Jakarta, Veritika.id – Diskusi novel Winarta karya Basuki Gunawan bertajuk “Revolusi dan Dendam” digelar Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) bersama Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Sabtu (26/9/2026) pukul 16.00–17.30 WIB, di Ruang Akademi Jakarta/Selasar Akademi Jakarta, lantai 14 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Diskusi ini menghadirkan Dewi Anggraini, dosen Sastra Jepang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, serta Ronny Agustinus, pendiri dan pemimpin redaksi Marjin Kiri, penulis, dan penerjemah, dengan Nunung Noor El Niel sebagai pemandu diskusi. Forum tersebut mengangkat persoalan revolusi, kehilangan, dendam, trauma, kekerasan, serta pencarian makna hidup melalui kisah tokoh utama novel Winarta.
Winarta membawa cerita tentang pengalaman individu yang berhadapan dengan situasi penuh kekerasan pada masa Revolusi Indonesia. Novel ini tidak hanya menampilkan peristiwa sejarah, tetapi juga memperlihatkan akibat yang dirasakan seseorang setelah mengalami kehilangan dan konflik.
Tema “Revolusi dan Dendam” menjadi pintu masuk untuk membicarakan hubungan antara pengalaman pribadi dan gejolak sejarah. Kehilangan yang dialami tokoh menjadi salah satu pemicu munculnya dendam, sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai batas antara perjuangan dan tindakan kekerasan.
Kisah tersebut juga menyoroti kondisi seseorang yang harus menghadapi trauma akibat peristiwa yang dialaminya. Pergulatan tokoh bukan hanya soal menghadapi pihak lain, tetapi juga usaha memahami pengalaman masa lalu dan menentukan arah hidup setelah berbagai kejadian tersebut.
Dewi Anggraini hadir sebagai pembahas dengan latar akademik di bidang Sastra Jepang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Ia akan berdiskusi bersama Ronny Agustinus, pendiri dan pemimpin redaksi Marjin Kiri yang juga dikenal sebagai penulis dan penerjemah.
Perbincangan dipandu Nunung Noor El Niel, penyair sekaligus Wakil Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia. Forum ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan “Bertemu di Cikini” yang menghadirkan diskusi sastra melalui karya-karya yang berkaitan dengan sejarah dan pengalaman manusia.
Melalui Winarta, peserta diajak melihat Revolusi Indonesia bukan hanya sebagai rangkaian peristiwa politik dan militer. Cerita juga menunjukkan pengalaman individu yang menghadapi kehilangan, kekerasan, serta akibat psikologis dari konflik.
Pertanyaan mengenai dendam menjadi salah satu pokok yang dapat dibicarakan. Ketika seseorang kehilangan sesuatu yang berharga akibat konflik, muncul persoalan mengenai pilihan yang diambil setelahnya. Novel ini menghadirkan situasi tersebut melalui perjalanan tokohnya.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) berkolaborasi dengan Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Penguatan Komunitas Sastra 2026.
Panitia menyediakan buku gratis bagi 15 peserta pertama yang melakukan daftar ulang di lokasi acara. Pendaftaran dilakukan melalui tautan bit.ly/RevolusidanDendam.
Diskusi “Revolusi dan Dendam” menjadi bagian dari rangkaian “Bertemu di Cikini” yang mempertemukan karya sastra, sejarah, dan percakapan mengenai pengalaman manusia. Novel Winarta menjadi bahan utama untuk melihat bagaimana kehilangan, trauma, serta dendam hadir pada masa Revolusi Indonesia.












