Bekasi, Veritika.id – Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+) 2026 region Bekasi dan Cikarang menghadirkan sejumlah karya musik dan puisi pada 26–27 September 2026 di Santika Mega City Bekasi Hotel.
Ajang yang digelar Signature Music Academy bersama komponis dan pianis Ananda Sukarlan ini diikuti peserta usia 5–17 tahun dari berbagai kategori instrumen dan vokal klasik, sekaligus menjadi ruang bagi karya penyair lokal untuk diperkenalkan melalui musik, salah satunya puisi “Luna” karya Erna Winarsih Wiyono yang dipilih peserta kategori Tembang Puitik.
Luna
(Erna Winarsih Wiyono)
Luna, Aku jatuh cinta
Sepotong roti dan cangkir ikut tertawa
Pipiku memerah
Ia mengecupku tepat di pukul tiga
Luna
Aku serba salah
Hingga telunjuk kanan tertusuk jarum
Benangnya salah tempat
Luna
Aku bingung
Seperti bunga merekah di waktunya
Intermezo sampai beku
2025
Kunjungan Ananda Sukarlan ke Bekasi tahun ini menjadi yang ketiga melalui kerja sama dengan Signature Music Academy. Komponis yang pernah masuk daftar “100 Asian Most Influential” bidang seni versi Tatler Asia Hong Kong pada 2020 tersebut hadir sebagai bagian dari rangkaian KPN+ region Bekasi dan Cikarang.
Rangkaian kegiatan dimulai Sabtu, 26 September 2026, melalui talkshow bertajuk “A.I.: Ananda’s Insights”. Ananda menjadi narasumber tunggal dengan Fabian Febiano sebagai pembawa acara sekaligus moderator. Fabian merupakan pendiri Signature Music Academy dan mitra penyelenggara KPN+ region Bekasi.
Talkshow tersebut membahas perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta pengaruhnya terhadap musik. Ananda menyoroti sejumlah persoalan yang menurutnya perlu diperhatikan ketika teknologi AI semakin banyak digunakan untuk menghasilkan karya musik.
Menurut Ananda, salah satu persoalan yang patut diwaspadai ialah berkurangnya keaslian gagasan dan ekspresi emosional manusia. AI bekerja berdasarkan pola yang diperoleh dari data pelatihan. Hasil yang muncul dapat terdengar rapi, tetapi berpotensi menghasilkan bentuk musik yang memiliki kemiripan dengan pola yang sudah tersedia.
Kondisi tersebut dapat membuat musik populer semakin mengikuti formula yang sudah sering digunakan. Jika produksi musik lebih banyak diarahkan oleh pola yang disukai algoritma, ruang bagi karya yang lahir dari pengalaman personal, intuisi, serta keputusan artistik manusia dapat semakin sempit.
Persoalan lain yang dibahas ialah jumlah konten buatan AI yang terus bertambah. Platform digital berpotensi dipenuhi karya yang dibuat untuk mengejar perhatian algoritma, sementara musisi manusia harus bersaing dengan jumlah konten yang semakin besar.
Ananda tidak menempatkan AI sebagai teknologi yang harus sepenuhnya ditolak. Ia justru menekankan perlunya aturan yang jelas mengenai sumber data pelatihan, atribusi, kompensasi, serta posisi manusia sebagai pencipta karya.
Puisi “Luna” Dibawa ke Panggung Tembang Puitik
Salah satu bagian yang mendapat sorotan pada KPN+ Bekasi adalah kategori Tembang Puitik. Kategori ini mempertemukan musik vokal dengan karya penyair.
Peserta Tembang Puitik Junior, Sherrina Pingkan Putri Pandeinuwu, memilih karya penyair Bekasi Rissa Churria sekaligus membawakan “Luna” karya Erna Winarsih Wiyono, penyair asal Bogor.
Pilihan terhadap “Luna” memberi warna tersendiri pada ajang tersebut. Puisi karya Erna tidak hanya hadir sebagai teks, tetapi dibawa menjadi materi vokal yang diperkenalkan kepada penonton melalui kategori musik klasik.
Pilihan tersebut juga menunjukkan bahwa peserta tidak hanya mengambil karya dari penyair yang sudah dikenal secara luas. Karya penyair dari Jawa Barat turut menjadi pilihan untuk dibawakan oleh peserta muda.
Ananda menyambut pilihan para peserta Tembang Puitik yang menggunakan karya penyair setempat.
“Saya memang mengajak para vokalis untuk memilih tembang puitik berdasarkan penyair lokal. Jadi ini memperkenalkan karya para penyair kepada pecinta musik klasik yang hadir,” ujar Ananda.
Ia menilai pemilihan puisi Rissa Churria oleh Pingkan merupakan pilihan yang tepat. Menurut Ananda, karya penyair lain dari Jawa Barat juga memiliki tempat yang sesuai untuk dibawa ke panggung musik.
Selain Pingkan, peserta kategori Tembang Puitik Senior, Gracia Evelin Pakpahan, memilih karya “Suara dari Pengungsian” karya penyair kelahiran Cirebon, Nissa Rengganis.
Ananda sendiri dikenal sebagai komponis yang banyak menggarap tembang puitik atau art song, yaitu karya vokal yang menggunakan puisi sebagai sumber teks. Ia telah menciptakan lebih dari 600 tembang puitik berdasarkan puisi berbahasa Inggris, Spanyol, dan Indonesia.
Bekasi dan Piano 4 Tangan
Selain Tembang Puitik, kategori yang mendapat sorotan khusus ialah Piano 4 Tangan atau piano duet. Menurut Ananda, Bekasi menunjukkan perkembangan yang cukup menonjol pada kategori tersebut.
“Ada sesuatu yang istimewa di KPN+ Bekasi ini. Bekasi sudah menjadi pelopor genre piano 4 tangan atau piano duet, dan tahun ini meningkat kualitas dan kuantitasnya,” ujar Ananda.
Menurut Ananda, sejak tahun sebelumnya Signature Music Academy pimpinan Fabian Febiano turut memperkenalkan kategori tersebut. Peserta dari kota lain kemudian mulai mengikuti tren serupa.
Piano 4 tangan pernah menjadi bentuk pertunjukan yang populer di Eropa pada awal abad ke-20. Melalui KPN+, Ananda berharap kategori tersebut kembali mendapat tempat di kalangan pemain piano muda Indonesia.
KPN+ sendiri didirikan Ananda Sukarlan bersama manajernya, Chendra Panatan, sejak 2016. Pada 2026, kompetisi tersebut digelar di 11 kota dan diikuti lebih dari 600 peserta.
Peserta mayoritas berusia 5–17 tahun. Kategori kompetisi juga tidak lagi terbatas pada piano. Penambahan kata “Plus” menunjukkan perluasan peserta ke instrumen lain serta vokal klasik.
Santika Mega City Menjadi Lokasi Penutup
Ada catatan tersendiri pada penyelenggaraan KPN+ Bekasi tahun ini. Kompetisi tersebut menjadi salah satu acara terakhir yang berlangsung di Santika Mega City Bekasi Hotel sebelum hotel tersebut ditutup untuk selamanya.
Hotel yang mulai beroperasi pada September 2016 itu genap berusia sekitar 10 tahun pada September 2026. Karena itu, penyelenggaraan KPN+ pada 26–27 September menjadi bagian dari catatan terakhir kegiatan yang berlangsung di tempat tersebut.
Kompetisi utama berlangsung pada Minggu, 27 September 2026, mulai pukul 10.00 hingga 16.00 WIB.
Para Juara KPN+ Bekasi
Sejumlah peserta KPN+ Bekasi berhak mengikuti babak Grand Final di Jakarta pada 11–13 Desember 2026. Berikut daftar peserta yang memperoleh posisi juara pada kategori masing-masing:
USIA DINI B
Juara 3:
- Dunstan Keivel Estyar Waradana
- Hope Valencia Tendean
- Elnathan Marcello Hariandja
USIA DINI C
Juara 2:
- Putu Lavanya Gita Anindya
Juara 3:
- Emilia Mireilla Lagamia
- Oliver Reynand Johanson
PEMULA B
Juara 2:
- Violin Maleakhi Handoko
Juara 3:
- Yosafat Elvan Prasetyo
PEMULA C
Juara 1:
- Denzel Aiden Woen
- Faith Jillian Tendean
- Diandra Sirmusta Kaolan
Juara 2:
- Damianus Krishna Estyar Waradana
- Patrisius Aldrian Prasetyo
Juara 3:
- Genoveva Prameshwari Niratmaka
- Ayesha Amanar Noor Zaide Prabowo
MENENGAH B
Juara 1:
- Olivia Lauren Adaratana
MENENGAH C
Juara 3:
- Axelle Dimaz Khan R
LANJUTAN C
Juara 3:
- Rais Azzam
TEMBANG PUITIK JUNIOR
Juara 1:
- Sherrina Pingkan Putri Pandeinuwu
TEMBANG PUITIK SENIOR
Juara 1:
- Gracia Evelin Pakpahan
PIANO 4 TANGAN
Juara 1:
- Bernardinus Enosh Wicaksana & Axelle Dimaz Khan R
- Marcella Wiranata & Theresia Wiswidianingsih
Juara 2:
- M. Queensha Allexandrina Bentoni & Aurelia Angeline Arief Tanubrata
Juara 3:
- Benedict Darmajaya & Emilia Latisha Ayra Sariwijaya
- Joseph Ondihon Noel Hutasoit & Jonathan Unedo Olivier Hutasoit
- Matthew Carlo Joverson & Nicholas Christory Joverson
Dua Kota Masih Membuka Pendaftaran
Rangkaian KPN+ 2026 masih berlanjut di Pulau Jawa. Pendaftaran masih tersedia untuk dua wilayah, yaitu Salatiga dan Surabaya.
KPN+ Salatiga dijadwalkan berlangsung pada 25 Oktober 2026 di Gedung Resital Universitas Kristen Satya Wacana, sedangkan KPN+ Surabaya akan digelar pada 7 November 2026 di Amadeo Hall.
Kehadiran puisi “Luna” karya Erna Winarsih Wiyono melalui kategori Tembang Puitik menjadi salah satu contoh pertemuan antara karya sastra daerah dan musik klasik. Dari panggung kompetisi, karya penyair lokal memperoleh ruang untuk didengar oleh peserta, orang tua, pengajar, dan penonton yang hadir.
Bagi Bekasi, KPN+ 2026 juga mencatat perkembangan kategori Piano 4 Tangan yang semakin banyak diminati. Dua hal tersebut menunjukkan bahwa kompetisi musik tidak hanya berisi persaingan antarpeserta, tetapi juga dapat menjadi tempat bertemunya karya, pengajar, penyair, komponis, dan generasi muda yang sedang belajar musik.












