Penulis : Nia Samsihono
Jakarta, Veritika.id – Sore ini saya mendapat kosakata baru: “di-blast”. Mungkin hanya saya yang tidak mengikuti perkembangan kata. Sangat cepat melajunya. Mas @Denny JA mengatakannya “Mbak Nia, ini bisa diblast?”Mendengarnya, saya merasa semakin tercecer dari kehidupan digital yang terus berlari kencang. Ada saja istilah yang sudah biasa dipakai orang lain, tetapi baru singgah di telinga saya. Namun, setelah dipahami, ternyata gagasannya dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam percakapan tentang pengiriman informasi, “tolong di-blast” biasanya berarti “tolong sebarkan pesan ini kepada banyak penerima”.
Istilah ini dikenal, misalnya, dalam email blast: satu pesan surat elektronik dikirim kepada banyak alamat sekaligus. Isinya dapat berupa pengumuman, undangan, atau penawaran. Intinya, satu pesan menjangkau banyak orang.
Bayangkan kita hendak mengundang lima puluh teman untuk menghadiri pembacaan puisi. Dahulu, undangan diperbanyak, dimasukkan ke amplop, lalu dibagikan. Dalam dunia digital, kita menyiapkan satu teks undangan, menentukan penerimanya, kemudian mengirimkannya melalui sarana yang tersedia.
Gagasan menyebarkan kabar kepada banyak orang sudah kita kenal sejak lama. Teknologi mempercepat pekerjaannya.
Di WhatsApp, ada fitur broadcast atau pesan siaran yang dapat mengirimkan pesan kepada beberapa kontak sekaligus. Pesan itu masuk sebagai percakapan pribadi. Jika seseorang membalas, balasannya diterima pengirim, bukan seluruh penerima lainnya.
Jadi, bayangkan satu undangan dimasukkan ke banyak kotak surat pribadi. Adapun grup menyerupai ruang pertemuan tempat para anggota bisa bercakap bersama. Untuk daftar siaran biasa, penerima perlu menyimpan nomor pengirim agar pesan siaran dapat diterima.
Meski berkaitan, blast dan broadcast tidak selalu dipakai dengan maksud yang persis sama. Dalam obrolan sehari-hari, “di-blast” bisa sekadar menjadi permintaan agar sebuah informasi disebarluaskan, termasuk ke beberapa grup. Orang yang mengatakannya belum tentu sedang meminta penggunaan fitur tertentu. Kita boleh bertanya, “Maksudnya dibagikan ke grup atau dikirim langsung kepada masing-masing orang?” Pertanyaan sederhana ini membantu kita memahami tugasnya.
Tujuan pengiriman massal adalah menghemat waktu dan memperluas jangkauan informasi. Namun, pesan yang telah dikirim belum tentu sudah dibaca.
Undangan yang tersebar juga belum tentu menjadi viral. Karena itu, kabar penting tetap perlu ditindaklanjuti seperlunya, misalnya dengan menanyakan kesediaan hadir.
Kemudahan menyebarkan pesan tetap membutuhkan tenggang rasa. Pilih penerima yang berkepentingan, pastikan informasinya benar, dan hindari mengirim pesan yang sama berulang-ulang tanpa kebutuhan. Di balik setiap nomor telepon ada seseorang yang sedang bekerja, beristirahat, atau merawat keluarganya. Kecepatan mengirim perlu berjalan bersama kesediaan menghormati waktu orang lain.
Bagi kita yang sudah berumur, mengenal satu istilah baru adalah langkah belajar yang berharga. Kita boleh meminta penjelasan dengan bahasa yang akrab. Mereka yang lebih dahulu memahami teknologi pun dapat membantu dengan mengatakan, “Tolong sebarkan undangan ini kepada anggota,” sehingga maksudnya segera terang.
Sore ini, saya belajar sebuah kata. Dunia digital masih berlari, tetapi saya bisa melanjutkan langkah dengan sedikit lebih mengerti. Rupanya, masih ada pintu yang dapat dibuka hanya dengan keberanian bertanya.
Jakarta, 5 Oktober 2026












