BeritaSeni & Budaya

Rissa Churria dan Puisi Lokalitas “Mengenalkan Tradisi Osing Melalui Karya Sastra”

16
×

Rissa Churria dan Puisi Lokalitas “Mengenalkan Tradisi Osing Melalui Karya Sastra”

Sebarkan artikel ini
Rissa Churria merupakan penyair asal Banyuwangi yang mengangkat budaya Osing melalui karya puisi. Melalui buku Matahari Senja di Bumi Osing (2020) dan Bisikan Tanah Penari (2021), ia memperkenalkan tradisi, sejarah, bahasa, dan kehidupan masyarakat Osing. Karyanya memuat unsur budaya seperti Mepe Kasur, Tumpeng Sewu, Gandrung, Janger Banyuwangi, serta kisah Blambangan.

Jakarta, Veritika.id – Sri Badjradewi Singasari atau yang dikenal dengan nama pena Rissa Churria mengangkat budaya Osing melalui karya sastra puisi yang memuat unsur tradisi, bahasa, sejarah, dan kehidupan masyarakat setempat.

Upaya tersebut dilakukan melalui buku Matahari Senja di Bumi Osing (2020) dan Bisikan Tanah Penari (2021) yang ditulis untuk memperkenalkan budaya Banyuwangi kepada pembaca.

Rissa Churria menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Osing, dan bahasa Inggris sebagai media penyampaian karya agar unsur budaya daerah dapat dikenal lebih luas. Karya tersebut menghadirkan cerita tentang masyarakat Osing, kesenian, serta nilai budaya yang berkembang di wilayah Banyuwangi.

Melalui puisi-puisinya, Rissa Churria menampilkan berbagai unsur lokal seperti tradisi masyarakat Osing, sejarah Blambangan, serta kesenian khas Banyuwangi. Penggunaan istilah daerah menjadi salah satu ciri yang terlihat pada karya-karyanya karena membawa unsur bahasa lokal ke dalam sastra modern. Melalui tulisan, Rissa berupaya mengenalkan budaya Osing kepada pembaca dari berbagai daerah sekaligus mencatat berbagai tradisi yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Banyuwangi.

Puisi-puisi Rissa Churria banyak mengambil tema yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Osing. Ia menampilkan berbagai tradisi seperti Mepe Kasur, Tumpeng Sewu, Janger Banyuwangi, Gandrung, serta kisah sejarah Blambangan. Tradisi tersebut tidak hanya disebut sebagai latar cerita, tetapi menjadi bagian dari isi puisi yang menggambarkan hubungan masyarakat dengan adat dan lingkungan sekitarnya.

Salah satu ciri karya Rissa adalah penggunaan diksi khas yang berasal dari budaya lokal. Pemakaian istilah Osing memberikan warna tersendiri pada puisinya karena membawa pembaca mengenal kosakata daerah yang jarang digunakan dalam karya sastra modern. Perpaduan bahasa daerah dengan bahasa Indonesia membuat puisinya tetap memiliki karakter lokal tanpa kehilangan jangkauan pembaca dari berbagai wilayah.

Melalui buku Bisikan Tanah Penari, Rissa Churria menampilkan berbagai unsur budaya Banyuwangi, termasuk tradisi tari, cerita rakyat, dan nilai kehidupan masyarakat Osing. Puisi-puisinya memperlihatkan bahwa budaya daerah tidak hanya dapat disampaikan melalui pertunjukan seni atau kegiatan adat, tetapi juga melalui karya tulis. Sastra menjadi media untuk mencatat pengalaman budaya yang berkembang di tengah masyarakat.

Selain menulis puisi, Rissa Churria juga aktif dalam kegiatan literasi dan komunitas sastra. Aktivitas tersebut mendukung penyebaran karya yang membawa tema budaya lokal ke ruang yang lebih luas. Melalui keterlibatannya dalam berbagai kegiatan sastra, ia memperkenalkan budaya Osing sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Berikut daftar kumpulan puisi karya Rissa Churria :

  1. Harum Haramain (cetakan pertama 2016, cetakan kedua 2023)
  2. Perempuan Wetan (2017)
  3. Blakasuta Liku Luka Perang Saudara (2018)
  4. Matahari Senja di Bumi Osing (2019)
  5. Babad Tanah Blambangan (2020)
  6. Bisikan Tanah Penari (2021)
  7. Risalah Nagari Natasangin (2021)
  8. Kembul Bujana Cinta Kamajaya Kamaratih (2022)
  9. Kecup Selalu untuk Rasulullah (2024)
  10. Larung Murung (2024)

Rissa Churria menunjukkan bahwa puisi dapat menjadi sarana untuk menjaga ingatan budaya. Melalui pilihan tema, bahasa, dan cerita lokal, ia menghadirkan gambaran masyarakat Osing dari sisi tradisi, sejarah, dan kehidupan sehari-hari. Karyanya menjadi salah satu contoh bagaimana sastra dapat digunakan untuk mengenalkan budaya daerah tanpa meninggalkan bentuk ekspresi modern.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *