BeritaSeni & Budaya

Jakarta yang Terjebak dalam Paru-Parunya, Puisi Shinerya Soulchi tentang Polusi Udara dan Ruang Hidup Perkotaan

7
×

Jakarta yang Terjebak dalam Paru-Parunya, Puisi Shinerya Soulchi tentang Polusi Udara dan Ruang Hidup Perkotaan

Sebarkan artikel ini
Kondisi Jakarta yang diwarnai kemacetan, pencemaran udara, kepadatan kendaraan, dan berkurangnya ruang hijau menjadi gambaran persoalan lingkungan perkotaan yang memengaruhi kesehatan serta kenyamanan warga.

Jakarata, Veritika.id – Puisi Shinerya Soulchi, pengurus Satupena DKI Jakarta, penyair dan praktisi kebudayaan, mengangkat persoalan kemacetan, pencemaran udara, serta berkurangnya ruang hijau di Jakarta.

Melalui kisah Radya, seorang pelajar berusia 17 tahun, puisi ini menggambarkan dampak kondisi perkotaan terhadap kesehatan, aktivitas pendidikan, dan kehidupan warga, sekaligus mengajak pembaca meninjau kembali arah pembangunan kota.

Jakarta yang Terjebak dalam Paru-Parunya menempatkan pengalaman sehari-hari warga sebagai titik awal untuk membicarakan persoalan lingkungan. Kemacetan pada pagi hari, kendaraan yang memasuki gang permukiman, pepohonan yang semakin berkurang, hingga udara yang tercemar menjadi rangkaian peristiwa yang membentuk gambaran kehidupan perkotaan.

Tokoh Radya menjadi penghubung antara persoalan tersebut dan pengalaman generasi muda. Perjalanannya menuju sekolah memperlihatkan bahwa kemacetan bukan sekadar masalah keterlambatan. Paparan asap kendaraan dan terbatasnya ruang aman bagi pejalan kaki turut memengaruhi kenyamanan warga yang beraktivitas di luar ruangan.

Puisi ini juga menyoroti perubahan lingkungan akibat pembangunan. Gedung dan jalan terus bertambah, sementara pohon peneduh, ruang terbuka, dan tempat bermain anak menghadapi tekanan. Melalui perbandingan antara keadaan kota pada masa lalu dan kondisi saat ini, Shinerya mengajak pembaca melihat akibat perubahan tata ruang terhadap kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya.

Pelajaran tentang ekosistem yang diterima Radya di sekolah menjadi penghubung antara pengalaman pribadi dan persoalan kota. Udara, air, tanah, tumbuhan, kendaraan, serta aktivitas manusia saling berkaitan. Ketika ruang hijau berkurang dan jumlah kendaraan meningkat, dampaknya tidak berhenti pada kondisi jalan, tetapi turut memengaruhi kualitas udara, suhu lingkungan, dan kenyamanan permukiman.

Alih-alih menawarkan gambaran kota yang sepenuhnya bebas dari pembangunan, puisi ini mengarah pada kebutuhan untuk menata pertumbuhan Jakarta secara lebih seimbang. Angkutan umum, trotoar yang aman, perlindungan pohon, pengendalian emisi, dan penyediaan ruang bermain bagi anak menjadi bagian dari persoalan yang patut dipertimbangkan.

Melalui bahasa yang bertumpu pada situasi sehari-hari, Jakarta yang Terjebak dalam Paru-Parunya menyampaikan pertanyaan mengenai hak warga untuk memperoleh lingkungan yang sehat. Puisi ini mengingatkan bahwa kemajuan kota tidak cukup dinilai dari gedung yang berdiri atau kecepatan perjalanan, tetapi juga dari kualitas udara dan kelayakan ruang hidup yang tersedia bagi penduduknya.

JAKARTA YANG TERJEBAK DALAM PARU-PARUNYA

Shinerya Soulchi

 

Pukul enam lewat tiga.

Jakarta telah lebih dulu menggeliat

sebelum matahari sempat merapikan cahayanya.

Di persimpangan, ribuan kendaraan mengular,

seperti ular besi yang kehilangan kepala

tetapi tak pernah berhenti bergerak.

 

Klakson bersahutan—

tiiiiiin, taaaaaan, tuuuuuut,

orkestra yang tak mengenal konduktor,

memainkan simfoni kemarahan

di antara helm, kaca spion, dan wajah-wajah

yang terlambat tiba di tempat tujuan.

 

Di atas aspal yang gerah, panas merambat.

Knalpot mengerang mengepulkan asap,

menyemburkan napas hitam ke udara.

Bau bensin menyelinap ke balik masker,

mengendap di tenggorokan,

meninggalkan rasa pahit yang tak tercatat 

dalam daftar pengeluaran bulanan.

 

Di punggung kuda besi beroda dua,

Radya, tujuh belas usianya,

menahan batuk di balik pelindung kepala bermika.

 

Ia hendak berangkat ke sekolah.

Tas berisi buku di punggungnya,

Dokter, menjadi cita-cita di kepalanya,

tetapi di sepanjang perjalanan

ia harus lebih dahulu belajar

bagaimana caranya menghirup udara

yang tak sepenuhnya menjadi miliknya.

“Kalau terlambat lagi, nilai disiplinanku berkurang,”

gumamnya kepada diri sendiri.

 

Lampu merah menyala.

Berhenti Radya.

Sebuah mobil mewah mengilap tepat di sampingnya

menutup rapat jendela.

Di depannya, seorang pedagang nasi uduk

menyelipkan gerobak di sempitnya celah,

mencari hidup pada ruang terbatas

di antara kendaraan yang saling berebut masa.

 

Jakarta, pikir Radya,

adalah kota tempat semua orang bergegas

tetapi tak seorang pun benar-benar bergerak.

 

Ketika jalan utama tak lagi memberi harapan,

orang-orang membelok ke jalan-jalan tikus.

Gang selebar dua bahu manusia

mendadak menjadi jalan raya.

Sepeda motor menyusup di antara pot bunga,

melompati genangan,

membangunkan bayi yang tidur di ruang depan,

membuat seorang ibu menarik jemuran

agar tak tersambar kuping kaca.

 

Di tembok rumah yang catnya mengelupas,

seorang lelaki tua memasang tulisan:

PELAN-PELAN, BANYAK ANAK KECIL.

 

Namun tulisan itu seperti daun kering

yang jatuh di tengah musim kemarau—

terlihat, tetapi tak jadi perhatian.

 

Satu motor lewat.

Kemudian dua.

Lalu puluhan lainnya,

mengubah gang menjadi lorong bising

yang memisahkan pintu rumah

dari tenang yang seharusnya nyaman di dalamnya.

 

Jalan tikus,

nama yang terdengar kecil dan bersahaja,

kini menjadi nadi tambahan kota

yang sakit karena pembuluh utamanya tersumbat.

 

Di ujung gang,

seorang anak perempuan menutup hidung.

Ia ingin bermain lompat tali,

tetapi tali itu tergulung di sudut teras.

Di luar, kendaraan terus melintas.

Di dalam, masa kecil menunggu

sampai jalanan mengizinkannya bernapas.

 

Dulu, kata nenek Radya,

di sepanjang jalan menuju pasar

ada pohon-pohon yang menaungi jalan.

 

Ketika kemarau daunnya meranggas,

bersemi ketika hujan,

burung-burung membangun rumah

di antara ranting yang tak pernah meminta sertifikat.

 

Pejalan berteduh di bawahnya.

Pedagang menggelar dagangan.

Anak-anak berjalan sambil menghitung kupu-kupu, sepulang sekolah.

 

Kini, pohon-pohon yang tinggal tak seberapa.

 

Pohon-pohon beton yang justru tumbuh menjulang:

tiang dan kolom adalah batangnya,

dahannya berupa balkon dan antena,

kaca-kaca pemantul matahari menjadi daunnya

hingga siang terasa seperti bara

yang ditumpahkan dari langit.

 

Akar-akarnya tak mencari air,

melainkan menancap dalam-dalam

pada pondasi dan kepentingan.

 

Gedung demi gedung berdiri

seperti hutan yang lupa caranya menjadi hutan.

Rindang diganti bayangan,

tanah diganti semen berlapis-lapis,

dan burung-burung kehilangan alamat

untuk pulang menjelang senja.

 

Di sela bangunan itu,

sebatang pohon tua masih bertahan.

Batangnya miring,

daunnya jarang,

akar-akarnya terdesak trotoar.

 

Seorang pekerja mengikatkan sepeda

pada pagar di dekatnya.

 

“Lumayan,” katanya,

“masih ada tempat berteduh.”

 

 

Ia tidak tahu bahwa

pun pohon itu sedang berjuang

mempertahankan hak hidupnya

di kota yang terlalu pandai membangun

tetapi kerap lupa menumbuhkan.

 

Menjelang siang,

langit Jakarta tampak pucat.

 

Karena mendung? Bukan!

melainkan udara membawa begitu banyak

sisa pembakaran, debu, dan panas

yang tak terlihat oleh mata telanjang.

 

Di halte, orang-orang menunggu bus.

Di trotoar, pedagang menawarkan minuman dingin.

Di atas jembatan, kendaraan merayap

seperti barisan semut yang kehilangan jejak pulang.

 

Radya turun dari motornya.

Ia terlambat dua puluh menit.

