BeritaSeni & Budaya

Tari Pa’gellu Tua Kolaborasi Hesti Nona Palalangan dan Nurul Soroti Nilai Budaya Toraja di Bogor

23
×

Tari Pa’gellu Tua Kolaborasi Hesti Nona Palalangan dan Nurul Soroti Nilai Budaya Toraja di Bogor

Sebarkan artikel ini
Penampilan pertama dalam acara adalah Tari Pa'gellu Tua yang dibawakan oleh Nurul dan Hesti Nona Palalangan. Tarian tradisional ini berasal dari suku Toraja, Sulawesi Selatan, merupakan Warisan Budaya Tak Benda Kabupaten Toraja Utara, dan biasanya dipentaskan dalam upacara adat Rambu Tuka'.

Bogor, Veritika.id – Pada Minggu sore (15/3/2026), dalam kegiatan budaya “Tribute to Tongkonan Toraya” di kawasan Nyawang Alas Kopi dan Ingkung, Jalan Raya Puncak, Cipayung Datar, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, tari tradisional Toraja yaitu Pa’gellu Tua dipertunjukkan oleh Hesti Nona Palalangan dan Nurul. Penampilan keduanya menarik perhatian hadirin.

Acara digagas oleh komunitas Ge’llu Toraya, SEBA, dan sejumlah komunitas seni lainnya. Kegiatan ini menjadi bentuk dukungan terhadap masyarakat Toraja setelah peristiwa penghancuran Tongkonan baru-baru ini.

Selain itu, acara ini juga menjadi bagian persiapan untuk The 4fourth Toraja in Art and Culture Festival: Doa Ma’Gellu Tongkonan yang akan berlangsung pada 28–29 April 2026 di Amphitheater Buntu Sarira, Tana Toraja.

Tari Pa’gellu Tua merupakan tarian tradisional dari suku Toraja, Sulawesi Selatan. Tarian ini menjadi salah satu Warisan Budaya Tak Benda dari Kabupaten Toraja Utara. Biasanya, tarian ini dipentaskan oleh gadis-gadis dalam upacara adat Rambu Tuka’, contohnya saat peresmian rumah adat Tongkonan (Mangrara Banua).

Pada masa lalu, para penari Pa’gellu Tua berasal dari kalangan putra-putri Tongkonan adat atau Tongkonan kebesaran di berbagai wilayah adat Toraja. Kata “Gellu” sendiri berarti anak dari Tongkonan, sehingga tarian ini memiliki hubungan erat dengan identitas masyarakat Toraja.

Penampilan Hesti Nona Palalangan dan Nurul menjadi penampil pertama dalam rangkaian acara. Setelah itu, digelar pertunjukan Tari Topeng Kelana Priangan oleh Galaxi Production dari Bekasi, diikuti pembacaan puisi yang mengangkat tema Tongkonan dan kebudayaan Toraja.

Selanjutnya, ada kolaborasi Tari Kontemporer yang menggabungkan gerakan Pa’gellu Tua dengan live painting dan iringan musik etnik dari kelompok Layung Jagat.

Tari Pa’gellu Tua memiliki sejumlah karakteristik. Tarian ini mengandung nilai moral, etos kerja, dan hubungan antarwarga masyarakat Toraja.

Terdapat 12 gerakan utama yang meniru aktivitas sehari-hari dan alam, antara lain Ma’tabe’ (gerakan untuk menunjukkan hormat), Pa’dena’-dena’ (meniru gerakan burung pipit), Pa’gellu’tua (gerakan utama dari tarian ini), Pa’kaa-kaa bale (meniru ikan yang berenang), dan Pa’langkan-langkan (meniru burung elang yang terbang).

Gerakan tangan pada tarian ini bergerak dengan kelenturan, dipadukan dengan gerakan kaki yang berjalan dengan langkah kecil.

Musik pengiring tarian ini menggunakan tabuhan gendang yang dimainkan oleh empat orang pemain (disebut pa’gandang) dengan irama yang ceria.

Penari mengenakan busana tradisional Toraja lengkap dengan perhiasan emas dan manik-manik (kandaure). Selama penampilan, tamu dapat memberikan apresiasi berupa uang yang diselipkan di hiasan kepala penari, yang disebut ma’toding.

Tarian Pa’gellu Tua terus dilestarikan hingga saat ini. Pada Pekan Kebudayaan Nasional 2021, penampilan tari ini pernah menjadi salah satu yang terbaik se-Indonesia.

Dalam acara tersebut, hadir juga sejumlah tokoh dan perwakilan komunitas, antara lain Judi Wahjudin, M.Hum sebagai Sekretaris Ditjen Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan Budaya Kementerian Kebudayaan RI, pemilik Nyawang Alas Kopi dan Ingkung Franky, Asep Jurasep, serta perwakilan dari komunitas seperti Bogor Wanita Berkebaya (BWB), Jangkar Jiwa, Studio Lukis Daun, Wayang Beber Depok, SEBA, dan mahasiswa dari 

Acara ditutup dengan doa bersama dan buka puasa bersama para peserta dan tamu undangan.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *