Jakarta, Veritika.id – Riri Satria, sosok yang dikenal luas sebagai penyair sekaligus profesional di berbagai bidang, bersiap menghadirkan empat karya tulis baru dalam waktu dekat.
Pria berkacamata kelahiran Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970 ini kembali memperkaya khazanah literasi dengan naskah-naskah yang lahir dari perenungan panjang, pengalaman, dan ketajaman pandangan terhadap perkembangan dunia.
Bagi Riri Satria, momen penerbitan ini menjadi tanda bahwa segala rasa gelisah, hasil pemikiran, serta jejak batin yang selama ini terangkai dalam kata-kata, perlahan akan berjumpa dengan para pembaca.
Di dunia kesusastraan, Riri merupakan pendiri sekaligus Ketua Jagat Sastra Milenia Jakarta. Namanya tercatat dalam buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia yang terbit pada tahun 2018.
Ia telah menerbitkan sejumlah buku puisi tunggal, antara lain Jendela (2016), Winter in Paris (2017), Siluet, Senja, dan Jingga (2019), Metaverse (2022), dan Login Haramain (2025). Selain karya sendiri, ia juga terlibat dalam lebih dari 60 antologi puisi bersama.
Selain berkarya lewat puisi, Riri juga dikenal aktif menulis esai dengan ragam tema, mulai dari dunia usaha, kemajuan teknologi, hingga hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan.
Karya tulisnya dalam bentuk esai antara lain Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis (2003), trilogi Proposisi Teman Ngopi (2021), dan Jelajah (2022). Sejak tahun 2018, ia aktif menelaah pengaruh kecerdasan buatan terhadap sastra dan sering diundang menjadi narasumber di berbagai pertemuan.
Di luar kegiatan sastra, Riri memegang sejumlah jabatan strategis. Sejak April 2024, ia menjabat sebagai Komisaris Utama PT ILCS Pelindo Solusi Digital. Sebelumnya, ia menjadi Komisaris Independen PT Jakarta International Container Terminal pada kurun 2019 hingga 2024. Ia juga dipercaya sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan dengan lingkup tugas di bidang Digital, Siber, dan Ekonomi, yang diemban mulai Oktober 2024 sampai September 2025.
Namanya kerap muncul dalam kegiatan penilaian publik, di antaranya menjadi anggota dewan juri pada Indonesia Digital Culture Excellence Award dan Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Di lingkungan akademik, ia mengajar di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia pada program Magister Teknologi Informasi. Mata kuliah yang diampu meliputi Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, dan Metodologi Penelitian.
Empat buku baru yang siap diterbitkan ini merekam beragam sisi pemikiran penulis “Riri Satria.” Karya berjudul Bom Waktu merupakan kumpulan seratus puisi pilihan. Naskah ini lahir dari rasa gelisah melihat arah perkembangan kehidupan masa kini. Zaman yang dijalani terasa bergerak begitu cepat, penuh kemajuan, dan tampak sangat mempesona. Namun, di balik keadaan itu, terlihat adanya jarak yang makin lebar antara kelompok yang mampu dan yang kurang mampu, kerusakan lingkungan yang terus berlangsung, cita-cita keadilan sosial yang belum sepenuhnya terwujud, serta nilai kemanusiaan yang kerap terdesak oleh keinginan bertumbuh tanpa henti. Kehidupan saat ini digambarkan berjalan di atas sesuatu yang sewaktu-waktu dapat meledak, sebuah bahaya yang tersimpan, sering kali tanpa disadari keberadaannya.
Buku Selesai Tak Usai hadir dari keinginan berbagi cara berpikir dan pengalaman menyusun tulisan. Pembaca diajak memahami bahwa esai bukan sekadar rangkaian tulisan yang mengalir begitu saja, melainkan bentuk karya yang memiliki sifat, tujuan, dan arah tertentu. Berbagai jenis esai dibahas, mulai dari yang bersifat deskriptif, naratif, reflektif, kontemplatif, argumentatif, hingga bentuk lain yang lebih khusus seperti tulisan promosi, maupun pendekatan yang mencerminkan cara pandang kekinian. Menulis dipandang bukan hanya soal menuangkan gagasan, melainkan juga memilih bentuk penyampaian yang paling tepat sesuai pesan yang ingin disampaikan. Dengan memahami bentuk dan tujuan tersebut, tulisan menjadi lebih jelas, padat makna, dan sesuai dengan maksud aslinya.
Selanjutnya, buku berjudul Teknologi Bukan Musuh berisi kumpulan tulisan seputar perubahan cara hidup akibat kemajuan sistem digital, kecerdasan buatan, serta berbagai dampak yang timbul bagi tatanan sosial dan ekonomi. Tulisan-tulisan yang terhimpun di dalamnya sebelumnya telah dimuat di berbagai media massa sejak tahun 2022.
Penulis “Riri Satria” meyakini bahwa kemajuan teknologi tidak layak dipandang sebagai hal yang harus ditakuti. Teknologi bukanlah lawan bagi manusia. Hal yang tak kalah penting adalah bagaimana manusia memberi makna, mengelola, dan menempatkan kedudukan teknologi agar tetap selaras dengan nilai kemanusiaan.
Adapun buku berjudul Masa Depan Sastra dan Kecerdasan Buatan menghimpun tulisan mengenai dunia sastra dan kebudayaan yang juga ditulis sejak tahun 2022. Karya ini tumbuh dari kedekatan penulis terhadap dunia kata, makna, dan tatanan budaya. Sastra dipandang bukan sekadar susunan teks, melainkan cermin dari kondisi zamannya, wadah tempat manusia berbicara mengenai dirinya sendiri, tentang rasa cinta, kehilangan, perubahan keadaan, serta harapan yang dipegang.
Tiga dari keempat buku tersebut, yakni Selesai Tak Usai, Teknologi Bukan Musuh, dan Masa Depan Sastra dan Kecerdasan Buatan, disusun menggunakan bahasa yang sederhana, meski hal yang dibahas memiliki bobot pemikiran berat. Di dalamnya tersaji pembahasan mengenai perubahan sistem kerja, kecerdasan buatan, konsep industri tahap kelima, serta dampak luas yang ditimbulkan bagi dunia kebudayaan.
Bahasa yang dipilih sengaja dibuat cair dan mudah ditangkap, agar masyarakat luas pun dapat mengikuti pembahasan tanpa merasa jauh dari isu yang sebenarnya sangat dekat dengan keseharian.
Menurut pandangan Riri Satria, buku lahir dari perjalanan panjang manusia dalam memahami arti kehidupan. Ada karya yang muncul dari rasa tidak tenang melihat keadaan sekitar, ada pula yang tumbuh dari pencarian makna batin, atau lahir akibat pengalaman gagal, kesepian, rasa cinta, dan pergulatan pribadi. Oleh sebab itu, setiap buku menyimpan rekaman rasa dan pemikiran manusia. Saat seseorang membaca, ia sedang membuka jalan menuju pengalaman orang lain, sekaligus membuka peluang bagi hal baru dalam hidupnya.
Di masa kehadiran kecerdasan buatan dan perubahan sistem digital yang sangat cepat, sebagian pihak mungkin bertanya mengenai kedudukan buku.
Apakah karya tulis masih memiliki tempat? Jawabannya justru semakin diperlukan. Teknologi dapat membantu manusia bekerja lebih cepat, namun buku membantu manusia mengolah pemikiran.
Teknologi memperluas jangkauan informasi, namun buku membantu manusia menyusun pengetahuan menjadi kebijaksanaan. Pada titik inilah kemampuan memahami bacaan menjadi sangat penting, agar manusia tidak hanya menjadi pengguna alat canggih, tetapi juga penentu arah bagi kehidupan bersama dan kemajuan peradaban.












