Jakarta, Veritika.id – “Mesir Love Story: Di Bawah Langit Para Nabi” adalah buku yang memaparkan catatan perjalanan Halimah Munawir saat mengunjungi berbagai situs sejarah di Mesir.
Catatan Perjalanan ini berfokus pada lokasi yang terkait dengan narasi para nabi dan peninggalan peradaban masa lampau, disusun berdasarkan observasi langsung terhadap kondisi geografis wilayah serta latar belakang peristiwa yang terjadi di tempat bersangkutan. Setiap lokasi diperkenalkan dengan uraian letak geografis, kondisi fisik bangunan atau peninggalan yang tersisa, serta keterkaitannya dengan cerita para nabi dalam ajaran agama.
Halimah Munawir menguraikan bentuk situs sejarah pada masa kini, termasuk upaya pelestarian oleh pemerintah Mesir dan organisasi internasional. Informasi yang disajikan bersumber dari catatan arsip, literatur terkait, serta hasil observasi langsung di lapangan.
Selain sejarah, buku ini menyertakan pengamatan mengenai kebudayaan dan kehidupan sosial masyarakat lokal. Halimah mendeskripsikan aktivitas sehari-hari warga sekitar situs sejarah, tradisi yang masih dijalankan beserta hubungan dengan latar belakang sejarah wilayahnya, ragam kuliner lokal, arsitektur rumah tinggal, dan cara berkomunikasi antaranggota masyarakat yang menjadi ciri khas daerah tersebut.
Buku ini dengan bahasa lugas menyampaikan fakta secara jelas, dengan struktur yang memudahkan penerimaan informasi tanpa mengorbankan akurasi data, dan menjadi bagian dari deretan karya bertema religi yang telah dihasilkan olehnya.
Melalui buku ini, pembaca memperoleh gambaran rute perjalanan serta perkembangan wilayah yang dikunjungi dari masa lalu hingga saat ini. Halimah menjelaskan bagaimana setiap lokasi mengalami perubahan fungsi dan bentuk fisiknya seiring waktu, disajikan dengan data pendukung termasuk periode perubahan dan faktor penyebabnya.
Karya ini diharapkan menjadi referensi tambahan bagi masyarakat yang tertarik pada sejarah dan perjalanan di kawasan Timur Tengah, serta bahan pembanding bagi peneliti yang melakukan kajian terkait hubungan antara peradaban kuno dan perkembangan agama di wilayah tersebut.
Hubungan persahabatan antara Indonesia dan Mesir memiliki latar belakang sejarah mendasar dan menjadi bagian penting dalam buku ini. Sebagai negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam, Mesir secara de facto mengakui kemerdekaan Republik Indonesia pada 22 Maret 1946 dan secara de jure pada 10 Juni 1947.
Pengakuan tersebut menjadi tonggak awal hubungan bilateral yang erat; Presiden pertama RI Ir. Soekarno memberikan hadiah bibit mangga kepada Presiden Nasser saat berkunjung resmi ke Mesir, yang kemudian ditanam dan berkembang menjadi jenis mangga dikenal sebagai “Mangga Persahabatan”.
Selama kunjungan, Halimah berkunjung ke trotoar area Rocket Garden yang menjadi lokasi restoran Abu Haidar. Restoran ini telah berdiri bertahun-tahun dan dikenal luas dengan hidangan khas shawarma, dibuat dengan metode tradisional yang diwariskan generasi demi generasi.
Di sampingnya terdapat counter kecil yang menyediakan jus dari mangga persahabatan hasil bibit yang diberikan Soekarno kepada Nasser. Saat itu, restoran baru akan membuka operasional hariannya dengan petugas yang mengepel lantai dan menyiapkan peralatan makan, namun sudah banyak pengunjung yang datang lebih awal untuk menunggu, sebagian bahkan membawa buku atau perangkat elektronik untuk mengisi waktu.
Kepopuleran Abu Haidar dirasakan oleh penduduk Kota Kairo, masyarakat dari daerah pedalaman pegunungan sekitar kota, serta wisatawan mancanegara dari berbagai belahan dunia.
Banyak orang rela melakukan perjalanan jauh dan datang sebelum jadwal buka resmi. Beberapa pengunjung menyampaikan bahwa mereka datang tidak hanya untuk menikmati hidangan khasnya, namun juga untuk merasakan suasana khas serta bertemu dengan teman atau keluarga yang juga menjadi pelanggan tetap.
Halimah juga mencicipi jus mangga persahabatan yang dibuat dari buah yang dipetik langsung dari pohon hasil bibit masa lalu, memberikan rasa khas dan menjadi simbol hubungan kedua negara. Ia mendeskripsikan perbedaan rasa jus tersebut dengan mangga jenis lain, serta bagaimana penjual jus menjelaskan sejarah balik mangga persahabatan kepada setiap pengunjung.
Halimah Munawir, Sastrawan, Pengusaha, dan Aktivis Budaya dengan fokus pelestarian tradisi Nusantara. lahir di Cirebon, Jawa Barat, pada 18 Januari 1964; kediamannya berada di Jakarta.
Karya fiksi yang dihasilkannya meliputi The Sinden dan Padmi dengan tema perempuan serta nilai lokal, Kidung Volendam mengisahkan cinta seorang perempuan dan perjuangan ibu, Sucinya Cinta Sungai Gangga berkisah anak perempuan berusaha bertemu ibu melalui ilmu.
Publikasi lain termasuk Mbok Berek, Fotobiografi (2006), Sukses Story Nila Sari (1988), Sahabat Langit (2014), AKAR (2020), Pada Padang Lavender (2024), dan Bayi Merapi (2025). Antologi puisi bilingual yang diterbitkan adalah Bayang Firdaus (2021) dan Titik Nadir (2025). Ia juga menulis kolaborasi dan esai seperti Masalah-Masalah Pembangunan dan Agama dalam Kekerasan, Love and Life in the Era of Corona, serta Denny JA di Mata Sahabat. Tulisan cerpen dan puisi pernah muncul di Cakradunia.co dan Sastra Semesta. Awal 2025, Titik Nadir diluncurkan bersamaan dengan program kelas menulis gratis di Taman Ismail Marzuki.
Halimah Munawir mengelola Rumah Budaya HMA di Megamendung sebagai pusat edukasi seni dan literasi. Setiap periode, lokakarya dan pameran diselenggarakan untuk memberikan kesempatan seniman lokal serta penulis pemula mengembangkan karya.
Tahun 2024, ia masuk Dewan Kasepuhan Sunda dan sering menjadi narasumber dalam diskusi pelestarian adat istiadat Jawa Barat dalam konteks modernisasi.
Di ranah organisasi, ia tergabung dalam Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) untuk mendukung ekonomi perempuan. Ia memimpin Yayasan YPI Al-Hidayah Pondok Melati dan membina Ikatan Alumni SMA Negeri 31 Jakarta. Sebagai pengusaha, ia memimpin PT Dian Rimalma Pratama sebagai Direktur Utama (1991–2019) dan kini menjabat Komisaris. Tahun 2019, ia mulai memimpin PT Akasia Wanaja Mulya sebagai Direktur Utama. Tahun 2015, ia menjadi pemilik sekaligus pengelola Rumah Budaya HMA.
Di bidang pendidikan dan sosial, ia memimpin Yayasan Pengembangan Islam Alhidayah di Pondok Melati Bekasi yang mengelola PAUD-Q, MI, MTs, Rumah Tahfiz, serta program ekonomi kreatif. Ia juga memimpin Yayasan Ajang Kreativitas Anak dan Seni Indonesia. Periode 2020–2024, ia memimpin Majalah Semesta Seni. Saat ini, ia memimpin Obor Sastra (2024–2029), menjabat Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda, anggota pengurus Majelis Ta’lim Gabungan Masjid Al-Hikmah, serta pembina Ikatan Alumni SMA 31 (sejak 2017). Di organisasi perempuan dan usaha, ia aktif di DPD DKJ IWAPI (sejak 2000), serta anggota KOWAPI dan Mitra Seni Indonesia (sejak 2015).
Ia juga menjabat CEO PT Dian Rimalma Pratama, pemimpin Yayasan AKSI, serta pengelola Tabloid Online Semesta Seni. Menulis menjadi bagian kehidupannya.