 

Di halaman sekolah,

guru sedang menjelaskan tentang ekosistem:

tentang hubungan antara makhluk hidup,

air, tanah, udara, dan lingkungan

yang saling menopang kehidupan.

 

Radya membuka buku catatan.

 

Di papan tulis, tertulis kata KESEIMBANGAN.

 

Ia memandang ke luar jendela.

Di kejauhan, gedung-gedung berdiri rapat.

Di bawahnya, jalan raya sesak.

Di sela keduanya, udara bergerak

membawa sesuatu yang tak bisa ia lihat

tetapi setiap hari ia hirup.

 

Tiba-tiba ia mengerti:

ekosistem bukan hanya gambar hutan

dengan sungai biru dan burung-burung berwarna.

Ekosistem juga tinggal di kota,

di halaman sekolah, di selokan,

di pohon yang terkurung trotoar,

di paru-paru pengemudi ojek,

dan di dada anak-anak

yang tumbuh bersama debu jalanan.

 

Ketika satu unsur kehilangan ruang,

unsur lain ikut menanggung akibat.

 

Ketika pohon ditebang,

panas mencari tempat untuk menetap.

Ketika tanah ditutup semen,

air mencari jalan sendiri.

Ketika kendaraan memenuhi jalan,

udara menanggung sisa pembakaran.

Dan ketika manusia menganggap semua itu

sebagai harga biasa dari kemajuan,

siapa yang akan menghitung

kerugian yang tak tercetak pada nota?

 

Sore hari,

Radya pulang melewati jalan yang sama.

 

Kemacetan belum selesai.

Lampu kendaraan mulai menyala.

Asap masih saja mengepul

di antara gedung-gedung yang memerah

ditimpa cahaya matahari senja.

 

Di sebuah persimpangan,

ia melihat seorang petugas kebersihan

menyapu daun-daun kering

yang gugur dari pohon terakhir di tepi jalan.

 

Daun itu bercampur puntung rokok,

bungkus makanan, dan debu hitam.

 

Petugas itu terus menyapu,

sementara kendaraan terus melintas,

menjatuhkan kotoran baru

di atas jalan yang baru saja dibersihkan.

 

Radya ingin bertanya:

untuk apa kita menyapu kota

jika kita tak pernah berhenti

membuatnya kotor?

 

Namun pertanyaan itu hanya tinggal di kepalanya.

 

Malam datang.

Jakarta menyalakan ribuan lampu,

seolah-olah cahaya dapat menyembunyikan

lelah yang ditumpuk hari.

 

Dari jendela rumah,

Radya melihat langit yang nyaris kehilangan bintang.

Lalu ia membayangkan sebuah kota

yang jalannya cukup untuk bergerak,

trotoarnya cukup untuk berjalan,

pohonnya cukup untuk berteduh,

dan udara yang cukup bersih

untuk dihirup tanpa rasa takut.

 

Ia membayangkan jalan-jalan tikus

kembali menjadi gang tempat anak-anak bermain,

pohon-pohon beton

tak lagi mengusir pohon yang berdaun,

dan kendaraan berhenti menjadi satu-satunya

jawaban atas kebutuhan manusia untuk bepergian.

 

Barangkali kota tak harus berhenti tumbuh.

Barangkali gedung tak perlu diruntuhkan.

Barangkali kendaraan tak harus dihapuskan.

 

Yang perlu diubah adalah cara kita memberi ruang:

ruang bagi pejalan kaki,

ruang bagi angkutan umum,

ruang bagi air untuk meresap,

ruang bagi pohon untuk tumbuh,

dan ruang bagi manusia

untuk mengingat bahwa ia bukan pemilik tunggal bumi.

 

Sebab Jakarta bukan sekadar jalan,

bukan sekadar gedung,

bukan sekadar angka perjalanan

dan waktu tempuh di layar telepon.

 

Jakarta adalah tubuh yang kita huni bersama.

 

Dan hari ini,

tubuh itu sedang kesulitan bernapas.

 

Jika kita terus memaksa kota berlari

tanpa memberinya udara,

suatu hari nanti

kita mungkin berhasil tiba di mana-mana—

tetapi tak lagi memiliki tempat

yang layak untuk dituju.

 

Sebab kota yang kehilangan seimbang

pada akhirnya hanya mewariskan sesak

kepada anak-anak

yang bahkan belum sempat memilih

di kota seperti apa

mereka ingin tumbuh.

Shinerya Soulchi merupakan penyair dan praktisi kebudayaan yang aktif sebagai Pengurus Satupena DKI Jakarta. Ia juga tercatat berkegiatan di Bapenda Kota Bekasi serta mengelola Sanggar dan TBM Aksara Timur. Selain itu, ia terlibat dalam pengembangan Komunitas Sastra Jakarta Timur melalui kegiatan literasi, penulisan, dan aktivitas kesusastraan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *