Jakarta, Veritika.id – Pada tanggal 26 Juli 2026, di Graha Utama Gedung A Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Jakarta, perhelatan puncak Hari Puisi Indonesia mengukir satu babak bersejarah bagi khazanah sastra Nusantara. Di usia 89 tahun, Lesik Keti Ara—lebih dikenal sebagai L.K. Ara—sastrawan kelahiran Takengon, Aceh Tengah, dinobatkan sebagai penerima Anugerah Kepenyairan Adiluhung 2026.
Penghargaan tertinggi bagi penyair Indonesia ini, yang sebelumnya pernah dianugerahkan kepada Sapardi Djoko Damono dan Sutardji Calzoum Bachri, kali ini jatuh kepada sosok yang selama tujuh dekade telah menjadikan kata sebagai jalan pengabdian, menjaga ingatan kolektif masyarakat Gayo, dan merajut benang merah antara tradisi lisan dengan sastra tulis modern.
Penganugerahan yang diserahkan langsung oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon ini bukan sekadar apresiasi terhadap produktivitas karya, melainkan pengakuan atas kesetiaan hidup yang utuh pada panggilan sastra—sebuah integritas yang langka di tengah perubahan zaman yang serba cepat. Dewan juri yang terdiri dari Ahmadun Yosi Herfanda, Rida K. Liamsi, dan Sutardji Calzoum Bachri sendiri menegaskan: L.K. Ara dipilih bukan hanya karena telah melahirkan lebih dari 40 judul buku, melainkan karena ketekunannya yang tak tergoyahkan dalam merawat akar budaya sekaligus membuka cakrawala baru bagi perpuisian Indonesia.
Lahir pada 12 November 1937 silam, dari pasangan ibu Hajah Siti Maryam dan Ayah H. Harun Rasyid, L.K. Ara dibesarkan di jantung Dataran Tinggi Gayo—wilayah yang dikelilingi pegunungan vulkanik, Danau Laut Tawar, hamparan perkebunan kopi arabika, serta kaya akan tradisi lisan didong—L.K. Ara menghirup budaya dan alam sebagai bahasa pertama kehidupannya. Desa Kutelintang, Takengon, Aceh Tengah, tempatnya dilahirkan bukan sekadar titik geografis, melainkan ruang ontologis di mana kata-kata tumbuh bersama ritme musim, cerita nenek moyang, dan nyanyian para petani yang memungut buah kopi di lereng bukit.
Pendidikan formal ditempuhnya secara bertahap: Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di Takengon, kemudian dilanjutkan ke Taman Madya Taman Siswa di Medan, sebelum akhirnya menamatkan studi di Perguruan Tinggi Jurnalistik Universitas Sumatera Utara . Jalur pendidikan ini—yang memadukan akar budaya lokal dengan disiplin intelektual modern—menjadi landasan penting bagi perjalanan kesusastraannya kelak: kemampuan untuk mendengar suara tanah sekaligus berbicara dalam bahasa yang dapat dijangkau oleh pembaca di seluruh Nusantara.
Setelah menyelesaikan studi, langkah kariernya membawanya merantau ke Jakarta pada tahun 1959. Selama tiga tahun ia mengabdi sebagai guru di SMP Sinar Kemajuan, kemudian bergabung dengan Sekretariat Negara Kabinet Perdana Menteri pada 1962–1963. Babak terpenting dimulai ketika ia masuk Balai Pustaka pada tahun 1963, institusi penerbitan kenegaraan tempatnya bekerja hingga pensiun pada tahun 1985—selama 22 tahun, lembaga ini menjadi laboratorium intelektual sekaligus ruang perjumpaan dengan berbagai tokoh bangsa dan aliran kesusastraan.
Sejarah Bersastra : Dari Catatan SMP Hingga Menembus Panggung Nasional
Benih kesusastraan L.K. Ara tumbuh bukan di ruang akademis yang megah, melainkan di bangku Sekolah Menengah Pertama Takengon pada pertengahan tahun 1950-an. Di usia remaja, ia mulai mencatat perenungan tentang alam sekitar, penderitaan rakyat kecil, dan kerinduan akan keadilan dalam bentuk sajak-sajak sederhana. Ketertarikan ini semakin terasah ketika ia merantau ke Medan, di mana ia menjabat sebagai Redaktur Kebudayaan Harian Mimbar Umum. Posisi ini memberinya akses untuk mempublikasikan puisi, cerita anak, serta gubahan sastra lama tidak hanya di media Sumatera Utara, tetapi juga di majalah-majalah terkemuka Jakarta seperti Indonesia, Mimbar Indonesia, dan Pustaka Budaya—menandai masuknya suara Gayo ke dalam peta sastra nasional pada akhir dekade 1950-an.
Periode Medan juga menjadi masa pembentukan karakter estetiknya. Di kota itu, L.K. Ara belajar menyelaraskan dua dunia yang tampak berlawanan: dunia jurnalistik yang menuntut ketepatan fakta dan dunia puisi yang menuntut kedalaman makna. Sintesis inilah yang kemudian menjadi ciri khas seluruh karyanya: bahasa yang jernih, terukur, namun berdenyut dengan empati yang mendalam terhadap realitas sosial.
Puncak dari masa perjuangan awalnya tiba pada tahun 1969, ketika Balai Pustaka menerbitkan kumpulan puisi debutnya yang berjudul Angin Laut Tawar. Buku setebal 16 sajak ini bukan sekadar karya pertama; ia merupakan terobosan budaya yang signifikan. Untuk pertama kalinya, pengalaman hidup masyarakat Gayo—yang selama berabad-abad terkurung dalam tradisi lisan didong—diekspresikan dalam bentuk sastra tulis berbahasa Indonesia yang dapat dibaca oleh seluruh bangsa. Sejak saat itu, sungai kreativitasnya tak pernah surut: hampir setiap tahun lahir karya baru, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa ibu Gayo.
Perjalanan Hidup dalam Kesenian: Tiga Zaman, Satu Integritas
L.K. Ara adalah salah satu dari sedikit sastrawan Indonesia yang melintasi tiga zaman politik berbeda—Orde Lama, Orde Baru, dan Era Reformasi—tanpa pernah kehilangan jati diri maupun komitmen etisnya. Perjalanan keseniannya dapat dipetakan dalam empat dimensi utama yang saling berkaitan:
1. Produktivitas Karya yang Luar Biasa
Sepanjang kariernya, L.K. Ara telah menulis lebih dari 40 judul buku yang mencakup berbagai genre:
-
35 kumpulan puisi berbahasa Indonesia, di antaranya yang paling berpengaruh: Angin Laut Tawar (1969), Kumandang (1971), Kur Lak Lak (1982), Catatan pada Daun (1986), Kening Bulan (1986), Dalam Mawar (1988), serta antologi terbaru Didong dan Tari Guel dari Gayo Aceh (2025) dan Restu (2026).
-
Kumpulan puisi berbahasa Gayo: Junjani, Loyang Sekam, Buntul Kubu (ketiganya 1971), dan Serangkai Saer Gayo (1980)—upaya gigih untuk melestarikan bahasa daerah di tengah dominasi bahasa nasional.
-
Sastra anak-anak: Namaku Bunga (1980), Anggrek Berbunga (1982), Buah-buahan di Kebun (1982), Pohon-Pohon Sahabat Kita (1984)—genre yang jarang digarap oleh penyair seniornya, menunjukkan kepeduliannya pada pembentukan karakter generasi mendatang.
-
Karya penyuntingan: bersama Taufiq Ismail dan Hasyim K.S. menyunting antologi sastra Aceh Seulawah (1995), serta menyunting Jabal Ghafur 86 dan Aceh dalam Puisi (2003)—usaha sistematis untuk menghimpun suara-suara sastrawan dari tanah rencong ke pentas nasional.
Tema-tema yang berulang dalam puisinya selalu berpusat pada tiga poros: keagungan alam Gayo (Danau Laut Tawar, Gunung Burni Telong, kabut pagi di perkebunan kopi), perjuangan hidup rakyat kecil (terutama para pemetik kopi yang bekerja keras dengan bayaran yang tak sepadan), serta kearifan tradisi yang terancam punah oleh modernisasi. Bagi L.K. Ara, menulis puisi bukan kegiatan estetik semata, melainkan cara bertanggung jawab secara moral untuk menjadi suara bagi mereka yang tak didengar oleh kekuasaan.
