu dengan orang-orang yang sama-sama bergerak di bidang seni dan desain.
Ia juga melihat mahasiswa sebagai bagian penting dari kehidupan kampus. Karya dan proses belajar mereka menunjukkan bahwa pendidikan desain masih memiliki ruang untuk berkembang. Bagi Rotua, melihat mahasiswa mencoba, bertanya, membuat karya, lalu memperbaikinya menjadi pengalaman yang ikut memberi energi bagi seorang pengajar.
STDI sendiri merupakan bagian dari perjalanan panjang InterStudi. InterStudi berdiri pada 10 Maret 1982, berawal sebagai lembaga kursus dan pelatihan singkat dengan program tiga bulan, enam bulan, hingga satu tahun. Bidang yang ditawarkan pada masa awal mencakup sekretaris, bahasa, manajemen, penyiaran, hubungan masyarakat, komputer, serta desain.
Seiring perkembangan lembaga pendidikan tersebut, InterStudi kemudian membuka jenjang Diploma hingga Sarjana dan Magister. Perkembangan itu melahirkan beberapa institusi pendidikan, termasuk Akademi Sekretari InterStudi dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi InterStudi.
Sekolah Tinggi Desain InterStudi atau STDI berdiri pada 2007 dan menjadi bagian dari perjalanan InterStudi pada bidang pendidikan desain. Program yang tersedia mencakup bidang desain komunikasi visual, multimedia, interior, dan busana.
Lokasi STDI di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, juga menjadi salah satu hal yang menurut Rotua menarik. Kampus berada di kawasan yang mudah dijangkau dan memiliki lingkungan yang mendukung kegiatan pendidikan.
Perjalanan sebuah kampus tentu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. InterStudi pernah melalui periode ketika jumlah peminat dan aktivitas pendidikannya lebih tinggi dibanding kondisi saat ini. Perubahan situasi pendidikan, pilihan calon mahasiswa, perkembangan teknologi, serta persaingan antarperguruan tinggi turut memengaruhi kondisi lembaga pendidikan.
Namun, bagi Rotua, kondisi tersebut tidak menghapus pengalaman yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun. Masih ada para pengajar yang aktif, mahasiswa yang memiliki minat pada seni dan desain, serta karya-karya yang terus lahir dari proses pendidikan.
Hal itulah yang membuat Rotua tetap merasa memiliki kebanggaan sebagai bagian dari STDI InterStudi. Baginya, kampus bukan hanya soal jumlah mahasiswa atau usia sebuah lembaga. Ada hubungan antara pengajar, mahasiswa, karya, ruang belajar, dan pengalaman yang membentuk perjalanan seseorang.
Menjadi dosen di STDI juga membuat Rotua melihat profesinya dari sisi yang berbeda. Mengajar memberinya kesempatan untuk berbagi pengetahuan, tetapi pada saat yang sama ia juga terus memperoleh pengalaman baru dari mahasiswa dan rekan sesama pengajar.
“Ketika bertemu dengan dosen dan mahasiswa yang kreatif, saya juga ikut belajar,” katanya.
Bagi Rotua, pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan untuk tetap berkarya dan mengajar. Pendidikan desain tidak berhenti pada kemampuan membuat gambar. Ada proses berpikir, latihan, sejarah, budaya, teknologi, serta pengalaman manusia yang ikut membentuk seorang desainer.
STDI InterStudi menjadi salah satu ruang yang mempertemukan berbagai hal tersebut. Bagi mereka yang berada di dalamnya, kampus bukan sekadar tempat memperoleh gelar, tetapi juga ruang untuk belajar, mengajar, membuat karya, berdiskusi, dan bertemu dengan orang-orang yang memberi pengalaman baru.
Di tengah perubahan dunia pendidikan dan industri kreatif, keberadaan ruang seperti STDI tetap memiliki arti bagi para pengajar dan mahasiswa yang memilih seni serta desain sebagai bidang studinya. Rotua Magdalena Pardede menjadi salah satu pengajar yang merasakan proses tersebut, sekaligus terus membawa pengalaman dari kampus ke karya-karyanya.












