Jakarata, Veritika.id – Puisi Shinerya Soulchi, pengurus Satupena DKI Jakarta, penyair dan praktisi kebudayaan, mengangkat persoalan kemacetan, pencemaran udara, serta berkurangnya ruang hijau di Jakarta.
Melalui kisah Radya, seorang pelajar berusia 17 tahun, puisi ini menggambarkan dampak kondisi perkotaan terhadap kesehatan, aktivitas pendidikan, dan kehidupan warga, sekaligus mengajak pembaca meninjau kembali arah pembangunan kota.
Jakarta yang Terjebak dalam Paru-Parunya menempatkan pengalaman sehari-hari warga sebagai titik awal untuk membicarakan persoalan lingkungan. Kemacetan pada pagi hari, kendaraan yang memasuki gang permukiman, pepohonan yang semakin berkurang, hingga udara yang tercemar menjadi rangkaian peristiwa yang membentuk gambaran kehidupan perkotaan.
Tokoh Radya menjadi penghubung antara persoalan tersebut dan pengalaman generasi muda. Perjalanannya menuju sekolah memperlihatkan bahwa kemacetan bukan sekadar masalah keterlambatan. Paparan asap kendaraan dan terbatasnya ruang aman bagi pejalan kaki turut memengaruhi kenyamanan warga yang beraktivitas di luar ruangan.
Puisi ini juga menyoroti perubahan lingkungan akibat pembangunan. Gedung dan jalan terus bertambah, sementara pohon peneduh, ruang terbuka, dan tempat bermain anak menghadapi tekanan. Melalui perbandingan antara keadaan kota pada masa lalu dan kondisi saat ini, Shinerya mengajak pembaca melihat akibat perubahan tata ruang terhadap kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya.
Pelajaran tentang ekosistem yang diterima Radya di sekolah menjadi penghubung antara pengalaman pribadi dan persoalan kota. Udara, air, tanah, tumbuhan, kendaraan, serta aktivitas manusia saling berkaitan. Ketika ruang hijau berkurang dan jumlah kendaraan meningkat, dampaknya tidak berhenti pada kondisi jalan, tetapi turut memengaruhi kualitas udara, suhu lingkungan, dan kenyamanan permukiman.
Alih-alih menawarkan gambaran kota yang sepenuhnya bebas dari pembangunan, puisi ini mengarah pada kebutuhan untuk menata pertumbuhan Jakarta secara lebih seimbang. Angkutan umum, trotoar yang aman, perlindungan pohon, pengendalian emisi, dan penyediaan ruang bermain bagi anak menjadi bagian dari persoalan yang patut dipertimbangkan.
Melalui bahasa yang bertumpu pada situasi sehari-hari, Jakarta yang Terjebak dalam Paru-Parunya menyampaikan pertanyaan mengenai hak warga untuk memperoleh lingkungan yang sehat. Puisi ini mengingatkan bahwa kemajuan kota tidak cukup dinilai dari gedung yang berdiri atau kecepatan perjalanan, tetapi juga dari kualitas udara dan kelayakan ruang hidup yang tersedia bagi penduduknya.
JAKARTA YANG TERJEBAK DALAM PARU-PARUNYA
Shinerya Soulchi
Pukul enam lewat tiga.
Jakarta telah lebih dulu menggeliat
sebelum matahari sempat merapikan cahayanya.
Di persimpangan, ribuan kendaraan mengular,
seperti ular besi yang kehilangan kepala
tetapi tak pernah berhenti bergerak.
Klakson bersahutan—
tiiiiiin, taaaaaan, tuuuuuut,
orkestra yang tak mengenal konduktor,
memainkan simfoni kemarahan
di antara helm, kaca spion, dan wajah-wajah
yang terlambat tiba di tempat tujuan.
Di atas aspal yang gerah, panas merambat.
Knalpot mengerang mengepulkan asap,
menyemburkan napas hitam ke udara.
Bau bensin menyelinap ke balik masker,
mengendap di tenggorokan,
meninggalkan rasa pahit yang tak tercatat
dalam daftar pengeluaran bulanan.
Di punggung kuda besi beroda dua,
Radya, tujuh belas usianya,
menahan batuk di balik pelindung kepala bermika.
Ia hendak berangkat ke sekolah.
Tas berisi buku di punggungnya,
Dokter, menjadi cita-cita di kepalanya,
tetapi di sepanjang perjalanan
ia harus lebih dahulu belajar
bagaimana caranya menghirup udara
yang tak sepenuhnya menjadi miliknya.
“Kalau terlambat lagi, nilai disiplinanku berkurang,”
gumamnya kepada diri sendiri.
Lampu merah menyala.
Berhenti Radya.
Sebuah mobil mewah mengilap tepat di sampingnya
menutup rapat jendela.
Di depannya, seorang pedagang nasi uduk
menyelipkan gerobak di sempitnya celah,
mencari hidup pada ruang terbatas
di antara kendaraan yang saling berebut masa.
Jakarta, pikir Radya,
adalah kota tempat semua orang bergegas
tetapi tak seorang pun benar-benar bergerak.
Ketika jalan utama tak lagi memberi harapan,
orang-orang membelok ke jalan-jalan tikus.
Gang selebar dua bahu manusia
mendadak menjadi jalan raya.
Sepeda motor menyusup di antara pot bunga,
melompati genangan,
membangunkan bayi yang tidur di ruang depan,
membuat seorang ibu menarik jemuran
agar tak tersambar kuping kaca.
Di tembok rumah yang catnya mengelupas,
seorang lelaki tua memasang tulisan:
PELAN-PELAN, BANYAK ANAK KECIL.
Namun tulisan itu seperti daun kering
yang jatuh di tengah musim kemarau—
terlihat, tetapi tak jadi perhatian.
Satu motor lewat.
Kemudian dua.
Lalu puluhan lainnya,
mengubah gang menjadi lorong bising
yang memisahkan pintu rumah
dari tenang yang seharusnya nyaman di dalamnya.
Jalan tikus,
nama yang terdengar kecil dan bersahaja,
kini menjadi nadi tambahan kota
yang sakit karena pembuluh utamanya tersumbat.
Di ujung gang,
seorang anak perempuan menutup hidung.
Ia ingin bermain lompat tali,
tetapi tali itu tergulung di sudut teras.
Di luar, kendaraan terus melintas.
Di dalam, masa kecil menunggu
sampai jalanan mengizinkannya bernapas.
Dulu, kata nenek Radya,
di sepanjang jalan menuju pasar
ada pohon-pohon yang menaungi jalan.
Ketika kemarau daunnya meranggas,
bersemi ketika hujan,
burung-burung membangun rumah
di antara ranting yang tak pernah meminta sertifikat.
Pejalan berteduh di bawahnya.
Pedagang menggelar dagangan.
Anak-anak berjalan sambil menghitung kupu-kupu, sepulang sekolah.
Kini, pohon-pohon yang tinggal tak seberapa.
Pohon-pohon beton yang justru tumbuh menjulang:
tiang dan kolom adalah batangnya,
dahannya berupa balkon dan antena,
kaca-kaca pemantul matahari menjadi daunnya
hingga siang terasa seperti bara
yang ditumpahkan dari langit.
Akar-akarnya tak mencari air,
melainkan menancap dalam-dalam
pada pondasi dan kepentingan.
Gedung demi gedung berdiri
seperti hutan yang lupa caranya menjadi hutan.
Rindang diganti bayangan,
tanah diganti semen berlapis-lapis,
dan burung-burung kehilangan alamat
untuk pulang menjelang senja.
Di sela bangunan itu,
sebatang pohon tua masih bertahan.
Batangnya miring,
daunnya jarang,
akar-akarnya terdesak trotoar.
Seorang pekerja mengikatkan sepeda
pada pagar di dekatnya.
“Lumayan,” katanya,
“masih ada tempat berteduh.”
Ia tidak tahu bahwa
pun pohon itu sedang berjuang
mempertahankan hak hidupnya
di kota yang terlalu pandai membangun
tetapi kerap lupa menumbuhkan.
Menjelang siang,
langit Jakarta tampak pucat.
Karena mendung? Bukan!
melainkan udara membawa begitu banyak
sisa pembakaran, debu, dan panas
yang tak terlihat oleh mata telanjang.
Di halte, orang-orang menunggu bus.
Di trotoar, pedagang menawarkan minuman dingin.
Di atas jembatan, kendaraan merayap
seperti barisan semut yang kehilangan jejak pulang.
Radya turun dari motornya.
Ia terlambat dua puluh menit.
Di halaman sekolah,
guru sedang menjelaskan tentang ekosistem:
tentang hubungan antara makhluk hidup,
air, tanah, udara, dan lingkungan
yang saling menopang kehidupan.
Radya membuka buku catatan.
Di papan tulis, tertulis kata KESEIMBANGAN.
Ia memandang ke luar jendela.
Di kejauhan, gedung-gedung berdiri rapat.
Di bawahnya, jalan raya sesak.
Di sela keduanya, udara bergerak
membawa sesuatu yang tak bisa ia lihat
tetapi setiap hari ia hirup.
Tiba-tiba ia mengerti:
ekosistem bukan hanya gambar hutan
dengan sungai biru dan burung-burung berwarna.
Ekosistem juga tinggal di kota,
di halaman sekolah, di selokan,
di pohon yang terkurung trotoar,
di paru-paru pengemudi ojek,
dan di dada anak-anak
yang tumbuh bersama debu jalanan.
Ketika satu unsur kehilangan ruang,
unsur lain ikut menanggung akibat.
Ketika pohon ditebang,
panas mencari tempat untuk menetap.
Ketika tanah ditutup semen,
air mencari jalan sendiri.
Ketika kendaraan memenuhi jalan,
udara menanggung sisa pembakaran.
Dan ketika manusia menganggap semua itu
sebagai harga biasa dari kemajuan,
siapa yang akan menghitung
kerugian yang tak tercetak pada nota?
Sore hari,
Radya pulang melewati jalan yang sama.
Kemacetan belum selesai.
Lampu kendaraan mulai menyala.
Asap masih saja mengepul
di antara gedung-gedung yang memerah
ditimpa cahaya matahari senja.
Di sebuah persimpangan,
ia melihat seorang petugas kebersihan
menyapu daun-daun kering
yang gugur dari pohon terakhir di tepi jalan.
Daun itu bercampur puntung rokok,
bungkus makanan, dan debu hitam.
Petugas itu terus menyapu,
sementara kendaraan terus melintas,
menjatuhkan kotoran baru
di atas jalan yang baru saja dibersihkan.
Radya ingin bertanya:
untuk apa kita menyapu kota
jika kita tak pernah berhenti
membuatnya kotor?
Namun pertanyaan itu hanya tinggal di kepalanya.
Malam datang.
Jakarta menyalakan ribuan lampu,
seolah-olah cahaya dapat menyembunyikan
lelah yang ditumpuk hari.
Dari jendela rumah,
Radya melihat langit yang nyaris kehilangan bintang.
Lalu ia membayangkan sebuah kota
yang jalannya cukup untuk bergerak,
trotoarnya cukup untuk berjalan,
pohonnya cukup untuk berteduh,
dan udara yang cukup bersih
untuk dihirup tanpa rasa takut.
Ia membayangkan jalan-jalan tikus
kembali menjadi gang tempat anak-anak bermain,
pohon-pohon beton
tak lagi mengusir pohon yang berdaun,
dan kendaraan berhenti menjadi satu-satunya
jawaban atas kebutuhan manusia untuk bepergian.
Barangkali kota tak harus berhenti tumbuh.
Barangkali gedung tak perlu diruntuhkan.
Barangkali kendaraan tak harus dihapuskan.
Yang perlu diubah adalah cara kita memberi ruang:
ruang bagi pejalan kaki,
ruang bagi angkutan umum,
ruang bagi air untuk meresap,
ruang bagi pohon untuk tumbuh,
dan ruang bagi manusia
untuk mengingat bahwa ia bukan pemilik tunggal bumi.
Sebab Jakarta bukan sekadar jalan,
bukan sekadar gedung,
bukan sekadar angka perjalanan
dan waktu tempuh di layar telepon.
Jakarta adalah tubuh yang kita huni bersama.
Dan hari ini,
tubuh itu sedang kesulitan bernapas.
Jika kita terus memaksa kota berlari
tanpa memberinya udara,
suatu hari nanti
kita mungkin berhasil tiba di mana-mana—
tetapi tak lagi memiliki tempat
yang layak untuk dituju.
Sebab kota yang kehilangan seimbang
pada akhirnya hanya mewariskan sesak
kepada anak-anak
yang bahkan belum sempat memilih
di kota seperti apa
mereka ingin tumbuh.
Shinerya Soulchi merupakan penyair dan praktisi kebudayaan yang aktif sebagai Pengurus Satupena DKI Jakarta. Ia juga tercatat berkegiatan di Bapenda Kota Bekasi serta mengelola Sanggar dan TBM Aksara Timur. Selain itu, ia terlibat dalam pengembangan Komunitas Sastra Jakarta Timur melalui kegiatan literasi, penulisan, dan aktivitas kesusastraan.












