Penulis : Rissa Churria
Jakarta, Veritika.id – Sejarah revolusi kerap dikenang melalui nama tokoh, medan pertempuran, keberanian, dan kemenangan. Namun, sastra menghadirkan sisi lain yang tak kalah penting: manusia yang berada di tengah perang dengan segala ketakutan, kekacauan, kekerasan, kehilangan, dan ironi yang menyertainya.
Perspektif tersebut mengemuka dalam kuliah umum “Membaca Kembali Sastra tentang Revolusi” di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Minggu (27/9/2026). Sastrawan Zen Hae hadir sebagai narasumber dengan materi “Revolusi, Komitmen, Orgi Kekerasan”, sementara Riri Satria menjadi pemantik diskusi.
Idrus dan wajah perang yang tak selalu heroik
Salah satu karya yang dibedah dalam kuliah umum tersebut adalah cerpen “Surabaya” karya Idrus.
Karya Idrus menjadi menarik karena perang tak digambarkan semata sebagai panggung heroisme. Di dalamnya terdapat pengalaman manusia yang berhadapan dengan situasi penuh ketidakpastian, rasa takut, kekerasan, dan kekacauan.
Pembacaan terhadap cerpen tersebut membuka ruang untuk melihat revolusi dari sudut yang lebih manusiawi. Peristiwa sejarah bukan hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah, tetapi juga tentang manusia yang menjalani dan menanggung akibat dari sebuah pergolakan.
Sastra memiliki kemampuan untuk membawa pembaca lebih dekat kepada pengalaman tersebut. Melalui tokoh, konflik, bahasa, dan situasi yang dibangun pengarang, pembaca dapat merasakan bahwa sejarah memiliki wajah manusia.
Dari diskusi menuju senja di TIM
Suasana diskusi semakin menarik karena kegiatan yang semula berlangsung di ruang dalam kemudian berpindah ke ruang terbuka kawasan TIM.
Para peserta melanjutkan percakapan sambil menikmati suasana sore dan matahari yang perlahan tenggelam. Senja menjadi latar yang mempertemukan pembicaraan tentang masa lalu dengan ruang kebudayaan hari ini.
Dalam suasana tersebut, percakapan tentang revolusi, sastra, sejarah, dan manusia tetap berlangsung. Ruang diskusi pun terasa lebih cair, mempertemukan para penulis, komunitas, pegiat sastra, dan peserta dalam suasana yang hangat.
Membangun sastra dari hulu hingga hilir
Pada bagian penutup, Nisa Rengganis menekankan pentingnya pengembangan ekosistem sastra sebagai bagian dari kerja kebudayaan.
Penguatan sastra membutuhkan proses yang berkelanjutan, mulai dari penciptaan, pengembangan kapasitas pelaku, penguatan komunitas dan lembaga, ruang apresiasi, hingga perluasan akses masyarakat terhadap karya sastra.
Gagasan membangun ekosistem kebudayaan dari hulu hingga hilir menjadi bagian penting dalam pembicaraan tersebut. Sastra membutuhkan ruang tumbuh yang memungkinkan para penulis, komunitas, pembaca, lembaga, dan berbagai pihak terkait untuk terus berinteraksi.
JSM hadirkan ruang perjumpaan sastra
Kuliah umum ini merupakan bagian dari rangkaian “Bertemu di Cikini”, yang diselenggarakan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) berkolaborasi dengan Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) serta mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Penguatan Komunitas Sastra 2026.
Program berlangsung selama tiga hari dengan lima sesi, terdiri atas empat diskusi buku dan satu kuliah umum. Sebanyak sembilan narasumber dan empat pemantik diskusi terlibat dalam rangkaian kegiatan yang mengusung tema “Kisah Revolusi dalam Sastra Indonesia.”
Rangkaian tersebut menjadi ruang perjumpaan untuk membaca kembali karya sastra yang berkaitan dengan revolusi sekaligus mempertemukan berbagai perspektif mengenai sejarah dan kebudayaan.
Pada akhirnya, sastra memberi kesempatan kepada pembaca untuk melihat revolusi dari jarak yang berbeda. Bukan hanya melalui catatan kemenangan, tetapi juga melalui suara manusia yang mengalami ketakutan, kehilangan, kekerasan, dan pergulatan hidup.
Sebab sejarah mungkin mencatat peristiwa, tetapi sastra menghidupkan manusia yang berada di dalamnya.