2. Peran dalam Seni Pentas dan Teater
Selain menulis, L.K. Ara adalah pejuang seni pentas yang tangguh. Pada tahun 1967, bersama Rusman Setiasumarga dan M. Taslim Ali, ia mendirikan Teater Balai Pustaka—salah satu kelompok teater paling produktif di Jakarta pada masa itu yang kerap mengangkat naskah-naskah bertema kerakyatan. Lebih dari itu, ia merupakan tokoh pertama yang membawa seni tradisi Gayo ke panggung nasional: sejak tahun 1970-an, ia secara konsisten menyelenggarakan Festival Didong di Taman Ismail Marzuki Jakarta, memperkenalkan seni sastra lisan yang diwariskan turun-temurun itu kepada masyarakat luas. Ia juga yang menemukan dan mempopulerkan To’et, penyanyi tradisional Gayo yang kemudian dikenal di berbagai kota besar Indonesia sebagai “penyair lisan dari pegunungan”.
3. Diplomasi Budaya Lintas Negara
Suara L.K. Ara tidak hanya bergema di dalam negeri. Ia telah diundang sebagai pembaca puisi dan pembicara dalam berbagai forum internasional, antara lain: Simposium Sastra Islam di Universiti Brunei Darussalam (1992), Festival Tradisi Lisan di Jakarta (1993), serta Kongres Bahasa Melayu Dunia di Kuala Lumpur (1996). Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, Inggris, dan Arab, menjadikannya duta tak resmi yang memperkenalkan kekayaan budaya Aceh ke kancah dunia. Pada 6 April 2018, namanya tercatat dalam sejarah sebagai salah satu dari sedikit sastrawan yang diterima secara khusus oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, dalam rangka dialog tentang peran seni dan budaya bagi pembangunan bangsa .
4. Adaptasi dengan Zaman: Dari Koran Hingga Digital
Yang mengagumkan dari perjalanan L.K. Ara adalah kemampuannya untuk tidak terpenjara oleh zaman. Di usia senja, ketika banyak rekan seangkatannya telah berhenti berkarya, ia justru semakin produktif. Ia tidak segan memanfaatkan teknologi digital: kanal YouTube pribadinya menjadi ruang bagi generasi muda untuk mendengarkan langsung pembacaan puisi, refleksi budaya, serta dokumentasi seni tradisi Gayo. Baginya, perubahan media bukan ancaman, melainkan jalan baru agar kata-kata tetap sampai kepada mereka yang membutuhkannya—prinsip yang ia pegang teguh sejak mula: sastra harus hidup, tidak boleh mati tersimpan di rak perpustakaan.
Kehidupan yang Sarat Makna: Sastra sebagai Jalan Pengabdian
Jika kita merenungkan perjalanan tujuh dekade L.K. Ara, akan tampak satu benang merah yang menyatukan seluruh karya dan tindakannya: baginya, sastra bukanlah karier, melainkan panggilan hidup yang menuntut pengorbanan total. Tidak ada kemewahan yang ia raih dari ratusan puisi dan puluhan buku yang ditulisnya. Selama puluhan tahun, ia hidup sederhana dari gaji pegawai negeri di Balai Pustaka, sementara waktu luangnya—siang, malam, hari libur—dicurahkan seluruhnya untuk me ada qa ada wanulis, membimbing penyair muda, dan merawat tradisi.
Dalam sambutannya saat menerima Anugerah Adiluhung 2026, L.K. Ara mengucapkan kalimat yang penuh kerendahan hati namun sarat makna: “Puisi tidak pernah menjanjikan kekayaan atau jabatan. Ia hanya menjanjikan satu hal: kesetiaan untuk terus bicara tentang kebenaran dan kemanusiaan, sepanjang napas masih tersedia.” Kalimat ini bukan sekadar pidato penerimaan penghargaan, melainkan kesaksian hidup dari seseorang yang telah membuktikannya selama tujuh puluh tahun.
Daftar Prestasi dan Penghargaan
Sepanjang perjalanannya, L.K. Ara telah menerima berbagai bentuk pengakuan, baik dari pemerintah maupun komunitas sastra, antara lain:
-
1969 Terbitnya kumpulan puisi debut Angin Laut Tawar Balai Pustaka — tonggak sastra Gayo modern
-
1967 Mendirikan Teater Balai Pustaka Bersama tokoh sastra Jakarta
-
1970-an Pelopor Festival Didong di Taman Ismail Marzuki Memperkenalkan seni tradisi Gayo secara nasional
-
1992 Pembicara Simposium Sastra Islam Universiti Brunei Darussalam
-
1995 Penyunting Antologi Sastra Seulawah Yayasan Nusantara & Pemda Aceh (bersama Taufiq Ismail)
-
2003 Penyunting Aceh dalam Puisi Himpunan sastrawan Aceh
-
2018 Penerimaan khusus oleh Presiden Joko Widodo Istana Negara — dialog sastrawan nasional
-
2019 Anugerah Kebudayaan Republik Indonesia: Maestro Seni Tradisi Didong Gayo Pemerintah Republik Indonesia — penghargaan negara tertinggi di bidang pelestarian tradisi
-
2025 Peluncuran antologi puisi ke-15 Didong dan Tari Guel dari Gayo Aceh PDS HB Jassin TIM Jakarta — dengan tema “Suara dari Anak Gunung”
-
Maret 2026 Peluncuran antologi Syair Riwayat Sultanah Safiatuddin dan Restu Memperkuat narasi sejarah perempuan Aceh melalui puisi
-
26 Juli 2026 Anugerah Kepenyairan Adiluhung 2026 Yayasan Hari Puisi Indonesia & Kementerian Kebudayaan — penghargaan tertinggi bagi penyair Indonesia (disertai piagam, piala, dan dana pembinaan Rp40 juta)
Penutup: Makna Sebuah Anugerah di Ujung Zaman
Anugerah Adiluhung 2026 bagi L.K. Ara bukanlah titik akhir dari sebuah perjalanan, melainkan pengukuhan sejarah bahwa ketekunan yang tak kenal lelah pada akhirnya akan mendapatkan tempatnya dalam ingatan bangsa. Ia adalah bukti hidup bahwa sastra tidak perlu berteriak-teriak untuk didengar; yang dibutuhkan hanyalah kesetiaan untuk terus menulis dari hati yang paling dalam, tentang hal-hal yang paling benar.
Di tengah maraknya budaya populer yang mengutamakan ketenaran sesaat dan konten yang cepat dilupakan, sosok L.K. Ara hadir sebagai penanda zaman yang menenangkan. Ia mengajarkan kita bahwa karya yang abadi tidak lahir dari keinginan untuk menjadi terkenal, melainkan dari kerelaan untuk menjadi pelayan bagi kebenaran, keindahan, dan kemanusiaan. Sebagai “anak gunung” yang tak pernah melupakan jalan pulang ke kampung halamannya, ia telah menunjukkan bahwa akar yang paling dalam akan menghasilkan pohon yang paling rindang, tempat berteduhnya banyak generasi.
Semoga penghargaan ini tidak hanya menjadi apresiasi bagi masa lalu yang telah ia lalui dengan penuh kehormatan, tetapi juga menjadi lentera bagi penyair-penyair muda Indonesia: bahwa di ujung pengabdian yang panjang dan sunyi itu, ada cahaya yang akan selalu menyala—cahaya kata-kata yang tak pernah padam, karena ia bersumber dari jiwa yang setia.
L.K. Ara, Maestro Sastra dari Dataran Tinggi Gayo, namanya kini telah terukir dengan tinta emas dalam daftar panjang sastrawan besar Nusantara. Dan yang terpenting, karyanya akan terus hidup, berhembus seperti angin dari Danau Laut Tawar yang selalu segar, membawa pesan damai dan perenungan bagi siapa saja yang mau mendengarkan.
Kontributor Artikel : Nuyang Jaimee
Nuyang Jaimee adalah Pegiat/aktifis seni, sastra dan teater. Direktur lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI). Pendiri komunitas Keluarga Besar Penyar Seksih (KBPS) dan Kampung Seni Jakarta (KSJ). Ia juga bergabung di Komunitas WPI dan MKJ. Karya-karyanya, baik fiksi dan nonfiksi masuk di beberapa media massa di Jakarta dan daerah, selain masuk dalam portal online dan majalah sastra, juga dalam antologi bersama dalam dan luar negeri.
Menginisiasi dan aktif mengikuti berbagai kegiatan, acara dan pertemuan seni, sastra dan budaya. Sebagai pembaca puisi, monolog, dan sutradara teater. Menulis cerpen, puisi, esai, artikel, feature, juga naskah drama dan skenario. Menjadi guru (pengajar/pelatih) seni teater dan sastra di sekolah, narasumber, moderator sekaligus Master of Ceremony. Juara satu lomba baca puisi se-Asia Tenggara acara ZKMUA, Malaysia. Juara dua lomba cipta puisi elaborasi karya senirupa, Satarupa. Buku Puisi tunggalnya “Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya” terbit 2023.
(*)












