Jakarta, Veritika.id – Penyair dan aktivis teater Nuyang Jaimee membawakan puisi bertema perempuan pada kegiatan diskusi buku Arung Jeram Pernikahan karya Anna Ruswan Latuconsina yang digelar Selasa (14/7/2026) di Ruang Lobi DPD RI, Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat.
Acara yang diselenggarakan oleh Anna Ruswan Latuconsina bersama Kelompok Wanita Penulis Indonesia (WPI) dan Yayasan JantungHati tersebut bertujuan menyampaikan pesan mengenai perlindungan perempuan dari kekerasan keluarga melalui karya sastra dan diskusi publik.
Kehadiran Nuyang Jaimee menjadi salah satu rangkaian acara yang menggabungkan kegiatan literasi dengan seni pertunjukan. Melalui puisinya, ia menyampaikan pesan tentang pengalaman perempuan serta persoalan sosial yang masih terjadi di lingkungan masyarakat.
Nuyang Jaimee dikenal sebagai penyair, penulis, dan aktivis teater Indonesia yang aktif berkarya sejak awal 2000-an. Ia lahir di Jakarta pada 31 Maret 1977 dan tergabung dalam Wanita Penulis Indonesia (WPI).
Dalam dunia sastra, Nuyang dikenal melalui antologi puisi tunggal berjudul Para Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya yang diterbitkan pada 2023. Karya tersebut menjadi salah satu karya yang memperkenalkan gaya kepenyairannya kepada pembaca sastra nasional.
Selain menulis puisi, Nuyang juga aktif pada kegiatan seni pertunjukan dan berbagai acara sastra. Karyanya banyak mengangkat persoalan kehidupan manusia, hubungan sosial, serta nilai kemanusiaan melalui bahasa puisi.
Pada acara diskusi buku Arung Jeram Pernikahan, Nuyang Jaimee hadir bersama sejumlah tokoh dan pembicara, antara lain Prof. Dr. Haryati Abdul Rachman, Dr. Josephine Mantik, serta Rita Sri Hastuti sebagai moderator. Kegiatan tersebut membahas persoalan rumah tangga, hak perempuan, dan upaya pencegahan kekerasan keluarga.
Melalui penampilan puisinya, Nuyang Jaimee memperlihatkan peran sastra sebagai media penyampaian pesan sosial. Kehadirannya melengkapi kegiatan diskusi yang menghubungkan karya tulis, seni, dan isu perempuan dalam ruang publik.












