BeritaSeni & Budaya

KETIKA REVOLUSI MENYISAKAN DENDAM WINARTA DAN PERTANYAAN TENTANG MANUSIA  

3
×

KETIKA REVOLUSI MENYISAKAN DENDAM WINARTA DAN PERTANYAAN TENTANG MANUSIA  

Sebarkan artikel ini
Keterangan foto: Dari kiri, Ronny Agustinus, Nunung Noor El Niel, dan Dewi Anggraeni dalam diskusi novel Winarta karya Basuki Gunawan bertajuk “Revolusi dan Dendam” yang diselenggarakan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) bersama Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, dengan dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Penguatan Komunitas Sastra 2026, di Ruang Akademi Jakarta/Selasar Akademi Jakarta, lantai 14 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (26/9/2026).

Penulis : Rissa Churria 

Jakarta, Veritika.id – Apa yang terjadi ketika sebuah kehilangan tak menemukan keadilan, lalu berubah menjadi dendam? Pertanyaan tersebut mengemuka dalam diskusi novel WINARTA karya Basuki Gunawan bertajuk “Revolusi dan Dendam”, yang berlangsung di Ruang Akademi Jakarta/Selasar Akademi Jakarta, lantai 14 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki, Sabtu (26/9/2026).

Diskusi yang berlangsung pukul 16.00–17.30 WIB ini diselenggarakan oleh Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) bekerja sama dengan Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, dengan dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Penguatan Komunitas Sastra 2026. Acara dipandu oleh Nunung Noor El Niel, dengan menghadirkan Dewi Anggraeni dan Ronny Agustinus.

Novel Winarta menjadi pintu masuk untuk membicarakan sesuatu yang jauh lebih luas daripada revolusi. Di dalamnya terdapat persoalan kehilangan, kekeliruan identitas, kekerasan, dendam, pencarian makna, serta pilihan manusia ketika berhadapan dengan sejarah.

Dendam yang Tak Berhenti pada Kehilangan

Dewi Anggraeni melihat Winarta sebagai karya yang kuat dengan nuansa modernis dan gagasan absurditas. Cara pengarang menggunakan kalimat yang efisien dan langsung, menurut Dewi, membuat pengalaman tokoh terasa seperti respons manusia terhadap dunia yang serba tak pasti.

Salah satu persoalan penting muncul ketika orang tua tokoh utama dibunuh akibat kekeliruan identitas. Bagi tokoh tersebut, persoalannya bukan semata kehilangan. Ada sesuatu yang lebih mendasar: kebutuhan untuk memahami mengapa manusia melakukan kekerasan dan apa yang ada di balik tindakan membunuh.

Dendam kemudian berubah menjadi perjalanan pencarian makna. Tokoh utama memasuki dunia kekerasan bukan hanya sebagai korban, tetapi secara sadar memilih untuk masuk ke dalamnya. Di titik inilah novel menghadirkan pertanyaan yang lebih rumit: apakah seseorang yang pernah menjadi korban dapat berubah menjadi bagian dari kekerasan yang sebelumnya melukainya?

Pembacaan Dewi membawa novel tersebut ke wilayah eksistensial. Trauma menjadi pintu masuk, sementara pertanyaan mengenai makna hidup dan tindakan manusia justru menjadi persoalan yang lebih dalam.

Sejarah Memiliki Banyak Suara

Ronny Agustinus memperluas pembacaan Winarta dengan melihat hubungan antara sastra dan historiografi Indonesia.

Menurut Ronny, sejarah dekolonisasi tidak selalu sesederhana pertentangan antara Indonesia dan Belanda. Di dalamnya terdapat banyak posisi, pengalaman, dan kepentingan. Ada orang yang berjuang untuk Republik, ada yang berpihak kepada Belanda, ada yang menjadi korban kekerasan, dan ada pula yang bertindak karena nasionalisme, kepentingan pribadi, trauma, maupun dendam.

Keragaman pengalaman tersebut membuat sejarah membutuhkan pembacaan yang lebih terbuka.

Ronny juga menyoroti bagaimana istilah dapat memengaruhi cara suatu peristiwa dipahami. Istilah “Agresi Militer” yang lazim digunakan dalam konteks Indonesia berbeda dengan istilah politionele acties atau “aksi kepolisian” yang pernah digunakan dalam historiografi Belanda.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa sejarah bukan hanya persoalan peristiwa, tetapi juga tentang siapa yang menceritakan, dari sudut mana peristiwa dilihat, dan bahasa apa yang digunakan.

Dalam konteks itu, Winarta dapat menjadi ruang penting untuk membuka kembali pengalaman manusia yang mungkin tersisih dari narasi sejarah yang lebih besar.

Internet Membuka Pintu Sejarah

Perkembangan teknologi informasi juga mengubah cara masyarakat berhubungan dengan sejarah.

Dewi Anggraeni menilai bahwa pada era internet, semakin sulit bagi sebuah informasi untuk sepenuhnya ditutup. Arsip, penelitian, podcast, terjemahan, dan berbagai sumber digital memungkinkan masyarakat mengakses perspektif sejarah dari berbagai tempat.

Namun, keterbukaan informasi menghadirkan tantangan lain. Manusia memiliki kecenderungan memilih informasi yang sesuai dengan pandangannya.

Di media sosial, kecenderungan tersebut diperkuat oleh algoritma. Konten yang disukai dan sering diakses akan semakin banyak muncul di hadapan pengguna. Akibatnya, seseorang dapat merasa bahwa dunia seluruhnya berpikir seperti dirinya, padahal yang terlihat hanyalah sebagian dari kenyataan.

Dewi mengingatkan pentingnya memberi jarak antara informasi dan reaksi.

“Jempol lebih cepat daripada otak” menjadi metafora tentang kebutuhan untuk berhenti sejenak sebelum memberikan penilaian.

Permenungan, menurutnya, tak selalu berarti mengubah pendirian. Seseorang tetap boleh tak setuju. Yang penting, ketidaksetujuan tersebut lahir setelah proses berpikir dan mempertimbangkan informasi yang lebih luas.

Berpikir Terbuka, Tetap Berpendirian

Ronny melengkapi pandangan tersebut dengan menegaskan bahwa keterbukaan tak berarti manusia harus kehilangan sikap.

Setelah mendengar berbagai perspektif dan memperoleh informasi yang memadai, seseorang tetap perlu menentukan posisi, terutama ketika berhadapan dengan persoalan keadilan.

Dengan demikian, yang penting bukan menghilangkan keberpihakan, melainkan memastikan bahwa keberpihakan tersebut lahir dari proses memahami persoalan, bukan sekadar reaksi spontan.

Gagasan ini menjadi relevan dengan Winarta. Tokoh dalam novel tersebut melakukan pilihan berdasarkan keyakinannya sendiri. Tetapi pilihan tersebut kemudian membawanya masuk ke dalam konsekuensi kekerasan yang tak sederhana.

Sastra sebagai Ruang Melawan Kekerasan

Pembahasan kemudian bergerak pada persoalan perang yang masih menjadi kenyataan di berbagai belahan dunia. Ronny menyinggung adanya kepentingan ekonomi dan politik yang dapat memengaruhi keberlangsungan konflik.

Dalam situasi tersebut, sastra mungkin tak mampu menghentikan perang secara langsung. Namun, sastra dapat mengingatkan bahwa di balik setiap konflik terdapat manusia.

Ada keluarga yang kehilangan orang-orang yang dicintainya. Ada trauma yang diwariskan. Ada dendam yang tumbuh. Ada manusia yang memilih melakukan kekerasan, lalu harus berhadapan dengan akibat dari pilihannya sendiri.

Karena itu, membaca Winarta berarti membaca kembali hubungan antara revolusi dan manusia.

Novel tersebut tidak hanya mengajak pembaca bertanya tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah, tetapi juga tentang apa yang terjadi pada manusia ketika kekerasan menjadi bagian dari cara mereka mencari keadilan dan makna.

Diskusi yang dimoderatori Nunung Noor El Niel itu pada akhirnya memperlihatkan bahwa sastra memiliki ruang penting dalam membicarakan sejarah: bukan untuk menggantikan kerja sejarawan, melainkan untuk menghadirkan pengalaman manusia yang sering kali sulit diringkas dalam catatan sejarah.

Di tengah kecenderungan dunia yang semakin cepat menghakimi, sastra justru menawarkan sesuatu yang semakin langka: waktu untuk berhenti, membaca, merasakan, dan berpikir sebelum mengambil sikap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *