BeritaPendidikanSeni & Budaya

PURNAMA DARI TIMUR VOL. 4 MENGHIDUPKAN PANGGUNG SASTRA DAN SENI DI JAKARTA TIMUR  

9
×

PURNAMA DARI TIMUR VOL. 4 MENGHIDUPKAN PANGGUNG SASTRA DAN SENI DI JAKARTA TIMUR  

Sebarkan artikel ini
Festival Komunitas Purnama Dari Timur Vol. 4 berlangsung di Pusat Pelatihan dan Seni Budaya (PPSB) Jakarta Timur, Sabtu, 3 Oktober 2026. Kegiatan yang digelar Komunitas Sastra Jakarta Timur (KSJT) tersebut diikuti 106 peserta dalam tiga cabang kompetisi, yaitu Baca Puisi, Cipta Puisi, dan Menulis Cerpen. Selain perlombaan, acara juga menghadirkan pertunjukan angklung, reog, musik, serta bazar buku.

Penulis : Rissa Churria 

Jakarta, Veritika.id – Dari wilayah timur Jakarta, suara sastra kembali menggema. Puisi, cerpen, kesenian tradisional, musik, hingga buku bertemu dalam satu perhelatan bertajuk Festival Komunitas Purnama Dari Timur Vol. 4, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Digelar di Pusat Pelatihan dan Seni Budaya (PPSB) Jakarta Timur, festival yang diinisiasi Komunitas Sastra Jakarta Timur (KSJT) tersebut menjadi ruang pertemuan bagi pelajar, pegiat sastra, seniman, komunitas, dan masyarakat.

Sebanyak 106 peserta mengikuti rangkaian kompetisi yang terdiri atas Baca Puisi, Cipta Puisi, dan Menulis Cerpen. Sejumlah pertunjukan turut melengkapi festival, di antaranya angklung, reog, dan pentas musik. Bazar buku juga menjadi bagian dari kegiatan, menghadirkan buku sebagai elemen penting dalam ekosistem kesenian.

Festival dibuka oleh Ahmad Prabowo Dirgantara, Ketua KSJT, yang menyampaikan sambutan mengenai arti penting ruang kesenian dan komunitas dalam menjaga keberlangsungan kegiatan sastra, khususnya di Jakarta Timur.

Bagi penyelenggara, Purnama Dari Timur tidak hanya dirancang sebagai agenda perlombaan. Ben Satriaji, Ketua Panitia, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang yang memungkinkan peserta mengalami sendiri proses berkesenian.

“Peserta bukan hanya datang untuk mengikuti lomba. Mereka datang untuk mengalami sebuah proses. Ada keberanian tampil, ada pertemuan dengan teman-teman baru, ada kesempatan mendapatkan masukan dari juri, dan ada pengalaman yang bisa mereka bawa pulang,” ujar Ben.

Ia berharap pengalaman tersebut dapat mendorong peserta untuk melanjutkan aktivitas kreatif di luar festival.

“Jangan sampai setelah festival selesai, selesai juga kegiatan menulisnya. Justru setelah ini prosesnya harus berjalan. Membaca, menulis, berdiskusi, dan berkarya harus terus dilakukan,” lanjutnya.

Rangkaian festival juga memberi ruang bagi peserta untuk menerima evaluasi. Imam Ma’arif memberikan catatan terkait pembacaan puisi, sementara Kurnia Effendi memberikan perhatian terhadap proses pengolahan gagasan dalam penciptaan puisi. Saut Poltak Tambunan mendorong peserta untuk membangun kebiasaan menulis secara berkelanjutan.

Tidak berhenti pada ruang komunitas, kegiatan tahun ini juga membuka jalur kolaborasi dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Para pemenang dari cabang Baca Puisi, Cipta Puisi, dan Menulis Cerpen diproyeksikan menjadi wakil wilayah dalam Festival Sastra Jakarta 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 4 November 2026 di Taman Ismail Marzuki, Cikini.

Esha Tegar Putra, mewakili Komite Sastra DKJ, turut menyoroti pentingnya keberadaan kegiatan sastra yang konsisten, terutama sebagai ruang pembinaan bagi pelajar SMP dan SMA.

Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan komunitas dapat menjadi bagian dari mata rantai pembinaan kesenian yang lebih luas. Dari lomba di tingkat wilayah, peserta mendapatkan kesempatan untuk mengenal panggung dan lingkungan sastra yang lebih besar.

Tiga Cabang, Sembilan Pemenang

Setelah melalui proses penilaian, festival mengumumkan para pemenang.

Baca Puisi

 

– Juara I: Fariz Naf’an

– Juara II: Naomi

– Juara III: Kalyana Dewi Mulia

 

Cipta Puisi

 

– Juara I: Rafla Bima Pratama

– Juara II: Syahrani Dea Ananda Putri

– Juara III: Felicia Celinda Lavenia

 

Menulis Cerpen

 

– Juara I: Riant Sabio Aydin

– Juara II: Syarifa Putri Adzakia

– Juara III: Manggar Arundati

Purnama Dari Timur Vol. 4 mempertemukan dua hal yang sering berjalan beriringan dalam kehidupan kesenian: tradisi dan regenerasi.

Di satu sisi, kesenian seperti angklung dan reog mendapat tempat untuk tampil. Di sisi lain, anak-anak muda diberi panggung untuk menyampaikan puisi, menulis cerita, dan memperkenalkan gagasan mereka.

Jakarta Timur pun tidak hanya menjadi latar penyelenggaraan festival. Ia menjadi ruang tempat komunitas bekerja, seniman bertemu, pelajar belajar, dan karya-karya baru mulai menemukan jalannya.

Purnama Dari Timur akhirnya bukan sekadar festival yang berlangsung sehari. Ia menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk menjaga agar sastra dan kesenian tetap memiliki ruang hidup di tengah perubahan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *