BeritaSeni & Budaya

Ananda Sukarlan dan Pepita Salim Perdanakan Tembang Puitik dari Tiga Penyair Nusantara

3
×

Ananda Sukarlan dan Pepita Salim Perdanakan Tembang Puitik dari Tiga Penyair Nusantara

Sebarkan artikel ini
Paroki Blok B menggelar konser amal bertajuk "Berkarya Tanpa Batas" pada 2 Mei 2026 untuk penggalangan dana program pendampingan umat berkebutuhan khusus. Ananda Sukarlan tampil membawakan karya bertema pendidikan dan tokoh R.A. Kartini, serta menutup acara dengan permainan piano satu tangan. Pepita Salim membawakan perdana empat komposisi Tembang Puitik berdasarkan puisi Ence Sumirat, Yudi Damanhuri, Yoevita Soekotjo, dan Yon Bayu Wahyono. Turut hadir penyanyi cilik Pingkan Sherrina serta pianis Steven Audric Gui dari Ananda Sukarlan Center. Acara juga dimeriahkan fashion show dan penampilan umat berkebutuhan khusus.

Jakarta, Veritika.id – Gereja Santo Yohanes Penginjil atau yang dikenal sebagai Paroki Blok B di Jakarta Selatan, kembali menunjukkan komitmen tinggi dalam pelayanan, khususnya bagi umat berkebutuhan khusus.

Di bawah reksa pastoral Serikat Yesus, paroki ini menggelar acara penggalangan dana bertajuk “Berkarya Tanpa Batas” pada Sabtu (2/5/2026), Kegiatan ini bertujuan mengumpulkan dana untuk pengembangan fasilitas dan program pendampingan.

Pianis dan komponis klasik ternama, Ananda Sukarlan, menjadi penggagas utama dalam sisi artistik acara ini. Ia menerima undangan ini dengan antusias, mengingat latar belakang pribadinya yang memiliki kondisi Asperger’s dan sindrom Tourette, serta statusnya sebagai alumni SMA Kolese Kanisius yang bernaung di bawah Ordo Jesuit.

Pemilihan tanggal acara memiliki makna khusus karena bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Dalam sesi penampilannya, Ananda membawakan karya berjudul “Variations on Ibu Soed’s ‘Pergi Belajar’”, sebuah komposisi yang didedikasikan khusus untuk Julia H. Soeryadjaya.

Acara juga masih berada dalam suasana peringatan Hari Kartini. Ananda menampilkan karya “Panggil Aku Kartini Saja” yang terinspirasi dari novel Pramoedya Ananta Toer. Penyusunan musik karya ini mengikuti struktur buku yang tidak berdasar urutan waktu, melainkan berdasarkan fragmen pemikiran R.A. Kartini.

Melodi yang dimainkan menggambarkan perjalanan hidup, kepedulian sosial, pandangan terhadap budaya asing, hingga sisi spiritualitas sang pahlawan. Bagian akhir karya yang berbentuk Fuga merefleksikan kerumitan pola pikir dan pergulatan batin Kartini di tengah pengaruh sistem feodal dan kolonial pada masanya.

Ananda Sukarlan didampingi oleh penyanyi soprano terkenal, Pepita Salim, serta didukung oleh penyanyi cilik Pingkan Sherrina. Pepita Salim dikenal memiliki latar belakang pendidikan musik yang kuat di New England Conservatory of Music, Boston, Amerika Serikat, serta pengalaman tampil dalam musikal Broadway The King And I. Kariernya juga mencakup kolaborasi dengan berbagai musisi ternama dan penyebutan namanya dalam daftar tokoh berpengaruh di Asia.

Pada konser ini, Pepita Salim membawakan sejumlah karya Tembang Puitik ciptaan Ananda Sukarlan yang belum pernah didengarkan publik sebelumnya. Ia membawakan “Kepada Penyair Eksil” berdasarkan puisi Ence Sumirat, dua puisi karya Yudi Damanhuri berjudul “Prosa Senja” dan “Pualam III”, serta “Amnesia” karya Yon Bayu Wahyono. Selain karya perdana tersebut, ia juga menyanyikan “Satria” dari puisi Yoevita Soekotjo dengan teknik vokal yang matang.

Sementara itu, penyanyi cilik Pingkan Sherrina Pandeinuwu (11 tahun) turut memukau hadirin. Siswa SD Katolik St. Augustinus Tomohon ini ditemukan oleh Ananda saat kompetisi kolintang akhir tahun 2025. Dengan sejumlah prestasi yang telah diraih, termasuk juara pertama pada ajang kesenian tingkat provinsi, Pingkan membawakan tiga karya populer Ananda Sukarlan, yaitu “Tiga Sajak Pendek” (Sapardi Djoko Damono), “September Tuarang” (Rissa Churria), dan “Luna” (Erna Winarsih Wiyono).

Sebagai bentuk intermezzo, hadirin disuguhi penampilan dari Steven Audric Gui, pianis penyandang autisme yang diasuh di Ananda Sukarlan Center. Murid dari Yohanes Sebastian Anugerah ini memainkan karya “The Happy Bassoonist” dan lagu “The Prayer”. Penampilan ini menjadi bukti nyata bahwa bakat musik dapat tumbuh optimal melalui bimbingan yang tepat.

Ananda Sukarlan menutup sesi musiknya dengan memainkan Rapsodia Nusantara no. 39 yang mengambil motif lagu dari Nusa Tenggara Timur, Oras Loro Malirin. Penampilan ini istimewa karena dimainkan hanya menggunakan tangan kiri, menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya.

Acara penggalangan dana ini juga dimeriahkan dengan peragaan busana dari Batik Alleira serta penampilan dari artis Fenly Christovel dan kelompok umat berkebutuhan khusus binaan Paroki Blok B. Seluruh rangkaian kegiatan ini berhasil menyatukan unsur seni, pendidikan, dan kepedulian sosial dalam satu wadah yang produktif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *