Jatiasih, Veritika.id – Penyair Nuyang Jaimee menulis puisi berjudul Suara Perempuan di Jatiasih pada 13 Juni 2026. Karya tersebut mengangkat persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak, menggambarkan dampak yang dialami korban, serta menyampaikan ajakan agar masyarakat tidak membiarkan tindak kekerasan terus terjadi.
Puisi ini menampilkan kisah perempuan yang mengalami kekerasan di lingkungan keluarga. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung digambarkan berubah menjadi ruang yang penuh ancaman.
Melalui rangkaian bait, penulis memperlihatkan penderitaan korban, baik secara fisik maupun batin. Berikut bait-bait puisi dari Suara Perempuan yang ditulis oleh Nuyang Jaimee.
SUARA PEREMPUAN
Seorang perempuan
menggulung sanggulnya
dadanya koyak
matanya berkabut
kekerasan datang seperti api
rumah berubah jadi ruang eksekusi
Almanak tak pernah selesai
menghitung musim demi musim
kekejaman tak bergeming
setiap lebam adalah riwayat
tubuh perempuan jadi hikayat
jejak penyiksaan, kekuasaan
yang menjadi pengadilan
mengalahkan kuasa Tuhan
Cinta tumbuh menyesakkan
kesetiaan jadi doktrin kepatuhan
setiap maaf adalah pisau yang menunda kematian
hari demi hari mengumpulkan nyawa yang hilang
Anak-anak berhenti tertawa
ibu tak punya jarik untuk mengusap airmata
hentakan kaki datang menginjak harapan
mengubah malam semakin mencekam
setiap hari anak-anak memanen kebencian
keluarga adalah rahim yang melahirkan peradaban
tak ada agama, adat, hukum bahkan kekuasaan yang layak
jika masih ada perempuan dan seorang anak yang tidur
dalam jerit dan ketakutan
Hari ini aku ingin mengembalikan suara
kepada mereka yang dibungkam nestapa
ketika mata perempuan dipenuhi telaga
ketika kanak-kanak dipaksa memeras airmata
sebab luka dan ketakutan bukan warisan
sebab cinta tak melahirkan penindasan
sebab cinta tak seharusnya ditulis
dengan sejarah kelam
Nuyang Jaimee
Jatiasih, 13.06.26/22.09
Selain menggambarkan kondisi perempuan, puisi tersebut juga menyoroti nasib anak-anak yang tumbuh di tengah kekerasan. Mereka digambarkan kehilangan rasa aman dan keceriaan akibat situasi yang berlangsung di dalam keluarga.
Penulis juga mengkritik berbagai bentuk kekuasaan yang dinilai gagal melindungi perempuan dan anak. Dalam puisi itu ditegaskan bahwa tidak ada alasan yang dapat membenarkan kekerasan, baik atas nama adat, agama, hukum, maupun kepentingan lain.
Pada bagian penutup, penyair menyampaikan harapan agar suara para korban tidak lagi dibungkam. Ia mengajak masyarakat menolak segala bentuk penindasan serta membangun lingkungan keluarga yang aman bagi perempuan dan anak. Menurut penulis, kasih sayang tidak seharusnya menjadi alasan untuk mempertahankan kekerasan dalam hubungan maupun kehidupan keluarga.
Puisi Suara Perempuan menjadi pengingat bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi persoalan yang perlu mendapat penanganan bersama. Melalui karya sastra, penyair mengajak pembaca menumbuhkan kepedulian, menghormati hak setiap orang, dan mendorong terciptanya kehidupan yang bebas dari kekerasan.












