Jakarta, Veritika.id – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Pusat Dokumen Sastra HB Jassin serta Komunitas PojokTIM mengadakan rangkaian kegiatan sastra.
Acara ini meliputi sesi diskusi dan peluncuran buku. Kegiatan berlangsung pada Selasa (9/6/2026) pukul 14.00 WIB hingga selesai. Bertempat di Ruang Sastra PDS HB Jassin, Lantai 4 Gedung Ali Sadikin, Jalan Cikini Raya Nomor 73, kawasan Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.
Pembahasan utama berpusat pada buku berjudul Mengapa Saya Berubah: Dari Realisme Sosial ke Eksistensialisme Jawa karya Yon Bayu Wahyono. Pada kesempatan yang sama, diluncurkan dua kumpulan cerita pendek. Karya pertama berjudul Simfoni Kata yang Berkarat ditulis oleh Nanang R. Supriyatin, sedangkan karya kedua berjudul Kisah di Toko Boneka Warna-warni merupakan tulisan Endah Wijayanti.
Salah satu momen menarik terjadi ketika moderator Giyanto Subagio meminta Riri Satria untuk menyampaikan pandangan terkait dua aliran pemikiran yang menjadi inti acara tersebut. Ia kemudian menguraikan makna dan perbedaan antara realisme sosial serta eksistensialisme berdasarkan rujukan yang dipahaminya.
Dijelaskan oleh Riri Satria, bahwa realisme sosial tumbuh dan berkembang dalam lingkup sastra dan seni. Sebaliknya, eksistensialisme berakar dari bidang filsafat sebelum kemudian berpengaruh terhadap karya sastra, teater, dan disiplin lainnya.
Realisme sosial adalah cara pandang yang berusaha menggambarkan kehidupan masyarakat sebagaimana kenyataannya, terutama situasi yang dialami berbagai kelompok dalam keseharian.
Pendekatan ini tidak menampilkan gambaran yang dibuat-buat atau berlebihan, melainkan menyoroti keadaan nyata seperti kemiskinan, ketimpangan, perjuangan hidup, hubungan kekuasaan, dan masalah lain yang dihadapi masyarakat. Dalam konteks ini, karya berfungsi sebagai sarana mengenali keadaan sekitar dan mendorong kesadaran atas persoalan kemanusiaan.
Sementara itu, eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang menempatkan manusia sebagai titik pusat pembahasan. Hal utama yang dikaji berkaitan dengan kebebasan, pilihan, tanggung jawab, dan pencarian makna hidup. Menurut pandangan Riri Satria, manusia tidak memiliki arti hidup yang telah ditentukan sejak lahir. Sebaliknya, makna tersebut dibentuk sendiri melalui keputusan dan tindakan yang diambil. Oleh sebab itu, aliran ini sering mengangkat tema kesendirian, kegelisahan, kebebasan, kematian, serta pergulatan batin saat menghadapi situasi yang sering kali tidak memberikan jawaban pasti.
Realisme sosial memandang manusia sebagai bagian dari lingkungan dan tatanan masyarakat yang membentuk jalannya kehidupan. Di sisi lain, eksistensialisme lebih menitikberatkan pada individu yang berhadapan dengan dirinya sendiri dan pilihan yang harus diambil. Realisme sosial mengajukan pertanyaan mengenai bagaimana keadaan sekitar memengaruhi kehidupan seseorang. Adapun eksistensialisme melihat bagaimana individu memberi arti atas hidupnya di tengah berbagai batasan dan ketidakpastian.
Meskipun memiliki fokus yang berbeda, keduanya kerap bertemu dalam karya sastra yang menggambarkan perjalanan manusia, baik sebagai bagian dari kelompok maupun sebagai pribadi yang mencari makna keberadaan.
Riri Satria sendiri adalah akademisi bidang teknologi sekaligus sastrawan kelahiran Padang, 14 Mei 1970. Ia bertugas sebagai dosen pascasarjana di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia dan menjabat sebagai Komisaris Utama PT Integrasi Logistik Cipta Solusi. Dalam dunia sastra, ia memimpin Komunitas Jagat Sastra Milenia. Sejumlah karyanya telah diterbitkan, antara lain kumpulan puisi berjudul Jendela, Winter in Paris, Siluet, Senja dan Jingga, Metaverse, serta Login Haramain. Tulisan-tulisannya mengangkat gambaran kehidupan masa kini, perkembangan dunia maya, serta dampak kemajuan teknologi terhadap cara berinteraksi antarmanusia.
Secara keseluruhan, acara yang mengusung tajuk “Peluncuran Kumpulan Cerita Pendek Simfoni Kata yang Berkarat dan Kisah di Toko Boneka Warna-warni serta Diskusi Sastra Mengapa Saya Berubah: Dari Realisme Sosial ke Eksistensialisme Jawa” ini diselenggarakan sebagai wadah berbagi pengetahuan dan mempererat hubungan antara pengarang dan pembaca.












