BeritaDaerahTeknologi

Ketika Puisi Menemukan Nada “POTCASE Membahas Pertemuan Sastra, Musik, dan AI”

5
×

Ketika Puisi Menemukan Nada “POTCASE Membahas Pertemuan Sastra, Musik, dan AI”

Sebarkan artikel ini
Diskusi POTCASE di Ruang Dengar Puisi dan Lagu (R PdL), Jumat, 9 Oktober 2026, membahas pertemuan sastra, musik, dan kecerdasan buatan (AI) dalam proses penciptaan karya. Rissa Churria dan Margo dari Seribu Nada berbagi pandangan mengenai pentingnya memahami makna puisi sebelum mengubahnya menjadi lagu, menyusun prompt yang terarah, serta mengevaluasi hasil aransemen berbasis AI. Diskusi yang digagas Ratu Ayu Neni Saputra ini juga menyoroti etika penggunaan teknologi, keterbukaan proses kreatif, dan pentingnya dokumentasi kegiatan seni. Pembahasan tersebut berkaitan dengan Event Cipta Aransemen Puisi Menjadi Lagu Berbasis AI yang diselenggarakan Melati Senja pada 3–4 Oktober 2026.

Penulis : Rissa Churria

Jakarta, Veritika.id – Puisi tidak selalu berhenti sebagai rangkaian kata di atas kertas. Melalui musik, sebuah puisi dapat menemukan cara lain untuk menyampaikan perasaan, menghadirkan suasana, dan menjangkau pendengar yang lebih luas. Kehadiran kecerdasan buatan (AI) kini membuka kemungkinan baru bagi pertemuan sastra dan musik tersebut.

Gagasan itu menjadi bagian dari perbincangan POTCASE di Ruang Dengar Puisi dan Lagu (R PdL), Jumat, 9 Oktober 2026. Kegiatan yang digagas Ratu Ayu Neni Saputra ini menghadirkan Rissa Churria, Ketua Rumah Baca Ceria (RBC) sekaligus Ketua Satupena Jawa Barat, dan Margo dari Seribu Nada.

Diskusi menyoroti pelaksanaan Event Cipta Aransemen Puisi Menjadi Lagu Berbasis AI yang diselenggarakan Melati Senja pada 3–4 Oktober 2026. Kegiatan tersebut menjadi salah satu ruang eksperimen untuk mempertemukan kekuatan bahasa puitik dengan teknologi pengolah musik.

Dalam proses itu, pemahaman terhadap puisi menjadi fondasi utama. Sebelum menentukan bentuk musikal, kreator perlu menangkap makna, emosi, suasana, dan pesan yang terkandung dalam teks. Pemahaman tersebut membantu menentukan pilihan musik agar tidak terlepas dari karakter puisi.

Margo dari Seribu Nada menekankan pentingnya penyusunan prompt yang jelas. Genre, tempo, durasi, karakter vokal, struktur lagu, bagian korus (chorus), dan dinamika musik merupakan unsur yang dapat dipertimbangkan ketika mengarahkan AI untuk menghasilkan aransemen.

Namun, hasil yang muncul dari aplikasi bukanlah akhir proses. Kreator tetap perlu mendengarkan, menilai, dan memperbaiki hasilnya agar musik yang tercipta memiliki kesesuaian dengan puisi sumber.

Rissa Churria melihat perkembangan ini sebagai peluang sekaligus tantangan bagi para pelaku seni. Ia mengapresiasi keberanian peserta untuk belajar menggunakan teknologi baru, seraya menekankan pentingnya kejujuran mengenai penggunaan AI dalam proses penciptaan.

Transparansi, menurut perspektif yang dibahas dalam forum tersebut, merupakan bagian dari etika berkarya. Dengan keterbukaan, publik dapat memahami peran teknologi sekaligus menghargai kontribusi kreator dalam mengarahkan dan mengevaluasi hasil.

Perbincangan juga mengangkat pentingnya dokumentasi kegiatan seni. Rekaman proses, foto, video, dan publikasi dapat menjadi arsip perjalanan kreatif yang berguna bagi komunitas maupun masyarakat yang ingin mengikuti perkembangannya.

Melalui POTCASE, Melati Senja mendapatkan ruang untuk merefleksikan bagaimana kegiatan kreatif dapat dikembangkan lebih jauh. Pertemuan sastra, musik, dan AI bukan semata-mata tentang kecanggihan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana manusia menjaga makna, rasa, dan tanggung jawab dalam setiap karya yang dilahirkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *