BeritaDaerahTeknologi

Etika Penggunaan AI dalam Seni Jadi Sorotan POTCASE, Rissa Churria Tekankan Kejujuran Berkarya

6
×

Etika Penggunaan AI dalam Seni Jadi Sorotan POTCASE, Rissa Churria Tekankan Kejujuran Berkarya

Sebarkan artikel ini
Diskusi POTCASE di Ruang Dengar Puisi dan Lagu membahas etika penggunaan kecerdasan buatan dalam seni bersama Rissa Churria dan Margo dari Seribu Nada.

Penulis : Rissa Churria

Jakarta, Veritika.id – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam dunia seni memerlukan keseimbangan antara inovasi teknologi dan tanggung jawab kreatif. Keterbukaan dalam penggunaan AI, pemahaman terhadap proses penciptaan, serta penghargaan terhadap karya menjadi aspek penting dalam menjaga kualitas ekosistem seni di era digital.

Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam POTCASE yang diselenggarakan melalui Ruang Dengar Puisi dan Lagu (R PdL), Jumat, 9 Oktober 2026. Forum yang digagas Ratu Ayu Neni Saputra ini menghadirkan Rissa Churria, Ketua Rumah Baca Ceria (RBC) sekaligus Ketua Satupena Jawa Barat, bersama Margo dari Seribu Nada.

Diskusi tersebut turut merefleksikan pelaksanaan Event Cipta Aransemen Puisi Menjadi Lagu Berbasis AI yang diselenggarakan Melati Senja (MS) pada 3–4 Oktober 2026.

Dalam pembahasan mengenai etika berkarya, Rissa menekankan pentingnya keterbukaan kreator dalam menjelaskan keterlibatan AI pada proses penciptaan. Menurutnya, penggunaan teknologi bukan sesuatu yang harus disembunyikan, melainkan perlu disikapi secara jujur dan bertanggung jawab.

Ia mengapresiasi keberanian para peserta yang mencoba mengembangkan puisi menjadi lagu melalui bantuan teknologi. Pengalaman tersebut memperlihatkan adanya kemauan untuk belajar dan menjelajahi kemungkinan baru dalam berkarya.

Meski demikian, penggunaan AI tidak semestinya membuat proses kreatif dipahami sebagai pekerjaan instan. Kreator tetap perlu memahami gagasan yang dikembangkan, menilai hasil yang dihasilkan teknologi, dan bertanggung jawab terhadap karya yang dipublikasikan.

Selain etika, Rissa menyoroti perlunya pengelolaan dokumentasi dan publikasi yang lebih terstruktur. Foto, video, rekaman, dan catatan kegiatan dapat menjadi arsip sekaligus bahan evaluasi untuk mengukur perkembangan sebuah program.

Sementara itu, Margo dari Seribu Nada membahas proses kreatif dalam pembuatan lagu berbasis AI. Ia menekankan bahwa kreator perlu memahami puisi terlebih dahulu sebelum menentukan genre, tempo, karakter vokal, durasi, dan struktur lagu. Prompt atau instruksi yang disusun secara terarah membantu proses eksplorasi, sedangkan evaluasi dan penyempurnaan tetap diperlukan setelah lagu dihasilkan.

POTCASE menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai tantangan seni di tengah perkembangan teknologi. Bagi Melati Senja, pembahasan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat kualitas penyelenggaraan, memperluas jejaring, serta membangun program yang berkesinambungan.

Melalui penerapan etika, penguatan proses kreatif, dan tata kelola kegiatan yang lebih baik, pemanfaatan AI diharapkan dapat memperkaya dunia seni tanpa mengabaikan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap kreativitas manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *