Jakarta, Veritika.id – Gereja Santo Yohanes Penginjil atau Paroki Blok B di Jakarta Selatan menjadi saksi kehadiran sosok musisi ternama dalam acara penggalangan dana bertajuk “Berkarya Tanpa Batas” pada Sabtu (2/5/2026).
Kegiatan ini digelar untuk mendukung pengembangan program pendampingan umat berkebutuhan khusus. Pihak paroki yang berada di bawah reksa pastoral Serikat Yesus memilih Ananda Sukarlan sebagai tokoh sentral dalam sisi artistik acara ini.
Pilihan ini memiliki alasan kuat mengingat latar belakang pribadi dan profesional sang maestro. Ananda Sukarlan dikenal sebagai pianis dan komponis klasik yang memiliki kondisi Asperger’s serta sindrom Tourette. Ia juga merupakan alumni SMA Kolese Kanisius, lembaga pendidikan di bawah naungan Ordo Jesuit. Kedekatan nilai dan pengalaman hidup inilah yang membuatnya menerima undangan tersebut dengan antusias.
Acara yang digelar bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional ini dibuka dengan penampilan karya “Variations on Ibu Soed’s ‘Pergi Belajar’”. Komposisi ini merupakan karya yang dibeli oleh pengusaha Edwin Soeryadjaya dan didedikasikan khusus untuk Julia H. Soeryadjaya.
Selanjutnya, dalam suasana peringatan Hari Kartini, Ananda menampilkan karya berjudul “Panggil Aku Kartini Saja”. Komposisi ini dibuat berdasarkan novel karya Pramoedya Ananta Toer dengan judul yang sama. Struktur musik yang diciptakan mengikuti cara penggalangan buku yang tidak berdasar urutan waktu, melainkan berdasarkan fragmen pemikiran R.A. Kartini.
Musik yang dimainkan menggambarkan sisi kehidupan tokoh tersebut, mulai dari latar belakang keluarga, kepedulian sosial, pandangan terhadap budaya asing, hingga aspek spiritualitas. Bagian akhir karya yang berbentuk Fuga atau sistem polifoni merefleksikan kerumitan pola pikir dan pergulatan batin yang dialami Kartini di tengah pengaruh sistem feodal dan kolonial pada masanya.
Sebagai komponis produktif, Ananda Sukarlan kembali melahirkan karya-karya baru yang diperdengarkan untuk pertama kalinya dalam konser ini. Ia menggandeng penyanyi soprano Pepita Salim untuk membawakan seri Tembang Puitik terbarunya. Pepita Salim yang memiliki latar belakang pendidikan musik dari New England Conservatory of Music, Boston, Amerika Serikat, dan pernah tergabung dalam musikal Broadway, dipilih untuk menginterpretasikan notasi-notasi baru tersebut.
Dalam kesempatan ini, diperdengarkan karya “Kepada Penyair Eksil” berdasarkan puisi Ence Sumirat, dua puisi karya Yudi Damanhuri berjudul “Prosa Senja” dan “Pualam III”, serta “Amnesia” karya Yon Bayu Wahyono. Selain karya perdana, Pepita juga menyanyikan “Satria” dari puisi Yoevita Soekotjo dengan teknik vokal yang matang. Penampilan ini menjadi bukti kerja sama artistik yang solid antara pencipta lagu dan penyanyi.
Ananda Sukarlan dikenal aktif membuka ruang bagi talenta lain, terutama mereka yang memiliki kondisi khusus atau masih berusia muda. Dalam konser ini, ia mengajak penyanyi cilik Pingkan Sherrina Pandeinuwu (11 tahun). Siswa asal Tomohon ini ditemukan oleh Ananda pada ajang kompetisi kolintang akhir tahun 2025. Dengan sejumlah prestasi yang telah diraih, Pingkan membawakan tiga karya populer Ananda, yaitu “Tiga Sajak Pendek” (Sapardi Djoko Damono), “September Tuarang” (Rissa Churria), dan “Luna” (Erna Winarsih Wiyono).
Selain itu, hadir pula Steven Audric Gui, pianis penyandang autisme yang diasuh di Ananda Sukarlan Center. Murid dari Yohanes Sebastian Anugerah ini memainkan karya “The Happy Bassoonist” dan lagu “The Prayer”. Keikutsertaan Steven menjadi wujud nyata dukungan Ananda terhadap perkembangan musisi berkebutuhan khusus.
Ananda Sukarlan menutup seluruh rangkaian penampilannya dengan memainkan Rapsodia Nusantara no. 39 yang mengambil motif lagu dari Nusa Tenggara Timur berjudul Oras Loro Malirin. Penampilan ini memiliki nilai tersendiri karena dimainkan hanya menggunakan tangan kiri. Aksi ini menjadi pesan kuat bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi positif bagi orang lain.
Seluruh rangkaian acara musik ini dipadukan dengan peragaan busana dari Batik Alleira serta penampilan dari artis Fenly Christovel dan kelompok umat berkebutuhan khusus. Konser ini berhasil menyatukan unsur seni tinggi, peluncuran karya baru, dan tujuan sosial dalam satu wadah yang produktif.












