Jakarta, Veritika.id – Bagi Rotua Magda Pardede, Pinisi bukan sekadar kapal layar yang dikenal sebagai salah satu hasil kebudayaan maritim Indonesia. Pertemuannya dengan Pinisi justru berawal dari sebuah pengalaman personal yang terjadi sekitar tujuh tahun lalu.
Saat sedang berdoa, Rotua melihat sebuah kapal melalui sebuah jendela besar. Namun, jendela tersebut terasa seperti pintu yang mengarah ke laut luas. Di hadapannya tampak sebuah kapal layar yang kemudian tersimpan sebagai sebuah gambaran tanpa ia pahami maksudnya.
Beberapa tahun setelah pengalaman tersebut, Rotua berkunjung ke Benteng Rotterdam. Di tempat itu, ia melihat sebuah kapal yang menarik perhatiannya. Ia kemudian mengetahui bahwa kapal tersebut adalah Pinisi.
Pertemuan itu membuat pengalaman yang pernah dilihatnya beberapa tahun sebelumnya memperoleh konteks baru.
Sejak saat itu, Rotua mulai mencari tahu tentang Pinisi. Pencarian tersebut membawanya ke Bulukumba, Sulawesi Selatan, tempat ia dapat melihat secara langsung proses pembuatan kapal.
Ia mengamati para pembuat kapal, melihat material yang digunakan, memperhatikan bentuk kapal, serta membuat sejumlah sketsa. Tangga, layar, bagian kapal, tubuh manusia, dan berbagai bentuk yang ditemuinya menjadi bahan untuk mengembangkan gagasan.
Bagi Rotua, proses tersebut bukan hanya soal mengenali bentuk sebuah kapal. Ia mulai bertanya mengenai hubungan antara manusia, kayu, tanah, laut, angin, bintang, serta pengetahuan yang digunakan oleh para pembuat Pinisi.
Mencari Cerita di Bulukumba
Kunjungan ke Bulukumba menjadi salah satu tahap penting bagi perkembangan karya tersebut. Rotua tidak hanya melihat kapal yang sudah selesai dibuat, tetapi juga memperhatikan bagaimana kapal itu dikerjakan.
Ia berbincang dengan seorang Panrita Lopi, sebutan bagi orang yang memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam pembuatan Pinisi. Dari percakapan tersebut, muncul berbagai pertanyaan yang kemudian ikut memengaruhi proses penciptaannya.
Salah satu hal yang menarik bagi Rotua adalah angka dua dan tujuh.
Angka dua ia hubungkan dengan berbagai hal yang memiliki pasangan: laki-laki dan perempuan, hidup dan mati, awal dan akhir, serta hubungan antara dua unsur yang saling berhadapan.
Sementara angka tujuh ia hubungkan dengan tujuh hari dalam satu pekan dan perjalanan manusia melalui waktu.
Bagi Rotua, angka-angka tersebut bukan sekadar hitungan. Angka menjadi bagian dari pertanyaan mengenai kehidupan, perjalanan, serta perubahan yang dialami manusia.
Pencarian kemudian bergerak menuju kisah-kisah yang lebih tua.
Rotua menelusuri cerita Sawerigading, Tenri Abeng, We Cudai, dan I La Galigo. Ia juga menelusuri kisah tentang Pohon Hayat serta perjalanan Sawerigading menuju Negeri Cina dan We Cudai.
Berbagai kisah tersebut kemudian bertemu dengan pemikirannya mengenai Pinisi.
Kapal tidak lagi dilihat hanya sebagai benda yang digunakan untuk berlayar. Bentuk, bahan, pembuatannya, perjalanan di laut, serta kisah yang mengiringinya menjadi bagian dari rangkaian gagasan yang kemudian berkembang menjadi karya “Pinisi Adalah Kita Nusantara.”
Ara, Lemo-Lemo, dan Bira
Salah satu bagian penting dari konsep karya ini berkaitan dengan tiga wilayah yang disebut Rotua, yaitu Ara, Lemo-Lemo, dan Bira.
Ketiganya memiliki posisi masing-masing dalam gagasan mengenai Pinisi.
Ara berkaitan dengan kayu yang kemudian menjadi tubuh kapal.
Kayu bukan hanya bahan yang dipotong dan dirakit. Ada proses memilih, mengolah, mengukur, menyusun, dan membentuk material hingga menjadi sebuah kapal. Pada tahap tersebut terdapat keterampilan yang dimiliki oleh pembuat Pinisi dan pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ara kemudian ditempatkan sebagai bagian yang berhubungan dengan kayu sebagai tubuh.
Lemo-Lemo berkaitan dengan tanah dan tempat manusia bekerja.
Di atas tanah, material dipersiapkan dan kapal dibuat. Manusia menggunakan tangan untuk mengolah bahan, mengukur bagian-bagian kapal, menyatukan komponen, serta menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan ketelitian.
Karena itu, Lemo-Lemo ditempatkan sebagai bagian yang berkaitan dengan tanah sebagai tempat manusia bekerja dan memberi bentuk pada material.
Sementara Bira berkaitan dengan laut, angin, dan bintang.
Setelah kapal selesai dibuat, laut menjadi ruang bagi perjalanan. Angin membantu menentukan gerak layar, sedangkan bintang digunakan sebagai salah satu petunjuk arah bagi pelaut.
Bira kemudian ditempatkan sebagai bagian yang berkaitan dengan angin dan bintang sebagai penunjuk arah.
Ketiga wilayah tersebut menjadi bagian dari cara Rotua menyusun gagasan tentang Pinisi: kayu sebagai tubuh, tanah sebagai tempat manusia bekerja, serta angin dan bintang sebagai penunjuk arah.
Konsep tersebut tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan dengan cara sebuah kapal dibuat, siapa yang membuatnya, material yang digunakan, tempat kapal dikerjakan, hingga pengetahuan yang dibutuhkan ketika kapal mulai berlayar.
Pinisi sebagai Tubuh Manusia Nusantara
Dari berbagai pencarian tersebut, Rotua kemudian menempatkan Pinisi sebagai gambaran tubuh manusia Nusantara.
Tubuh tersebut bukan hanya bentuk fisik. Ia membawa pengalaman manusia, perjalanan, tanah tempat berpijak, laut yang dilalui, serta pengetahuan yang diwariskan.
Kayu menjadi bagian yang membentuk tubuh kapal. Tanah menjadi tempat manusia bekerja. Laut menjadi ruang perjalanan. Angin dan bintang membantu menentukan arah.
Hubungan tersebut kemudian digunakan Rotua untuk melihat Pinisi sebagai bagian dari pengalaman manusia.
Manusia lahir, tumbuh, bekerja, berpindah tempat, bertemu dengan orang lain, mengenal lingkungan, kemudian meneruskan pengetahuan yang diperolehnya.
Pinisi menjadi cara bagi Rotua untuk membicarakan hubungan tersebut tanpa memisahkan kapal dari manusia yang membuat dan menggunakannya.
Karena itu, tubuh manusia menjadi salah satu unsur penting dalam penciptaan karya.
Sketsa yang dibuat Rotua sejak berada di Bulukumba memperlihatkan bagaimana bentuk tubuh dan bentuk kapal mulai dipertemukan. Tangga, layar, badan kapal, serta bentuk manusia muncul sebagai bagian dari proses pencarian visual.
Bentuk-bentuk tersebut kemudian dikembangkan melalui berbagai media.
Dari Seni Rupa hingga Fotografi
“Pinisi Adalah Kita Nusantara” tidak dibuat melalui satu bentuk seni saja.
Rotua menggabungkan seni rupa, sastra, fotografi, instalasi, dan pertunjukan.
Setiap media memiliki fungsi masing-masing.
Seni rupa digunakan untuk mengembangkan bentuk visual. Instalasi memberi ruang bagi objek dan material untuk ditempatkan secara fisik. Fotografi digunakan untuk merekam manusia, lingkungan, proses kerja, serta berbagai hal yang ditemui selama pencarian.
Sastra menjadi bagian yang menghubungkan karya dengan kisah dan teks yang menjadi sumber pencarian. Pertunjukan kemudian memberi kemungkinan bagi tubuh manusia untuk hadir sebagai bagian dari karya.
Penggunaan beberapa media tersebut muncul dari proses penciptaan yang berlangsung secara bertahap. Rotua tidak sejak awal memisahkan setiap medium sebagai bagian yang berdiri sendiri. Berbagai bentuk tersebut berkembang mengikuti kebutuhan karya.
Fotografi, misalnya, tidak hanya digunakan untuk menghasilkan gambar kapal.
Kamera juga digunakan untuk merekam proses pembuatan, lingkungan sekitar, orang-orang yang ditemui, serta berbagai detail yang kemudian dapat kembali dilihat ketika proses penciptaan berlangsung.
Sketsa memiliki fungsi serupa. Ia menjadi catatan visual dari apa yang dilihat dan dipikirkan Rotua ketika berada di lapangan.
Melihat Proses Pembuatan Pinisi
Pengamatan terhadap pembuatan Pinisi memberi pengalaman yang berbeda dibandingkan hanya melihat kapal yang sudah selesai.
Rotua dapat melihat bagaimana kayu dipilih dan dikerjakan. Ia melihat ukuran, bentuk, susunan bagian kapal, serta cara para pembuatnya bekerja.
Dari sana muncul pertanyaan mengenai hubungan antara tangan manusia dan material.
Sebuah kapal yang terlihat besar dan kuat pada akhirnya tersusun dari berbagai bagian yang dikerjakan satu per satu.
Ada pengukuran, pemotongan, penyusunan, pemasangan, dan penyelesaian. Setiap tahap membutuhkan pengetahuan dan keterampilan.
Hal tersebut kemudian masuk ke dalam pemikiran Rotua mengenai tubuh manusia.
Tubuh kapal tersusun dari kayu. Tubuh manusia juga tersusun dari berbagai bagian yang bekerja bersama.
Perbandingan tersebut menjadi salah satu cara Rotua mengembangkan bentuk karya tanpa menghilangkan karakter Pinisi sebagai kapal.
Laut sebagai Jalur Perjalanan
Laut juga menjadi bagian penting dalam karya ini.
Bagi Rotua, laut tidak hanya menjadi wilayah yang memisahkan pulau. Laut juga menjadi jalur yang menghubungkan manusia dari satu tempat ke tempat lain.
Melalui laut, manusia melakukan perjalanan, membawa barang, bertemu dengan masyarakat dari wilayah lain, bertukar pengetahuan, serta mengenal lingkungan yang berbeda.
Pinisi berada pada ruang tersebut.
Kapal digunakan untuk bergerak dari satu wilayah menuju wilayah lain. Karena itu, pembicaraan mengenai Pinisi tidak dapat dilepaskan dari pengetahuan mengenai laut.
Angin, bintang, cuaca, arah, dan pengalaman pelaut menjadi bagian dari perjalanan.
Bagi Rotua, unsur tersebut berkaitan dengan kehidupan manusia. Ada saat seseorang menentukan arah, menghadapi perubahan keadaan, kemudian mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan yang dimiliki.
Pohon, Kayu, dan Tanah
Pembicaraan mengenai Pinisi kemudian membawa Rotua pada persoalan alam.
Kayu yang digunakan untuk membuat kapal berasal dari pohon. Sebelum menjadi bagian dari kapal, pohon tumbuh di tanah dan menjadi bagian dari lingkungan hidup.
Rotua juga menemukan bahwa dalam tradisi tertentu, proses menebang pohon dapat disertai doa atau ritual sebagai bentuk penghormatan terhadap kehidupan yang diambil untuk kebutuhan manusia.
Hal tersebut menjadi bagian dari pencarian yang ia temui selama mengembangkan karya.
Baginya, pohon bukan sekadar bahan yang tersedia untuk digunakan. Ada hubungan antara manusia, tanah, tumbuhan, dan kebutuhan hidup.
Pemikiran tersebut kemudian masuk ke dalam karya melalui berbagai bentuk visual dan material.
Pinisi menjadi titik pertemuan antara kayu, manusia, tanah, laut, serta pengetahuan yang digunakan untuk mengolah semuanya.
Sawerigading dan Jejak Cerita
Pencarian Rotua tidak berhenti pada bentuk fisik kapal.
Ia juga menelusuri cerita Sawerigading dan tokoh-tokoh yang berkaitan dengan I La Galigo.
Sawerigading, Tenri Abeng, dan We Cudai menjadi bagian dari kisah yang ia pelajari. Perjalanan Sawerigading menuju Negeri Cina dan pertemuannya dengan We Cudai kemudian ditempatkan sebagai salah satu bagian dari pencarian mengenai perjalanan manusia dan hubungan antarwilayah.
I La Galigo sendiri menjadi salah satu sumber yang memperluas pencarian Rotua terhadap hubungan antara manusia, alam, perjalanan, dan asal-usul.
Pohon Hayat juga menjadi bagian dari pencarian tersebut.
Berbagai sumber tersebut tidak ditempatkan sebagai cerita yang berdiri sendiri. Rotua menghubungkannya dengan pertanyaan mengenai bagaimana manusia memahami asal-usul, perjalanan, tempat tinggal, serta hubungan dengan lingkungan.
Dari Pengalaman Personal Menjadi Karya
Proses penciptaan “Pinisi Adalah Kita Nusantara” berangkat dari pengalaman yang sangat personal, tetapi kemudian berkembang melalui penelitian, perjalanan, percakapan, pengamatan, sketsa, fotografi, dan pencarian bahan bacaan.
Pengalaman melihat kapal saat berdoa menjadi titik awal.
Pertemuan dengan Pinisi di Benteng Rotterdam memberi petunjuk baru.
Bulukumba memberi kesempatan untuk melihat proses pembuatan kapal secara langsung.
Percakapan dengan Panrita Lopi membuka pertanyaan mengenai angka, kehidupan, serta perjalanan.
Pencarian mengenai Sawerigading, Tenri Abeng, We Cudai, I La Galigo, dan Pohon Hayat kemudian memperluas bahan yang digunakan.
Semua tahap tersebut kemudian masuk ke proses penciptaan.
Rotua tidak hanya menghasilkan satu objek. Ia mengembangkan sejumlah karya yang saling berkaitan melalui seni rupa, sastra, fotografi, instalasi, dan pertunjukan.
Instalasi dan Pengalaman Pengunjung
Dalam penyajiannya, instalasi menjadi salah satu bentuk yang memungkinkan pengunjung melihat karya secara langsung.
Pengunjung tidak hanya berhadapan dengan hasil akhir, tetapi juga dapat melihat unsur yang berkaitan dengan proses penciptaan.
Instalasi Pinisi dan karya fotografi menjadi bagian dari rangkaian tersebut.
Fotografi merekam perjalanan, manusia, ruang, proses, dan detail yang ditemukan selama riset. Hasil dokumentasi tersebut kemudian menjadi bagian dari penyajian karya.
Konsep tersebut membuat proses penciptaan tidak sepenuhnya tersembunyi dari pengunjung.
Apa yang biasanya hanya berada di belakang layar dapat ditampilkan sebagai bagian dari pameran.
Karena itu, proses dan hasil karya ditempatkan berdekatan. Pengunjung dapat melihat bentuk akhir sekaligus mengenali sebagian tahapan yang menyertainya.
Pinisi dan Hubungan dengan Tanah Air
Pada titik tertentu, pencarian Rotua kembali pada hubungan manusia dengan tanah air.
Tanah bukan hanya tempat seseorang tinggal. Tanah berkaitan dengan pohon yang tumbuh, bahan yang digunakan manusia, tempat bekerja, serta lingkungan yang menopang kehidupan.
Laut juga memiliki posisi yang sama penting.
Bagi masyarakat yang hidup dan bekerja dengan laut, pengetahuan mengenai angin, cuaca, bintang, arah, dan kondisi perairan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pinisi mempertemukan berbagai unsur tersebut.
Ada kayu yang berasal dari pohon. Ada tanah tempat manusia mengolah bahan. Ada tangan yang mengerjakan kapal. Ada laut yang menjadi jalur perjalanan. Ada angin dan bintang yang membantu menentukan arah.
Melalui karya ini, Rotua menghubungkan unsur-unsur tersebut dengan tubuh manusia.
Manusia menggunakan alam untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi pada saat yang sama memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan tempat hidupnya.
Pemikiran tersebut menjadi salah satu bagian yang terus muncul selama proses penciptaan.
Antara Warisan dan Masa Depan
Bagi Rotua, warisan tidak hanya berbentuk benda.
Pengetahuan mengenai pembuatan kapal, cara membaca kondisi laut, penggunaan material, cerita yang diwariskan, serta hubungan manusia dengan lingkungan juga menjadi bagian dari warisan.
Pinisi memperlihatkan hal tersebut melalui bentuk yang dapat dilihat secara fisik sekaligus melalui pengetahuan yang menyertainya.
Pertanyaan mengenai masa depan kemudian muncul dari sana.
Apa yang masih dijaga? Apa yang berubah? Pengetahuan apa yang masih diteruskan? Bagaimana manusia memperlakukan tanah, laut, pohon, dan sumber daya alam?
Pertanyaan tersebut tidak dijawab melalui satu pernyataan.
Rotua memilih menyampaikannya melalui karya.
Seni rupa, fotografi, instalasi, sastra, dan pertunjukan menjadi cara untuk menyusun berbagai bagian dari pencarian tersebut.
Pinisi sebagai Tubuh yang Membawa Kisah
Pada akhirnya, Pinisi bagi Rotua bukan hanya kapal yang bergerak dari satu pelabuhan menuju pelabuhan lain.
Pinisi menjadi cara untuk membicarakan manusia.
Kayu membentuk tubuh kapal. Tanah menjadi tempat manusia mengerjakan material. Laut menjadi jalur perjalanan. Angin dan bintang membantu menunjukkan arah.
Di balik semua itu terdapat pengetahuan manusia yang membuat sebuah kapal dapat berdiri dan berlayar.
Ada tangan yang bekerja, mata yang mengamati, pengalaman yang diwariskan, serta cerita yang terus diceritakan.
“Pinisi Adalah Kita Nusantara” kemudian hadir sebagai karya yang mempertemukan pengalaman personal Rotua dengan pencarian mengenai budaya maritim, kisah leluhur, lingkungan, dan kehidupan manusia.
Karya tersebut tidak berhenti pada bentuk kapal.
Ia mengajak pengunjung melihat hubungan antara tubuh, kayu, tanah, laut, dan perjalanan melalui sejumlah medium seni.
Bagi Rotua, pencarian itu berawal dari sebuah kapal yang ia lihat ketika berdoa. Bertahun-tahun kemudian, kapal tersebut ditemukan kembali dalam bentuk Pinisi dan berkembang menjadi sebuah karya yang menghubungkan pengalaman pribadi dengan kisah yang lebih luas mengenai manusia dan tanah air.
Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bukan hanya tentang bagaimana sebuah Pinisi dibuat atau ke mana kapal itu berlayar.
Ada pertanyaan lain yang mengikuti: apa yang diwariskan kepada manusia, apa yang masih dijaga, dan apa yang akan dibawa menuju masa depan?
Bagi Rotua, menjaga tanah, laut, pohon, serta kehidupan yang ada di sekitarnya merupakan bagian dari menghargai kehidupan dan pesan yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Dari titik itulah “Pinisi Adalah Kita Nusantara” menemukan bentuknya: sebuah karya yang berangkat dari pengalaman melihat kapal, lalu berkembang melalui riset, perjalanan, pengamatan, kisah, dan berbagai bentuk seni.












